Selasa, 13 November 2018 10:32 WIB
pmk

Headline

Prabowo-Sandi Unggul di Berbagai Polling

Redaktur:

BALAP KARUNG CAPRES-CAWAPRES - Musim pilpres 2019 ternyata ikut mewarnai lomba dalam rangka rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-73. Sejumlah tokoh nasional, khususnya dua pasangan capres dan cawapres ikut lomba balap karung yang digelar di Car Free Day jalan Slamet Riyadi, Solo, Minggu (12/8). Ups, ternyata, yang ikut lomba hanya topengnya. Dalam aksi balapan ini, warga yang menjadi peserta harus mengenakan topeng yang mewakili sejumlah tokoh nasional. DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO

INDOPOS.CO.ID -  Setelah kedua pasangan capres-cawapres resmi mendaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU), berbagai poling atau jajak pendapat di media sosial pun dibuka. Beberapa diantaranya, akun resmi Iwan Fals dan Indonesia Lawyer Club (ILC). Menariknya, berbagai poling tersebut ‘dikuasai’ pasangan Prabowo subianto-Sandiaha S Uno.

Di akun Twitter-nya yang terverifikasi @iwanfals, penyanyi Iwan Fals membuat voting tersebut pada Jumat (10/8/2018) lalu. Ia menyingkat Jokowi-Ma'ruf Amin dengan kata 'JokMar'. Sementara Prabowo-Sandiaga disingkat menjadi 'PraSan'. Sekitar pukul 19.00 WIB, Iwan Fals mengumumkan kalau hasil sementara ternyata Prabowo-Sandiaga unggul dalam voting tersebut. "Wuiiih sementara PraSan jauh meninggalkan JokMar,” tulis Iwan Fals.

Hingga pukul 19.30, di hari yang sama,  akhirnya dari total jumlah netizen yang berpartisipasi sebanyak 30.275 orang, pasangan Prabowo-Sandiaga unggul dengan 68 persen dukungan. Sementara Jokowi-Ma'ruf Amin memperoleh 26 persen suara.

Sontak saja,  polling yang dilakukan oleh musisi yang sebelumnya dikenal sebagai pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok-Djarot Saiful Hidayat pada Pilkada DKI Jakarta ini menuai pendapat beragam dari sejumlah pengamat politik.  Agus Riewanto misalnya. Pakar politik dan  hukum tata negara Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah ini berpendapat, KH Ma'ruf Amin yang dijadikan wapres oleh Jokowi, menjadi faktor unggulnya suara Prabowo-Sandi.

"Ada tiga hal yang membuat para pendukung Jokowi yang notabene pendukung Ahok di Pilkada DKI, menolak pasangan itu," kata Agus kepada INDOPOS melalui hubungan telepon,  Minggu (12/8/2018).

Pertama, menurut Agus, kesalahan tim Jokowi memilih Cawapres yang cenderung konservatif dan tidak cukup markatable di kalangan pemilih mileneal. "Dan juga sulit diterima oleh sebagian pendukung Jokowi selama ini,"  ujarnya.

Ia menilai,  publik pendukung Jokowi terlihat kecewa bahwa majunya KH Ma'ruf Amin karena peran PKB dan PPP.  "Sehingga publik melihat Jokowi lebih tersandera oleh partai koalisi kedua partai itu dan tidak memerhatikan pilihan masyarakat atau partai lainnya. Terlebih PPP dan PKB dengan terang-terangan kepada wartawan mengaku paling berjasa atas majunya KH Ma'ruf Amin," terangnya.

Poin ketiga yang membuat para pendukung Jokowi mengalihkan dukungannya adalah memilih KH Ma'ruf Amin, hanya karena ingin meredam dan menarik simpati kalangan religius.  "Jokowi terkesan terlalu takut pada kelompok Islam pendukung aksi 212, sehingga terpaksa memilih Cawapres dari NU. Padahal pilihan itu bagi saya tidak juga terlalu berefek menarik suara alumni 212 itu," ujarnya.

Jadi,  lanjutnya,  wajar hingga kemudian suara pendukung Jokowi menurun,  dan suara pendukung Prabowo-Sandiaga tetap solid. "Ini efek negatif untuk Jokowi. Sedangkan untuk dukungan terhadap Prabowo tetap solid,  meski pilihan cawapresnya bukan berdasar dari Ijtima Ulama,"  tegasnya.

Pendapat berbeda diutarakan pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina,  Jakarta,  Hendri Satrio.  Ia menjelaskan, polling yang dilakukan oleh Iwan Fals di awal deklarasi pasangan capres-cawapres belum menunjukkan perubahan signifikan dari pendukung Jokowi.

"Itu polling sangat awal. Sehingga para pendukung Jokowi yang sebagian besar ahoker belum mendapat penjelasan utuh dari Jokowi. Jadi mungkin saja berjalannya waktu pilihan ahoker tetap kepada Jokowi," ujarnya kepada INDOPOS.

Meski begitu, lanjut Hendri,  dirinya mengakui bahwa geliat pendukung Prabowo-Sandi lebih cepat dibanding pendukung Jokowi-Ma'ruf di media sosial.

"Fenomena keunggulan Prabowo di polling saat ini tak lebih dari kelincahan jari-jari tangan pendukung Prabowo dalam memberikan dukungan. Sementara pendukung Jokowi lebih pasif atau terlambat panas mesin pendukungnya Jokowi," ujarnya.

Sementara,  Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni menegaskan, polling yang dilakukan oleh Iwan Fals dan ILC tidak menggambarkan realitas di lapangan.

"Saya tetap optimistis dukungan terhadap Jokowi lebih besar dari hanya sekadar polling. Karena yang saya tahu kubu sebelah (Prabowo-Sandi) memang sengaja dikerahkan untuk memenangkan polling untuk menciptakan bahwa mereka lebih unggul," cetusnya kepada INDOPOS.

Lebih lanjut,  Raja mengatakan, tim pemenangan akan bekerja maksimal di sisa waktu hingga April 2019. "Karena pilpres masih lama. Jadi kami yakin, bisa menggerakan mesin partai pendukung lebih optimal," tambahnya.

Sebelumnya, akun Twitter resmi ILC juga membuat poling Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandiaga pilihan netizen. Di poling tersebut, akun Indonesia Lawyers Club @ILC_tvOnenews memberikan tiga pilihan kepada netizen.

Ketiga pilihat tersebut yakni pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf Amin, Prabowo-Sandiaga, dan Tidak memilih alias golput.

Akun tersebut juga menandari akun Twitter milik Karni Ilyas, yang kemudian diposting ulang oleh pembawa acara ILC tersebut.

"Saat ini siapa yg anda pilih? @karniilyas," tulisnya Kamis (10/8/2018).

Hasilnya, pasangan Prabowo-Sandiaga yang paling banyak dipilih oleh netizen dibandingkan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Poling yang dibuka sejak 10 Agustus 2018 itu, berhasil menarik minat 110.259 warganet untuk memberikan pendapatnya. Dari jumlah tersebut, Prabowo-Sandi unggul sebesar 63 persen. Sementara Jokowi-Ma’ruf Amin 26 persen, dan yang tidak memilih atau golput sebesar 11%. Poling di Twitter tersebut pun kini telah berakhir.  (dil)


TOPIK BERITA TERKAIT: #menuju-istana-presiden #pilpres-2019 

Berita Terkait

IKLAN