Kamis, 15 November 2018 03:49 WIB
pmk

Wanita

Hindari Kosmetik Palsu, Lakukan Ini

Redaktur:

DIJUAL BEBAS-Masyarakat sebaiknya memilih kosmetik yang sudah terdaftar BPOM. Foto: DOK/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Belakangan ini masyarakat semakin mudah mendapatkan berbagai kebutuhan secara online. Termasuk membeli berbagai produk perawatan wajah dan kecantikan.

Berbagai merek berseliweran ditawarkan berbagai online shop. Sebagian diantaranya, ada yanh ditengarai merupakan kosmetik palsu. Untuk mengetahuinya mudah. Cukup mengecek nomer BPOM yang tertera di produk.

Saran itu diungkapkan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito. Parahnya lagi, meski sudah tahu belum terdaftar di BPOM, ada saja konsumen yang tetap membeli.

Alasannya karena produsen menggunakan artis untuk meng-endorse produk mereka. "Penggunaan public figur jadi menyamarkan keaslian produk. Masyarakat langsung saja percaya bahwa itu layak dikonsumsi," urainya di Jakarta,  Senin (13/8) lalu.

Hingga Juli 2018 saja, BPOM RI telah menyita kosmetik ilegal senilai Rp 106,9 miliar. Penny mengatakan, tingginya angka temuan kosmetik ilegal yang terjadi secara masif di seluruh Indonesia itu menunjukkan adanya permintaan yang tinggi dari masyarakat terhadap produk kosmetik. 

''Untuk itu, belajar dari kasus-kasus produksi dan distribusi kosmetik ilegal di seluruh Indonesia, BPOM tak hentinya mengimbau kepada para konsumen untuk bijak dalam memilih produk kosmetik. Jangan langsung tergiur dengan iklan-iklan menyesatkan atau harga yang tidak wajar. Terlampau murah,'' terangnya.

Beberapa merek produk kosmetik yang ditemukan dan diduga kuat mengandung bahan terlarang adalah Temulawak Two Way Cake, New Papaya Whitening Soap, NYX Pensil Alis, MAC Pensil Alis, Revlon Pensil Alis, Collagen Plus Vit E Day and Night Cream, Cream Natural 99, SP Whitening and Anti Acne, Quine Pearl Cream, Citra Day Cream, Citra Night Cream, serta La Widya Temulawak. "Beberapa temuan tersebut merupakan merek yang dipalsukan," kata Penny. 

Menurut Penny, generasi millennial-lah yang menjadi target produsen kosmetik ilegal itu. Karena mereka mudah tergiur dengan harga murah, tanpa meneliti lebih jauh.

Cukup klik, bisa langsung membeli. ''Generasi millennial lebih sering terpapar dengan beragam informasi tentang kosmetik melalui iklan online. Termasuk influence dari para beauty blogger dan beauty vlogger yang sekarang bermunculan," ungkapnya.

Karena itu, pihaknya memberikan peringatan lewat kampanye "Bahaya Kosmetika Mengandung Bahan Dilarang" yang ditujukan agar generasi millenial lebih waspada dalam membeli.

Menurutnya, ada beberapa cara yang harus disosialisasikan untuk mengidentifikasi obat dan kosmetik ilegal. ''Pertama, produk tersebut harus dicek nomer verifikasi registrasinya. Kemudian, cek label dan kemasannya, cek izin edar, dan cek tanggal kadaluarsanya,'' jelasnya.

Kosmetik berbahaya, lanjutnya, biasanya memberikan efek instan. Misalnya, memutihkan (skin bleaching), mengencangkan kulit, dan bebas keriput (anti wrinkle) dalam waktu singkat.

Beberapa jenis bahan berbahaya yang dilarang dan kerap disalahgunakan diantaranya hidrokinon (pemutih wajah), As Retinoat (pemutih wajah dan anti jerawat), golongan kortikosteroid (day cream, night cream, lightening cream), ketokenazole (shampo anti ketombe), vitamin K dan D (anti wrinkle), antihistamin (anti jerawat), dan para amino benzoid acid (tabir surya/sunblock).

Penny juga menekankan, agar tidak mudah terpengaruh iklan yang belum tentu sesuai. Para pelaku endorsement menjadi salah satu ikon yang bisa menjadi mulut dalam penyampaian barang yang memang memiliki izin resmi dari BPOM. 

''Hati-hati pula dengan iklan yang menyesatkan. Banyak juga yang menjual kosmetik palsu yang brand-nya sudah populer di kalangan masyarakat. Setelah keluhannya dilaporkan ke pihak kami, segera akan disiarkan ke public warning di website resmi BPOM,'' tukasnya.

Agar nantinya produk tidak mudah dipalsukan, pihaknya akan menggunakan teknologi informasi dengan barcode dua dimensi di setiap kemasan. ''Sehingga kita bisa mengoptimalkan penggunaan gadget untuk verifikasi produk tersebut,'' tandasnya.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM Maya Gustina Andarini menjelaskan, jika remaja tidak menggunakan kosmetik dengan bijak sejak dini dapat memberikan dampak berbahaya di kemudian hari. Dia pun memberikan saran kepada para remaja untuk cerdas memerhatikan produk kecantikan yang mereka beli. 

Beberapa hal yang harus diperhatikan, salah satunya dari kemasannya. Remaja harus jeli melihat nama dan alamat lengkap dari produsen label tersebut. 

''Di label harus lengkap. Misalnya PT X, alamatnya Bandung, Indonesia. Itu nggak boleh. Harus lengkap. PT X di jalan ini, Bandung Jawa Barat, karena konsumen punya hak untuk mengetahui itu,'' katanya.

Selain itu, dalam kemasan juga harus tertulis lengkap komposisi bahan, izin edar dan tanggal kadaluarsa. Dia menyatakan, tanggal kedaluarsa dihitung dengan masa pemakaian setelah produk tersebut dibuka. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #wanita #make-up 

Berita Terkait

Talenta Baru di MUA Hunt

Jakarta Raya

Tips Agar Make Up Tahan Lama di Pelaminan

Lifestyle

Mau Sehat, Segar, dan Cantik, Coba Terapkan Ini

Lifestyle

Pesona Alam di Koleksi Anyar Wardah

Fashion

IKLAN