Jumat, 21 September 2018 09:20 WIB
pmk

Fashion

Kreasi Tenun Khas Indonesia

Redaktur:

ETNIK-Kreasi tenun Toraja, Mamasa, Adonara, dan Lembata dipamerkan di Pameran Wastra Asia di Museum Tekstil Jakarta selama sebulan penuh dari tanggal 9 Agustus-9 September mendatang.  Foto: JOESVICAR IQBAL/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta bermitra dengan Torajamelo dan Wastra Indonesia  menampilkan koleksi kain tenun dari tiga provinsi di Indonesia. Kain tenun Toraja dan Mamasa (Sulawesi), serta tenun dan Adonara dan Lembata (Nusa Tenggara Timur (NTT) dipamerkan di Pameran Wastra Asia di Museum Tekstil, Jakarta Barat, 9 Agustus-9 September mendatang.

Kain tenun itu berasal dari kreasi ibu-ibu miskin di kabupaten tersebut. Torajamelo berinsiatif untuk meningkatkan perekonomian perempuan disana agar lebih berdaya.

Pendiri Torajamelo Diana Iriana Jusuf menuturkan, kain tenun dari Adonara, Lembata NTT dan Toraja, Mamasa memiliki motif sendiri yang berbeda-beda. Bahkan, setiap keluarga memilki ciri khas dan warna kain yang berbeda.

"Kalau untuk tenun Adonara mengambil warna dari alam," jelasnya dalam kegiatan bertajuk "Menenun Cerita Indonesia" itu. Diana menambahkan, ada setidaknya 15 warna yang diambil penenun langsung dari warna alam. 

"Kita lihat disana seperti gunung, pepohonan, dan serat kayu. Mereka pun menggunakan apa yang ada dialam untuk dijadikan pewarna kain tenun mereka. Makanya sangat khas,"  ungkapnya.

Kalau kain Lembata ada kombinasi tenun dengan ikat. "Warnanya cocok untuk fashion kekinian. Karena sangat kontemporer," imbuhnya, Jumat (10/8) lalu.

Dia bersyukur, kain tenun semakin naik kelas. Sekarang mulai banyak penenun muda yang tertarik. 

Di Mamasa sendiri, kata dia, ada 300 anggota penenun dan banyak yang muda juga. Untuk pemasarannya, dia menyebut saat ini masih sangat terbatas.

"Mereka membuat kain, kemudian dijual dipasar lokal. Harganya juga sangat murah. Makanya kita mau menaikkan derajat kain lokal. Salah satunya dengan menjual melalui online," sambungnya.

Selama 10 tahun terakhir, Torajamelo membina perempuan di beberapa desa di Toraja dan sudah menunjukkan banyak kemajuan. Sekarang, tenun perajin sudah mulai dipakai orang Jepang. 

"Untuk pasar Jepang, mereka suka kain tenun yang berwarna abu-abu dan merah marun. Yang kita sasar adalah konsumen menengah ke atas, supaya harganya tinggi," ulasnya.

Direktur Executive PEKKA Nani Zulminarni mengatakan, perajin harus mampu menghasilkan kreasi yang disukai pasar. "Mereka harus mau membuat karya yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Perajin harus mampu menerima perbedaan itu," saran dia. (ibl)


TOPIK BERITA TERKAIT: #tenun-khas-indonesia #fashion 

Berita Terkait

WICSF 2018 Padukan Kuliner dan Fashion

Fashion

Fall Winter 2018 yang Customizes

Fashion

IKLAN