Jumat, 21 September 2018 07:04 WIB
pmk

Nusantara

Tim Medis Tangani Tujuh Ribu Lebih Pengungsi Sakit

Redaktur: Ali Rahman

Para pengungsi di Lombok

INDOPOS.CO.ID - Pengungsi korban gempa mulai diserang berbagai jenis penyakit. Seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit kulit.

Data Dinas Kesehatan NTB menunjukkan, di Lombok Utara saja hingga 13 Agustus tercatat penyakit terbanyak yang diderita warga adalah demam 111 kasus, diare akut 174 kasus, diare berdarah 5 kasus, ISPA 409 kasus, penyakit kulit 107 kasus, keracunan makanan tiga kasus, trauma 31 kasus, dsn penyakit-penyakit lainnya 640 kasus.

“Itu belum semua kasus. Bila ditotal jumlah kasus penyakit yang tercatat di KLU mencapai 1.609 kasus,” ungkap Plt Kepala Dinas Kesehatan NTB Marjito di Mataram, NTB, Kamis (16/8/2018).

Ia menjelaskan, dari seluruh daerah ada 7000-an pasien atau warga yang sudah ditangani petugas medis. Baik itu yang luka berat, luka ringan, luka sedang, penyakit demam biasa, pusing-pusing dan sebagainya. “Semua yang memeriksa kesehatan kita masukkan dalam data,” jelasnya.

Tim medis sudah dikerahkan baik dokter maupun par medis. Jumlahnya 1.210 orang. Sekitar 200 orang merupakan dokter umum dan dokter spesialis bedah, spesialis jiwa, dan anak. Selain itu ada perawat, bidan, dan apoteker. Demikian juga dengan obat-obatan, pihaknya mengaku persediaan masih memadai untuk satu minggu ke depan. “Tidak ada masalah untuk persediaan obat-obatan,” jelasnya.

Selain mengerahkan tim medis, pemerintah berupaya memperbaiki sistem sanitasi para pengungsi. Salah satunya dengan mengirim lebih banyak toilet portabel ke lokasi pengungsian. Pihaknya juga akan membuatkan toilet komunal yang bisa dimanfaatkan pengungsi. “Jelas sanitasi yang buruk jadi penyebab diare,” ujarnya.

Inaq Rawih, Dusun Karang Montong Desa Pemenang Timur, Kecamatan Pemenang mengaku, selama di pengungsian mereka terpaksa membuang air di kebun-kebun sekitar pengungsian. “Kita buang air besar ke kebun sembunyi-sembunyi. Kalau anak-anak sembarangan saja, di mana-mana buang mau,” katanya.

Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak kecil kadang tidak tahan, tapi orang dewasa terpaksa menahan. Untungnya persediaan air mencukupi. “WC ada di rumah tapi rumah sudah rusak,” tandas marjito. (ili/jpg/ind)


TOPIK BERITA TERKAIT: #gempa-di-lombok #pengungsi-korban-gempa-mulai-diserang-berbagai-jenis-penyakit 

Berita Terkait

IKLAN