Kamis, 15 November 2018 10:15 WIB
pmk

Headline

Isu Ekonomi, Dua Kandidat Imbang

Redaktur:

Ismail Pohan/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Dua pasangan kandidat yang berkompetisi pada pemilihan presiden (pilpres) 2019, memiliki peta kekuatan masing-masing. Namun, dalam tataran isu ekonomi, pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dan Probowo Subianto-Sanidiaga Solahudin Uno, bisa dikatakan berimbang.  

Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia (EconAct Indonesia), Ronny P Sasmita mengatakan, kedua pasangan memiliki kekuatan tersendiri, tinggal bagaimana kedua pasangan itu menawarkan kepada rakyat Indonesia. "Secara isu ekonomi saya pikir bisa imbang," ujarnya kepada INDOPOS saat dihubung, Jumat (10/8).

Menurutnya, kedua pasangan tentu memiliki kekuatan masing-masing yang bisa dijadikan senjata dalam kampanye nantinya. Untuk pasangan Jokowi-KH Ma’aruf Amin, lebih mengindikasikan dalam masa pemerintahannya jika terpilih nanti, ingin menciptakan kestabilan politik.

"Bagi Jokowi, perekonomian hari ini sudah 'on the track' dan memerlukan kedamaian politik untuk menjaganya. Sehingga kehadiran Ma'ruf dianggap sebagai jawaban itu," ungkapnya.

Sementara dari pasangan Prabowo-Sandiaga, sambung Ronny, mengindikasikan akan melakukan reformasi kebijakan ekonomi. Itu karena, mereka menganggap, selama ini ekonomi Indonesia berada di jalan yang salah. "Sehingga memilih wakil yang paham tentang ekonomi adalah pilihan yang sesuai dengan platform politik Prabowo," kata Ronny.

Dari sisi daya gedor ekonomi, lanjutnya, kubu Jokowi mungkin akan berkurang. Yang ada hanya kelegaan atas prospek stabilitas politik bisa menenangkan pasar. Masalahnya, sampai saat ini pasar belum bisa diprediksi apakah puas dengan kestabilan politik cukup untuk menjaga investasi atau butuh terobosan baru.

Sementara itu, masih menurut Ronny, prospek ekonomi dari kubu Prabowo-Sandi bisa jadi lebih kuat. Ini lebih karena kehadiran Sandiaga memiliki element of suprise dari Prabowo. "Karena ada Sandi yang punya sejarah di pasar modal, punya nama di lingkungan dunia usaha, dan sudah mulai membuktikan sepak terjang politiknya di pilkada Jakarta tempo hari. Sehingga secara ekonomi, Sandi tampaknya membawa aura baru bagi Prabowo, terutama soal prospek ekonomi Indonesia jika mereka menang," paparnya.

Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah, Adi Prayitno mengungkapkan, Ma'ruf punya banyak kelebihan antara lain, merepresentasikan tokoh ulama Islam, yang memiliki warna Islam yang cukup kentara.

"Sisi lemah yang tidak dimiliki Jokowi," ucapnya saat dihubungi, Jumat (10/8).

Selain itu, Adi melihat, Ma'ruf juga punya pengalaman politik yang cukup panjang, dari anggota DPRD, DPR, sampai MPR. Pernah aktif di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan juga Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). "Ketika Ma'ruf Amin dipilih semua partai politik, semua bahagia. Peluk-pelukan, puas, plong," kata Adi.

Sedangkan kelebihan Jokowi, terangnya, tentu saja adalah posisinya yang merupakan calon presiden petahana. Sementara, Ma'ruf memiliki setidaknya dua kelemahan yaitu elektabilitas dan usia yang sudah sepuh. "Elektabiitas cukup rendah. Banyak teman-teman dari lembaga survei tidak menyertakan nama Kiai Ma'ruf. Beliau tidak masuk dalam radar survei," urainya.

Menurut Adi, pemilihan Ma'ruf itu bagian dari upaya kubu Jokowi dalam mengantsipasi isu Islamisme dan menguatnya politik identitas. Mereka tidak melihat sisi elektabilitas."Masalah elektabilitas ini nanti bisa diatasi dengan memanfaatkan momentum kampanye. Tapi tetap itu bukan perkara gampang," kata dia.

Dia menjelaskan, kedua adalah umur. Slogan yang disampaikan Jokowi adalah soal kerja dan citra yang dibangun adalah Indonesia kerja. Di tengah upayanya melanjutkan kabinet kerja jilid dua, dipilihnya Ma'ruf memiliki kendala umur.

