Selasa, 20 November 2018 05:18 WIB
pmk

Politik

Jokowi-KH Ma'ruf Amin Hindari Indonesia Jatuh Menjadi Negeri “Pencari Nafkah”

Redaktur:

ISMAIL POHAN/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID- Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengapresiasi langkah Presiden Joko Widodo memilih KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden.

"Pilihan terhadap KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi merupakan bentuk penghargaan kepada Nahdlatul Ulama dan ulama. Ansor mengapresiasi pilihan Pak Jokowi," kata Gus Yaqut, Jumat (9/8).

Menurut Gus Yaqut, pasangan Jokowi dan KH Ma'ruf Amin representasi nasionalis religius. Kombinasi nasionalis religius merupakan pilihan mayoritas masyarakat Indonesia.

"Nasionalis religius ini kombinasi ideal. Menjawab semua ekspektasi masyarakat. Sudah cocok," ujar Gus Yaqut.

Kiai Ma'ruf, lanjut Gus Yaqut, membuat NU solid. Dia menilai, memilih Kiai Ma'ruf sebagai cawapres, sebagai langkah cerdas jokowi.

"Jelas NU solid karena Kiai, Ulama, terpilih sebagai cawapres. Bagi warga NU ini kebanggaan, sebab itu NU tidak bergeser ke mana pun," imbuh dia.

Soal kecemasan dipilihnya KH Ma'ruf Amin tidak mewakili kalangan milenial dan kelas menengah, kata Gus Yaqut, janhan perlu dirisaukan.

Katena, NU memiliki banyak badan otonom di mana anggota mereka berasal dari kalangan muda, seperti Gerakan Pemuda Ansor, Fatayat, PMII, IPNU/IPPNU dapat menjadi jembatan komunikasi ke kelompok milenial dan kelas menengah.

"Banom-banom NU dengan anggota anak-anak muda seperti Ansor, Fatayat, PMII, IPNU/IPPNU, bisa jadi jembatan efektif mengkomunikasi ide-ide Kiai Ma'ruf dan memperkenalkan beliau. Apalagi beliau terkenal sebagai seorang muslim moderat, tentu sudah mengenal baik kalangan menengah dan masyarakat lainnya, mayoritas muslim Indonesia," papar Gus Yaqut mengakhiri.

Terpenting, menurut Gus Yaqut, dengan tampil Kiai Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi, memberikan harapan dalam mencegah dan mematikan para makelar politik dan kumpulan para "pencari nafkah" di negeri ini.

"Menghindarkan negara dari kumpulan para "pencari nafkah" dengan niat mengambil keuntungan pribadi atau kelompok dengan memainkan proyek-proyek negara melalui instrumen politik. Kami ingin Indonesia ini bebas dari para "pencari nafkah". Jokowi terkenal bersih mendapat teman serasi untuk memutus mata rantai tersebut, demi menyejahterakan rakyat," papar dia. (rej)


TOPIK BERITA TERKAIT: #pilpres-2019 #jokowi 

Berita Terkait

IKLAN