Kamis, 20 September 2018 09:50 WIB
pmk

Nusantara

Gara-gara Utang Rp 1,6 Juta, Sekeluarga Dibakar hingga Tewas

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Perilaku bandar narkoba di negara ini sudah keterlaluan biadabnya. Buktinya satu keluarga di Makassar Sulawesi Selatan tewas terpanggang hidup-hidup lantaran dibakar anggota sindikat narkoba.

Peristiwa tragis itu terjadi di  Jalan Tinumbu  Lorong Nomor 166B Kelurahan Pannampu Kecamatan Tallo Makassar pada Senin dini hari (13/8/2018) pukul 03.30 WITA. Aksi biadab yang dilakukan para pelaku menewaskan enam anggota keluarga di rumah itu. Otak aksi biadab ini diduga bos narkoba yang sedang mendekam di sebuah Lembaga Pemasyakatan di Makassar.

Ayah salah seorang korban yang bernama Amir mengatakan enam anggota keluarganya termasuk saudara ipar dan dua keponakan berikut anak kandungnya sendiri yang bernama Ahmad Fahri menjadi korban dalam kebakaran itu. Ia menuturkan,api muncul  pertama kali berasal dari meja dan gabus yang berada di luar pagar rumah mertuanya tersebut. Api yang langsung membesar turut membakar kios jualan yang berada di dalam rumah.

"Jadi, bukan karena korsleting," papar Amir di lokasi kejadian, Senin (13/8/2018).

Ia pun meyakini meja dan gabus sengaja dibakar pelaku. Apalagi, beberapa jam sebelumnya, ada dua orang mencurigakan yang datang kerumah mertuanya itu. Keduanya berboncengan mengendarai motor.

"Sekitar pukul 01.00 (dini hari), mereka datang dan membawa seperti senjata rakitan papporo.  Mereka ingin bertemu anak saya (Ahmad Fahri) untuk menagih utang sebesar Rp 1,6 juta. Tapi dua orang itu kemudian pulang," terangnya.

Sebelumnya, pada Sabtu malam (4/8/2018), menurutnya ada puluhan orang bersepeda motor juga datang mencari Ahmad Fahri. Bahkan, anaknya itu sempat dikeroyok. Setelah kejadian itu, Fahri memilih menginap di rumah kakek dan neneknya.

Namun pelaku yang diduga adalah geng narkoba tak kenal lelah  memburu Ahmad Fahri. Buktinya, meski sudah mengungsi ke rumah kakek dan neneknya (mertua Amir) di Jalan Tinumbu Makassar. Mereka tetap datang mencari. "Ketika kebakaran, anakku itu (Ahmad Fahri) baru menginap dua hari," lontar Amir.

Masih di lokasi kejadian, menantu Amir yang bernama Hijriana menuturkan ketika api sedang berkobar kencang ia  sempat menghubungi ponsel saudaranya yang bernama Namira Ramadani yang saat itu sedang berada di dalam rumah yang terbakar. "Sempat tersambung, tetapi hanya suara minta tolong. Kemudian sudah tidak ada suara lagi," tuturnya lirih.

Setelah api yang meludeskan tiga rumah itu dapat dikuasai petugas Dinas Damkar Makassar, penyisiran dilakukan. Tiga korban tewas ditemukan di lantai 1. Dua di antaranya, yaitu Kakek Sanusi dan Namira, saling berpelukan di depan kamar mandi. "Kalau mayat Ahmad Fahri ditemukan di lantai 1 juga, tapi terpisah," ujar Fatma, 23, keluarga korban.

Tiga lainnya meninggal di dekat tangga lantai 2, juga dalam kondisi berpelukan. Yaitu, korban Nenek Bondeng dan Musdalifa serta Hijas.

Ketika api berkobar, sejumlah warga melihat sesosok pria yang awalnya diduga Ahmad Fahri. Melompat dari jendela saat api mulai berkobar. Namun, belakangan Ahmad Fahri ditemukan tewas.

Sementara itu,  Kabid Pencegahan BNN Sulsel Jamaluddin mengaku sangat terkejut mengetahui peristiwa itu. Menurutnya perilaku kartel narkoba memang tidak pernah segan dalam melakuka pembunuhan. Menurutnya wilayah Sulawesi Selatan memang sudah benar-benar darurat narkoba. "Sulsel ini sudah masuk kategori darurat narkoba," tandasnya.

Dari informasi yang diperoleh, diketahui kalau Ahmad Fahri diduga memiliki utang penjualan narkoba kepada salah seorang bandar narkoba di Makassar bernama Daeng Ampuh. Saat ini yang bersangkutan sedang mendekam di dalam penjara dalam kasus peredaran narkoba. Diduga lantaran tak kunjung melunasi utang-utangnya, membuat bandar tersebut memerintahkan puluhan anak buahnya untuk mencari  dan menemukan Fahri dan membunuhnya. 

Ada enam korban meninggal, masing-masing pasangan suami isteri H Sanusi, 75, dan Hj Bondeng, 70, anak mereka yang bernama Ahmad Fahri, 40, dan isterinya yang bernama Hj Musdalifa, 30, serta dua anak Fahril yang bernama Namira Ramadani, 20, dan Hijas yang baru berumur 2,5 tahun. (edy/ridwan/jpg/ind)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kriminal #narkoba 

Berita Terkait

Sepekan Dua Tewas, Pelajar Bogor Buat Sajam untuk Tawuran

Megapolitan

Polri Tahan Lima Tersangka Pelaku Human Trafficking

Nasional

Duh, Oknum PNS Ini Embat HP

Nusantara

Pegawai BNI Kuras ATM Nasabah

Banten Raya

Ozzy Albar Terciduk Kantongi Ganja

Indotainment

Kota Tangerang Ranking Satu Narkoba

Banten Raya

IKLAN