Minggu, 23 September 2018 03:51 WIB
pmk

Ekonomi

Gejolak Lira Turki, Berimbas ke Rupiah dan Investasi

Redaktur:

Lira Turki. www.bbc.com

INDOPOS.CO.ID - Terpuruknya mata uang Turki, Lira terhadap dollar Amerika, berimbas  emerging market, termasuk  Indonesia. Mata uang Garuda menembus level psikologis Rp 14.600. Walau terus mendekati kurs saat krisis 1998 lalu, sejumlah pihak, seperti ekonom dari UGM Tony Prasetiantono,  optimistis kondisinya berbeda. Sehingga tidak akan membuat krisis moneter. Karena fundamental ekonomi saat ini lebih kuat.

Namun begitu, gejolak rupiah telah membuat investasi melambat. Saat ini realisasi investasi 2018 di triwulan II sebesar Rp 176,3 triliun. Atau  hanya naik 3,1 persen.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bahkan  memprediksi para investor akan wait and see. Menunggu hingga rupiah mencapai equilibrium atau keseimbangan.

"Dampak gejolak rupiah di negara berkembang, emerging market Berimbas ke krisis moneter di Turki. Kami prihatin ini membawa dampak bagi investasi di triwulan III dan IV tahun ini. Banyak proyek bisa ditunda, meskipun tidak batal," ujar Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong, saat menyampaikan realisasi investasi Triwulan II 2018, di kantornya, Selasa (14/8).

Ia menambahkan, untuk jangka menengah dan panjang penundaan tidak berpengaruh. Karena tetap direalisasikan.

"Invetasi ditunda bukan dibatalkan. Sikap wait and see, memasuki tahun politik dan implikasi gejolak rupiah, dan pasar modal dunia di negara berkembang. Namun saya percaya diri, tidak dibatalkan tapi ditunda," tegas Thomas.

Menghadapi krisis di Turki, menurut dia, mekanisme transisi apa yang tepat terhadap kondisi di Indonesia. Melalui pasar uang, pasar modal di mana terjadi penurunan likuiditas terutama dolar di seluruh dunia. Akibat penarikan kembali modal di negara berkembang.

"Capital outflow, investor menarik investasinya. Situasi ini akan jadi topik pembicaraan yang hangat saat pertemuan IMF dan World Bank di Bali, Oktober mendatang," ujar Thomas.

Menurutnya, isu itu  penting buat indonesia sebagai tuan rumah untuk membawa persoalan yang dihadapi negara berkembang. Terobosan-terobosan apa nanti yang akan dibawa tim perekonomian kita.

"Dengan globalisasi pasar uang dan pasar modal, tidak ada negara yang terisolasi atau mengisolasi gejolak seperti di Turki dan Argentina," ujarnya. 

Mantan Menteri Perdagangan tersebut menegaskan  pentingnya stabilisasi rupiah. Selama masih gejolak, investor akan menunggu. Kecuali kita bisa meyakinkan pasar dan investor, bahwa rupiah sudah di equilibrium, tidak gejolak.

"Pengetatan moneter oleh Bank Indonesia. Kami sangat mendukung kenaikan suku bunga dan memperketat likuiditas untuk menstabilkan rupiah. Stabilitas rupiah penting untuk kepastian investasi dari investor," jelas Thomas.

Lebih lanjut ia mengatakan, prospek kuartal III dan IV, pemerintah tidak akan diam menyaksikan perkembangan di pasar. Terutama di pasar modal. Pemerintah akan mengambil langkah-langkah istimewa. Misalnya kebijakan fundamental, yang sudah berjalan yakni upaya yang gencar implementasi B20. Mensubtitusi  fuel impor dengan produk lokal, bio diesel -minyak sawit domestik.

"Ini menghemat devisa USD 6 miliar pertahun," jelas Thomas.

Selain itu,  Menkeu oleh Presiden telah diminta memberikan insentif. Bahkan

Tax super holiday. "Investasi tertentu kita berikan tax holiday sampai 50 tahun," jelas Thomas.