"Ini kendala alamiah. Siapapun, bukan hanya Kiai Ma'ruf. Apalagi Pak Jokowi suka blusukan butuh stamina. Jadi cukup mengkhawatirkan," ujarnya.

Adi juga melihat, pasangan Prabowo-Sandi memiliki banyak kelemahan. Pertama, keduanya berasal dari parpol yang sama. Hal ini membuat PKS dan PAN tidak nyaman meskipun akhirnya menerima.

"Ada sesuatu yang belum selesai. Persepsi publik hambar karena capres dan cawapresnya berasal dari parpol yang sama. Padahal mereka butuh figur alternatif," jelasnya, seraya menyatakan, kelemahan kedua adalah, elektabilitas Sandi. Selama ini, nama Wakil Gubernur DKI Jakarta itu tidak pernah muncul sebagai calon wakil presiden.

Sementara, pengamat politik dari Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam mengatakan, pilihan cawapres Jokowi yang jatuh pada KH Ma`ruf Amin menunjukkan apresiasi, sikap respek, sekaligus ketergantungan yang besar dari kalangan nasionalis terhadap gerbong Islam moderat di Indonesia.

"Pasangan ini mengembalikan memori publik tentang soliditas barisan nasionalis dan kaum santri yang seringkali menjadi penentu dalam setiap babak penting sejarah kenegaraan bangsa Indonesia," kata Umam kepada wartawan di Jakarta, Jumat (10/8).

Pilihan kepada KH Ma`ruf Amin juga, sambung Khoirul, mengindikasikan kelompok nasionalis, sekalipun memiliki kinerja pemerintahan yang cukup baik, masih tetap mengidap 'inferiority-complex' dan defisit kepercayaan diri saat berhadapan dengan kekuatan politik Islam konservatif.

Dengan memilih Ma`ruf, lanjutnya, PDIP lebih leluasa untuk mengatur ritme politik nasional di era 2024-2029. Ma`ruf bukan ancaman untuk menjadi patron baru dalam pilpres 2024. "Peta 2024 akan tetap cair karena tidak ada 'macan baru' yang punya elektoral kuat dalam politik nasional," kata doktor ilmu politik lulusan University of Queensland, Australia itu.

Ma`ruf, kata Khoirul, murni akan diposisikan sebagai simbol dan bamper kekuasaan untuk menetralisir serangan bernuansa identitas, SARA dan primordial. "Jika terpilih dua periode, efektivitas pemerintahan Jokowi-Ma`ruf akan tertumpu pada Jokowi seorang," tukasnya.

Pengamat Politik Universitas Airlangga Surabaya, Airlangga Pribadi juga menilai serupa. "Pemilihan Ma'ruf Amin dalam pertimbangan Jokowi adalah selain dari kalangan santri, tapi juga yang bisa menepis isu SARA karena merupakan kiai yang dihormati," kata Airlangga, Jumat (10/8).

Pertimbangan Jokowi itu, menurutnya, disebabkan oleh eskalasi politik SARA yang menguat seperti pada pilkada DKI Jakarta. Jokowi melihat isu SARA akan diputar kembali pada pilpres 2019. Jika dilihat dari suara aspirasi di kalangan bawah, pemilihan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut cukup mengejutkan. Sebab suara publik cenderung ke Jokowi-Machfud MD. Meski begitu, pemilihan Ma'ruf Amin merupakan kesalahan strategi dari Jokowi dalam memilih pasangan.

"'Blunder' karena setelah mengambil Ma'ruf Amin pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno tidak menggunakan isu SARA sebagai strategi utama dalam kampanye dan lebih cenderung pada penguatan agenda-agenda yang bisa mengatasi krisis, problem kedaulatan dan ekonomi," tuturnya.

Airlangga menyebut, akan menjadi persoalan serius bagi Jokowi dan timnya jika tidak ada lagi isu SARA. Posisi Ma'ruf dipandang belum siap saat menghadapi proses debat capres-cawapres terutama saat membahas masalah lain di luar agama. "Boleh dibilang Jokowi-Ma'ruf Amin melemahkan sebagian loyalis Jokowi yang mengunggulkan isu demokrasi, pluralitas dan kesetaraan. Catatan rekam Ma'ruf Amin sendiri berbeda dengan aspirasi dan harapan pendukung Jokowi," tukasnya.

Berbeda, pengamat Ekonomi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Fajar B Hirawan. Dia menguraikan, pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin menjadi sosok yang paling ditunggu oleh pasar keuangan. "Jokowi-MA merupakan kombinasi sempurna antara ekonomi pasar dan ekonomi syariah yang berbasiskan umat," kata Fajar saat dihubungi, Jumat (10/8).

