Minggu, 23 September 2018 08:00 WIB
pmk

Ekonomi

Terus Dekati Kurs Tahun 98, Ekonom Optimistis Indonesia Bebas Krismon

Redaktur: Redjo Prahananda

Ekonom dari UGM Tony Prasetiantono

INDOPOS.CO.ID - Rupiah terus terpuruk. Krisis mata uang Turki Lira, membuat rupiah anjlok. Rupiah sudah mencapai Rp 14.600, semakin mendekati kurs saat krisis moneter 1998.

"Kondisi sekarang tidak sama dengan 1998 lalu saat itu kurs mencapai Rp 15 ribu lebih. Saat ini fundamental ekonomi kita lebih kuat," ujar pengamat ekonnomi Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono.

Tony menyampaikan pandangan itu dalam acara diskusi Strategi Dalam Menghadapi Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS, dalam Menghadapi Perekonomian Indonesia, di Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Menurut dia pelemahan mata uang hampir terjadi global di emerging market. Tahun ini saja Lira sudah melemah 40 persen
Secara umum, Turki tidak bisa disebut negara maju atau industri.

“Turki juga punya masalah politik dengan (Presiden) Erdogan Sentimen negatif. Turki kata analisis mirip Indonesia tahun 1998. Indonesia dulu over valued dan market sedang tidak percaya kepada presiden Soeharto. Rupiah terdepresiasi dari Rp 2.300 ke 15 ribu. Pernah kurs terjelek 17 ribu, hanya 2 hari. Kemudian terkoreksi jadi 15 ribu," jelas dia.

Menurut Tony, kondisi di Turki mirip Indonesia, 20 tahun lalu. Sekarang tidak. “Namun krisis di Turki ini di capture seluruh dunia, sehingga jadi kepanikan. Termasuk rupiah. Saham juga anjlok. Sebenarnya kasus yang menimpa Turki, respon pasar menurut saya agak lebay. Turki bukan negara yang besar-besar amat. Tidak masuk kategori negara besar. Juga tidak masuk Euro Zone," jelas Tony.

Berbeda dengan Yunani. Negara kecil, tapi anggota Euro.
"Saya melihat kasus Turki dan Yunani berbeda. Turki bukan anggota Uni Eropa. Jadi mata uangnya bukan Uero, tapi Lira. Yunani ketika krisis ditolong Jerman. Yunani kalau kiris tidak bisa di handle bisa menjalar ke Eropa," jelas Toni.

Selain itu, PDB Indonesia USD 1 trilyun. Sedangkan Turki USD 900 miliiar. “Kalau Turki krisis harusnya dunia tidak seperti ini. Terkaget-kaget. Dugaan saya, dunia sedang demam.”

Tony melanjutkan, masalahnitu dampak lanjutan juga dari kebijakan Gubernur Bank Sentral Amerika. Serta perang dagang AS-China membuat ketidakpastian ekonomi global.(dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #tony-prasetiantono #rupiah-terus-terpuruk 

Berita Terkait

IKLAN