Ia menambahkan, sebanyak 75 persen impor kita adalah bahan baku. Pihaknya akan mendorong realisasi investasi di hulu industri. "Yang bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor saya kira realitis diberikan tax holiday," ujar Thomas.

Di tengah gejolak tersebut, menurutnya, ada dua sektor yang menyelamatkan. Yakni pembangunan smelter dan e-commerce digital ekonomi.

"Kami mendorong untuk terus menjaga momentum pertumbuhan di sektor e-commerce dan digital ekonomi," ujar Thomas.

Lebih lanjut ia membeberkan, disaat sensitif seperti ini,  dimana sentimen dunia sangat rapuh, kita harus ekstra menjaga. Jangan sampai ada kebijakan yang mengagetkan yang bisa membuat sentimen negatif di investasi.

"Kita harus ekstra hati-hati menjaga. Jangan sampai ada policy blunder, atau kebijakan yang mengagetkan," ujarnya.

Pemerintah juga terus berupaya memperkuat devisa. Pengendalian laju impor, termasuk barang modal merupakan langkah strategis menekan neraca transaksi yang defisit.

"Langkah yang prudent, kehati-hatian kita harus mengencanggkan ikat pinggang. Kita tidak bisa mengabaikan signal di pasar modal. Pengetatan tidak hanya oleh BI," tegas Thomas.

Karena itu impor bahan baku yang tidak terdampak proyek harus ditekan. Saat ini aspek politik berdampak positif terhadap sentimen investasi. Apalagi kalau dibandingkan negara lain yang tidak bisa menghasilkan stabilitas politik seperti di Indonesia.

"Bukan politik yang sekarang mengganggu invetasi. Tapi gejolak kurs dan gejolak di pasar modal, tekanan luar dan kebijakan yang mengagetkan. Masih ada waktu merealisasikan target investasi di 2018," ujarnya optimistis.

Sementara, Ekonom dari UGM Tony Prasetiantono mengatakan, pelemahan mata uang hampir terjadi global di emerging market. Menurutnya tahun ini saja Lira sudah melemah 40 persen

"Kalau bicara redominasi, salah satu idola kita adalah Turki. Pernah satu dolar Amerika, 125 ribu Lira. Tahun 90- an. Turki pernah sukses melakukan redominasi. Semua kagum," ujar Tony ditemui di acara diskusi Strategi Dalam Menghadapi Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS, dalam Menghadapi Perekonomian Indonesia, di Jakarta, Selasa (14/8).

Menurutnya, Indonesia ketika  mau melakukan redominasi, Turki jadi acuan. "Namun setiap saat saya selalu mengingatkan Turki dan Indonesia beda," ujar Toni.

Menurutnya, Indonesia penduduknya besar. Sehingga redominasi sulit dilakukan. Turki hanya satu dataran. Indonesia, banyak pulau.

Turki juga diuntungkan karena cadangan devisa, banyak masuk karena turis. Sebelum krisis bisa 32 juta orang turis asing ke Turki.

Sama seperti Thailand. Kalau di Asia Tenggara, 32 juta turis kalau belanja 1000 dollar saja besar sekali.

"Tapi kenapa ekonominya tiba-tiba berantakan. Persoalan turki menurut saya, bukan negara maju. Walaupun bandaranya hub, yang menghubungkan Asia dan Eropa.

Tetapi secara umum, Turki tidak bisa disebut negara maju atau industri," jelas Tony.

Persoalan Turki,  mata uang Lira mengalami over valued. Mata uangnya dinilai terlalu mahal. Dampaknya defisit transaksi berjalan dan perdagangan.

"Nah, Turki juga punya masalah politik. Erdogan. Sentimen negatif. Turki kata analisis, mirip Indonesia tahun 1998.

Indonesia dulu over valued dan market sedang tidak percaya kepada presiden Soeharto. Rupiah terdepresiasi dari Rp 2.300 ke 15 ribu. Pernah kurs terjelek 17 ribu, hanya 2 hari. Kemudian terkoreksi jadi 15 ribu," jelasnya.

Menurut Toni, Turki mirip Indonesia, 20 tahun lalu. Sekarang tidak.