Dia mengungkapkan, Jokowi terkenal sebagai sosok yang terbuka terhadap pasar global, sedangkan Ma'ruf Amin merupakan tokoh ekonomi syariah yang mengedepankan peran koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia. "Kombinasi di antara keduanya dapat saling melengkapi guna mewujudkan ekonomi Pancasila secara utuh dan komprehensif," jelas dia.

Sementara pasangan Prabowo-Sandiaga, Fajar menilai, tidak terlalu friendly dengan pasar luar negeri dan lebih cenderung domestik. Posisi ini, menunjukkan sikap populis dari keduanya tanpa mempertimbangkan perkembangan pasar dan perubahan geopolitik yang terjadi.

"Hal ini cukup bertolak belakang dari peran mereka sebagai pengusaha sebelumnya yang seharusnya lebih friendly dengan pasar dalam dan luar negeri," tandasnya.

Pengamat Politik Universitas Riau (UR), Saiman Pakpahan menampiknya. Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga diprediksi akan mendapatkan tempat yang lebih banyak bagi masyarakat khususnya di Riau. "Sama-sama kita ketahui, Sandiaga Uno merupakan putera kelahiran Pekanbaru, Riau. Sandiaga lahir di Rumbai," katanya saat dihubungi, Jumat (10/8).

Saiman menambahkan, isu kedaerahan ini akan menjadi variabel yang memperkuat sentimen pemilih di Riau. Ditambah lagi, lawannya, wakilnya Jokowi kurang begitu dkenal publik. Masyarakat tidak memiliki romantisme apapun dengan wakilnya.

"Kecuali masyarakat menengah sipil menengah keatas yang membaca riwayat hidupnya, baru ketahuan, yang bersangkutan pernah menjabat sebagai anggota DPR, MPR dan MUI," ujarnya.

Saiman menilai, sentimen kedaearah, masih menjadi isu yang menarik yang lebih gampang di jual oleh pasangan yang maju di pilpres. Kemudian, pro kontra terhadap Jokowi yang belakangan muncul juga luar biasa. Misalnya, munculnya jargon-jargon 2019 ganti presiden dan lainya sebagainya. Ini akan semakin memperburuk pilres.

Pengamat politik dari Universitas Jenderal Ahmad Yani, Arlan Sidha menilai, tidak mudah bagi kubu Prabowo-Sandiaga Uno untuk melawan petahana dengan jumlah partai yang gemuk. Perlu strategi yang sangan terukur apalagi posisi Jokowi-Ma'ruf Amin adalah komposisi komplit beberapa partai seperti PDIP, NasDem dan Golkar yang sangat mewakili barisan nasionalis serta PPP dan PKB yang mewakili kalangan religius.

"Hal ini memudahkan mereka diterima oleh pesantren dan tokoh ulama. Ditambah penguasaan media oleh beberapa partai sangat bisa membantu Jokowi-Ma'ruf Amin untuk terus di-branding dalam media. Apalagi jika muatan logistik yang besar dimiliki juga oleh petahana," kata Arlan, kemarin.

Namun, ujar Arlan, di sisi lain, kubu oposis diuntungkan dengan kehadiran PKS yang militansi hingga perjuangan kadernya bisa hidup sampai akar rumput. Peluang ini harus bisa dimanfaatkan betul. "Sementara bergabungnya Demokrat bisa membantu daya gedor terutama ketokohan SBY. Kesulitan oposisi adalah posisi tawar petahana yang memiliki ulama. Ini akan sangat mudah dikenal bahwa petahana sarat akan keseimbangan nasionalis dan religius," ucap dia.

Adapun branding post-Islamisme atau santri modern yang disematkan PKS terhadap Sandi, kata Arlan, untuk mengimbangi kebutuhan figur religius dirasa terlalu dipaksakan. Karena, beberapa masyarakat di Indonesia akan sulit mengenal istilah tersebut.

"Perlu strategi lain untuk menjawab hal tersebut. Saya pikir pola pendekatan program bisa lebih dipahami ketimbang melebeli seseorang dengan bahasa yang sulit dipahami di akar rumput," kata dia.

Arlan pun menilai, pertandingan ini akan sulit dirasakan di kelas menengah namun berada di akar rumput pemilih tradisional. "Dan pemilih milenial yang sebisa mungkin harus bisa diraih karena jumlah mereka sangatlah besar," tutupnya. (aen)


TOPIK BERITA TERKAIT: #pilpres-2019 #pemilu-2019 

Berita Terkait

IKLAN