Sabtu, 17 November 2018 07:46 WIB
pmk

Nusantara

Cerita Saksi Mata Lihat Ambruknya Ruko Akibat Gempa 6,2 SR

Redaktur:

Ruko yang ambruk di komplek pertokoan Cakranegara Mataram Lombok setelah dihajar gempa Kamis siang. (angger bondan)

INDOPOS.CO.ID - Wilayah Lombok masih dihantui gempa-gempa susulan. Kekuatannya relatif tinggi dan menggegerkan warga setempat. Rasa trauma benar-benar merusak psikologis mereka.

Alasannya, tiga gempa besar menghajar Lombok berturut-turut. Mulai gempa berkekuatan 6,5 SR pada Minggu pagi (29/7/2018), gempa 7 SR pada Minggu malam (5/8/2018), gempa 7 SR pada Minggu malam (5/8/2018). Terakhir gempa 6,2 SR pada Kamis siang (9/8/2018).

Salah seorang saksi mata, Rusdin mengaku gempa berkekuatan 6,2 SR pada Kamis siang itu membuat dirinya yang sudah trauma, bertambah trauma.

Ia menuturkan, ketika bumi mulai bergoyang pada pukul 12.25 WIB, ia pun langsung berlari sekencang-kencangnya. Tujuannya bisa segera menjauh ruko yang mendadak ambruk persis di belakang lapak tambal ban miliknya.

"Saya sempat menoleh ke belakang dan melihat ada orang yang tertimpa reruntuhan bangunan," kenang Rusdin di Mataram Lombok, Jumat (10/8/2018).

Memang lapak tambal bannya berlokasi di komplek ruko Cakranegara Mataram Lombok Nusa Tenggara Barat NTB. Akibat guncangan gempa Kamis siang itu, tercatat ada 24 korban luka parah.

Menurut Rusdin, goncangan lumayan keras. Maklum kekuatannya 6,3 Skala Ritcher (SR).

Di berbagai sudut Mataram, orang berhamburan keluar dari bangunan. Dalam sekejap pula gempa tersebut kembali membuat kota tegang. Setegang-tegangnya. Mataram pun berubah seperti kota mati.

Di ruko yang runtuh di Cakranegara tersebut, satu di antara dua karyawan Citra Travel yang berkantor di sana meninggal dunia. Namanya Ernawati. Almarhumah yang berusia 42 tahun itu meninggalkan dua anak.

Nasib nahas juga dialami Zulhadi. Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Mataram tersebut tewas tertimpa reruntuhan akibat gempa susulan kemarin.

Reruntuhan ruko di Cakranegara juga menimpa sebuah mobil dan delapan sepeda motor. Di tempat yang berbeda, gempa juga meluluhlantakkan bangunan di simpang lima Kota Tua Ampenan. Namun untung, saat bangunan itu runtuh, tidak ada orang di dalamnya.

Gedung Pascasarjana Universitas Mataram pun turut menjadi korban. Kerusakan juga terlihat di berbagai bangunan lain, termasuk rumah warga. Seorang warga Sigerongan, Lombok Barat, yang bernama Sarafudin juga meninggal gara-gara tertimpa reruntuhan rumah.

"Saya imbau masyarakat untuk kembali ke tenda pengungsian lebih dahulu. Tapi, sebelum meninggalkan rumah, pastikan semua terkunci dengan baik," kata Wakil Walikota Mataram Haji Mohan Roliskana.

Mohan juga mengingatkan para pedagang terpal. Belakangan merebak kabar bahwa mereka memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga setelah melihat antusiasme masyarakat untuk membeli terpal buat tenda.

"Saya ingatkan, jangan sekali-kali melakukan itu. Kalau tidak, saya yang akan turun langsung ke toko itu," tandas Mohan. (zad/lyn/jpg/ind)


TOPIK BERITA TERKAIT: #gempa-lombok #gempa-gempa-susulan #ambruknya-ruko 

Berita Terkait

CBA Minta Pemerintah Tidak PHP Korban Gempa Lombok

Nasional

Gelar Acara Mewah, PHP Korban Gempa

Nasional

Kemensos Kehabisan Dana untuk Lombok

Headline

200 Unit Rumah Tahan Gempa Dibangun di Lombok

Nasional

Gerindra Pertanyakan Kelanjutan Bantuan Gempa Lombok

Nasional

IKLAN