"Namun krisis yang terjadi di Turki  ini di-capture seluruh dunia, sehingga jadi kepanikan. Termasuk rupiah. Saham juga anjlok.  Sebenarnya kasus yang menimpa Turki, respon pasar menurut saya agak lebay. Turki bukan negara yang besar-besar  amat. Tidak masuk kategori negara besar. Juga tidak masuk Euro Zone," jelas Toni.

Berbeda halnya dengan Yunani. Negara kecil, tapi anggota Euro.

"Saya melihat kasus Turki dan Yunani berbeda. Turki bukan anggota Uni Eropa. Jadi mata uangnya bukan Uero, tapi Lira. Yunani ketika krisis ditolong Jerman. Yunani kalau kiris tidak bisa di handle bisa menjalar ke Eropa," jelas Toni.

Selain itu, PDB Indonesia USD 1 trilyun. Sedangkan Turki USD 900 miliiar.

"Kalau Turki krisis harusnya dunia tidak seperti ini. Nervous, dugaan saya, dunia sedang demam," jelasnya.

Itu lanjut Tony dampak lanjutan juga dari kebijakan Gubernur Bank Sentral Amerika. Yakni setelah  gubernur sebelumnya melakukan kebijakan cetak uang dan suku bunga rendah 0,25 persen, di zaman gubernur sentral yang sekarang itu tidak dilakukan. Suku bunga bahkan kembali ke arah normal.

"Amerika sedang menuju suku bunga normal ke 3,25 sampai 3,5 persen. Fed Fund Rate sekarang 2 persen. Tapi itu belum normal karena inflasi 2,9 persen. Inflasi lebih tinggi dari suku bunga. Trump awalnya senang suku bunga dinaikin, untuk melindungi saver. Tapi sekarang tidak," jelas Tony.

Gejolak mata uang dunia, ditambah lagi ada perang dagang AS dan China.

"Perang dagang itu akan memperburuk ekonomi dunia. Simpel, itukan perdagangan bebas. Tarif dikurangi, bahkan sampai 0 persen. Sekarang kena bea masuk, ada yang 25 persen. Harga barang naik," jelas Tony.

Tekanan faktor eksternal tersebut, membuat rupiah tertekan. Rupiah tidak mungkin kembali ke Rp 13 ribu atau Rp 10 ribu.

"Saya awalnya mendukung redominasi, tapi setelah lihat turki bermasalah nanti dulu. Walaupun risih juga liat nolnya banyak.  Kita lebih baik mengamankan ekonomi kita. Ketimbang redominasi yang bikin kisruh. Selain itu, Foreign Direct Investmen atau investasi langsung luar negeri, harus diperkuat. Jangan investasi di pasar saham. Itu gampang masuk dan gampang keluar," pungkasnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari Center of Reform on Economy (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan pelemahan rupiah masih terpengaruh kondisi eksternal. Termasuk krisis Lira Turki.

"Perkembangan melemahnya rupiah ini sebetulnya dari luar. Yang membedakan lebih liar, tidak melulu karena kebijakan The Fed. Tapi ada faktor psikologis, seperti perang dagang," ujar Faisal.

Ia menambahkan,  faktor-faktor psikologis membuat  ketidakpastian. Rupiah dengan mudah terpengaruh.

"Kita bukan domain player, di industri kapital di dunia. Kita dirive pemain luar. Terutama Amerika," jelas Faisal.

Terkait faktor eksternal tersebut BI harus menahan diri untuk menaikan suku bunga acuan. Pasalnya sebelumnya juga sudah menaikan, hingga mencapai menjadi 5,25 persen.

"BI harus diberi ruang, jangan agresif menaikan suku bunga. Apalagi The Fed katanya, juga akan menaikan kembali suku bunganya," jelas Faisal.

Ia menambahkan, BI ke depan harus mendisversifikasi instrumen menstabilkan rupiah. Yang efektif saat ini memang menaikan suku bunga.

"Namun akar masalahnya juga harus diselesaikan. Misalnya ketergantungan impor harus ditekan. Mengurangi defisit di jasa transportasi. Serta  meningkatkan daya saing produk ekspor kita," ujar Faisal.

