Selasa, 18 September 2018 10:51 WIB
pmk

Nusantara

Setelah Gempa 7 SR, Daratan Pulau Lombok Naik 25 CM

Redaktur:

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - The National Aeronautics and Space Administration atau  Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) melaporkan dari hasil pemantauan satelitnya bahwa permukaan tanah atau daratan Pulau Lombok naik setinggi 25 sentimeter. Kenaikan permukaan tanah itu terjadi selama periode 30 Juli 2018 hingga 5 Agustus 2018, atau selama 6 hari.

Periode kenaikan permukaan tanah itu dimulai ketika gempa berkekuatan 6,5  Skala Richter (SR) terjadi pada Minggu pagi (29/7/2018) dan berakhir ketika gempa berkekuatan 7 SR terjadi pada Minggu malam (5/8/2018).

Dalam laporannya NASA yang dilansir dari Express UK, disebutkan pergerakan naiknya tanah dimulai dari Lombok Utara yang menjadi pusat gempa. Kenaikan permukaan tanah mencapai sekitar 10 kilometer (KM) dari bawah permukaan tanah. Sedangkan perubahan kenaikan permukaan tanah ini terjadi hampir merata di seluruh wilayah Pulau Lombok.

"Berdasarkan pola deformasi pada peta, para ilmuwan menemukan  slip sesar gempa pada bidang patahan yang terjadi pada di bawah bagian barat laut Pulau Lombok. Sehingga menyebabkan kenaikan permukaan daratan setinggi 10 inci (25 sentimeter)," terang NASA.

Untuk diketahui, gempa di Lombok terjadi karena pelepasan energi setelah terakumulasi selama ratusan tahun. Gejala alam seperti gempa memang dapat menyebabkan penurunan, selain juga kenaikan daratan. Salah seorang peneliti geodesi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agustan menjelaskan kulit kerak permukaan bumi terbagi dalam beberapa blok lempeng. Dan ketika blok lempeng itu saling bertumbukan satu sama lain akibat terdorong cairan di bawahnya. Maka dampaknya permukaan tanah akan ada yang naik atau turun.

" Dan di Lombok, Flores, atau Bali ada semacam tektonik lempeng kecil. Bagian blok permukaan yang kecil. Ini yang saling tubrukan. Sumbernya berasal dari patahan Flores," terang Agustan di Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Sedangkan dosen geodesi Institut Teknologi Bandung  Irwan Meilano menjelaskan data satelit yang digunakan NASA ini dipandang mewakili apa yang terjadi pada Gempa Lombok karena menjelaskan secara visual perubahan bentuk yang terjadi di pulau itu akibat gempa.

"Terdapat perubahan bentuk dan terdapat perubahan dimensi dari bagian utara Pulau Lombok. Jadi yang dimaksud dengan deformasi adalah perubahan bentuk yang berlangsung secara tiba-tiba akibat gempa," terang Irwan.

Ia melanjutkan, ada dua bagian lapisan yang berlainan, yakni lempeng tektonik yang berbeda yang berada di utara Pulau Lombok. "Tiba-tiba bagian yang atas dari kedua lapisan tersebut naik dengan sangat cepat (dalam waktu 6 hari). Tiba-tiba ada lapisan tanah yang bergeser naik ke atas dan juga bergerak horizontal. Nah pergerakan yang tiba-tiba secara vertikal dan horizontal inilah yang menghasilkan guncangan yang keras," terangnya.

Namun ia menilai kenaikan daratan setinggi 25 cm itu  tidak akan terlalu menyebabkan pengaruh kepada penduduk  Lombok.

"jadi dia (tanah yang naik) tidak akan kembali kepada keadaan sebelumnya, Jadi begitu dia patah dan naik, dia akan begitu terus. Kalau sudah terjadi deformasi permukaan gak ada yang bisa dilakukan. Paling (penduduk) cuma bisa adaptasi," pungkasnya. (jpg/ind) 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #gempa-di-lombok #daratan-pulau-lombok-naik-25-cm 

Berita Terkait

Malaysia Bantu Pemulihan Pariwisata NTB

Nasional

BREAKING NEWS: Getaran Gempa NTB Sampai ke Bali

Fokus

IKLAN