Jumat, 16 November 2018 07:04 WIB
pmk

Indotainment

Film Aruna dan Lidahnya Padukan Rasa Kuliner dan Persahabatan

Redaktur:

AKTING – Nicolas Saputra dan Dian Sastro dipertemukan kembali dalam film Aruna dan Lidahnya. Foto : Istimewa

INDOPOS.CO.ID - Tidak banyak film yang menceritakan tentang kuliner. Pun halnya dengan film yang mengisahkan persahabatan dan cinta di usia 30-an. Dua tema itu dilebur dalam film Aruna dan Lidahnya. Sutradara Edwin menjelaskan, hal itu merupakan alasan kuat yang melandasinya menggarap novel karya Laksmi Pamuntjak tersebut menjadi film.

Tokoh sentralnya, Aruna, seorang epidemiolog berusia 35 tahun yang hobi makan. Lalu, ada rekan kerjanya, Farish, serta Bono dan Nadezhda alias Nad, dua sahabat baik Aruna. Tokoh itu diperankan Dian Sastrowardoyo (Aruna), Oka Antara (Farish), Nicholas Saputra (Bono), dan Hannah Al Rashid (Nad).

Di Aruna dan Lidahnya, empat tokoh tersebut diceritakan berusia 30-an tahun. Mereka sama-sama melajang. Edwin menilai, tema itu asyik untuk dikupas lebih lanjut.

’’Anggapan di sini, usia kepala tiga udah stabil. Mantap, sudah berkeluarga. Padahal, ya enggak jauh beda dengan yang usia 20-an atau remaja. Masih ada masalah,’’ paparnya ketika mengunjungi redaksi Jawa Pos pada 3 Agustus lalu. Sutradara asal Surabaya itu optimistis film tersebut bakal ’’nyambung’’ untuk penonton seusia Aruna dan sahabatnya. ’’Dibikin sangat real, mengingat di novelnya, Laksmi juga detail menggambarkan ceritanya,’’ imbuh Edwin.

Detail-detail itu juga ditampilkan di film. Termasuk, ketika keempat tokoh utama berwisata kuliner. Di film produksi Palari Films tersebut, petualangan makan-makan itu meliputi empat kota. Yakni, Surabaya, Pamekasan, Singkawang, dan Pontianak. Di Surabaya, mereka memburu rawon, rujak soto, soto, nasi cumi, hingga kacang kowa. ’’Ini syuting paling enak, paling kenyang lah. Saya juga sekalian pulang kampung pas ke sini (ke Surabaya, Red),’’ ucap Edwin.

Dia mengungkapkan, proses pengambilan gambar selama makan dibuat sangat natural. Tidak ada setting-an. Tidak ada arahan khusus. Jamuan makan pun diwarnai dengan interaksi yang natural. ’’Organic banget, sewajarnya kita kalau makan. Nggak harus makan yang cantik atau jaim,’’ papar Hannah Al Rashid, pemeran Nad. ’’Meski kalau dilihat lagi, ih muka gue jelek amat waktu makan. Beda banget sama Dian yang masih cantik,’’ lanjutnya.

Hannah menceritakan, proses syuting berlangsung lancar. Sangat lancar, malah. ’’Dasarnya, kami berempat pada doyan makan. Enggak ada alergi juga,’’ paparnya. Mantan atlet bela diri itu menuturkan, dirinya hanya mengalami kesulitan ketika harus makan makanan pedas. Salah satunya ketika melahap ketan pengkang dengan sambal kepah khas Pontianak yang menurutnya superpedas. ’’Pas take, gue senyum-senyum. Begitu cut, bingung cari air karena kepedasan,’’ imbuh Hannah.

Bagian yang paling menantang justru ’’menjelma’’ jadi Nadezhda –penulis bidang gaya hidup yang punya selera selangit, cerdas, cantik, dan super-percaya diri. Saking sempurnanya, di novel, Aruna membandingkan dirinya dan Nad bak popcorn bertemu sampanye. Terbanting. Sepanjang syuting, Hannah justru sangat tidak percaya diri.

’’Rasanya, karakter gue ketuker sama Dian. Dia lebih pas sama peran ini, sementara gue yang serba-nggak jelas lebih bisa relate ke Aruna,’’ ujarnya. Hannah, yang lebih sering berakting sebagai seorang tomboi dan adegan aksi, harus bekerja ekstrakeras. ’’Tokoh Nad ini adalah tipe cewek yang bisa bikin para cowok menoleh tiap masuk ruangan. Di luar comfort zone gue pokoknya,’’ lanjutnya. (fam/c17/jan)


TOPIK BERITA TERKAIT: #film 

Berita Terkait

Film Ahok Bangkitkan Nasionalisme Pemuda

Jakarta Raya

Stan Lee, Tutup Usia

Indotainment

Stan Lee, Tutup Usia

Indotainment

Film Keluarga Cemara, Tayang Perdana di JAFF

Indotainment

IKLAN