Saat ini, defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD) pada kuartal II-2018 mencapai 3 persen dari GDP, yakni USD 8 miliar.

Pariwisata menjadi salah satu sektor yang  diharapkan mampu menjadi pendorong perekonomian.  

"Parisiwata harus terus digenjot. Sebab mampu mendatangkan devisa. Tetapi jangan fokus ke jumlah wisatawan yang datang. Melainkan juga belanjanya harus digenjot," pungkasnya.

Sebelumnya,  Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah, Senin, imbas  ketidakpastian Turki, yang merembet ke perekonomian global.

Tekanan di pasar keuangan Turki, berdampak ke seluruh kawasan khususnya Eropa dan Asia, termasuk terhadap kurs Rupiah.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bl  Nanang Hendarsah mengatakan apa yang dapat diantisipasi oleh Bank Indonesia. Keberadaan BI di pasar valas dan SBN secara terukur tetap sangat penting untuk menjaga public confidence dan mencegah lonjakan kurs dan merosotnya harga SBN yang dapat memicu kepanikan.

Dalam satu bulan terakhir,  dampak gejolak eksternal terhadap kurs rupiah semakin terkelola dengan baik. Pembelian valas oleh korporasi tidak sebesar bulan April dan Mei yang cenderung melalulan frontloading karena menghadapi libur panjang dan sudah mulai masuk portfolio asing ke SBN.

"Mekanisme pasar di pasar valas sudah lebih lancar, sehingga intervensi yang dilakukan BI jauh lebih kecil," jelasnya.

Tentunya kata Nanang,  apa yang sedang dipersiapkan pemerintah untuk mendorong penjualan Devisa Hasil Ekspor.

"Dan upaya BI yang akan mengefisienkan pasar swap diharapkan akan menopang terjaganya stabilitas rupiah," pungkasnya. (dai)

NAIK TURUN LIRA TURKI HINGGA SUKSES REDENOMINASI

AGUSTUS 2018

1.  Lira, mata uang Turki punya sejarah menarik. Saat ini tengah anjlok menyentuh level terendahnya sepanjang sejarah di posisi 7,24 lira per dolar Amerika Serikat (AS).

2.  Lira telah kehilangan lebih dari 45% nilainya sepanjang tahun ini.

3.  Lira sempat rebound ke posisi 6,86, setelah Menteri Keuangan Turki Berat Albayrak mengatakan pemerintah telah menyusun rencana aksi.

4.  Depresiasi diakibatkan oleh pengaruh Erdogan di perekonomian Turki, desakannya yang terus-menerus agar suku bunga perbankan terus turun ketika inflasi justru meroket, dan memburuknya hubungan Ankara dengan Washington.

TAHUN 2014

1.  Peredaran mata uang asing palsu di Turki meroket seiring dengan terus melemahnya nilai mata uang Lira.

2.  Sebanyak 39 dari setiap 100 lembar uang yang disita berupa euro dan dolar AS palsu.

3.  Data KOM mengungkapkan bahwa pecahan $100 dan 200 euro paling banyak dipalsukan di Turki.

4.  Pengedar uang palsu tidak hanya beroperasi di dunia nyata, tapi juga berusaha menjaring korban secara online.

1 JANUARI 2005

1.  Salah satu negara yang tergolong relatif sukses melakukan redenominasi adalah Turki, seperti tertulis dalam makalah ”The National Currency Re-Denomination Experience in Several Countries—a Comparative Analysis” oleh Duca Ioana, dosen dari Titu Maiorescu University Bucharest, Romania.

2.  Turki memutuskan redenominasi pada tahun 1998. Setelah persiapan tujuh tahun, mulai 1 Januari 2005, pada awal tahun anggaran, Turki melakukan redenominasi terhadap lira.

3.  Redenominasi dilakukan di awal tahun anggaran dengan tujuan agar semua catatan pembukuan keuangan negara dan perusahaan langsung menggunakan mata uang baru dengan angka nominal yang lebih kecil.

Data diolah dari berbagai sumber


TOPIK BERITA TERKAIT: #lira-turki 

Berita Terkait

IKLAN