Minggu, 23 September 2018 09:50 WIB
pmk

Headline

Curhat Mahfud MD Bahayakan Jokowi

Redaktur:

Mahfud MD. Dok INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Curhatan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD di dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di stasiun televisi swasta pada Selasa (14/8/2018) malam berpotensi menggerus suara capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf Amin. Hal tersebut ditegaskan oleh pengamat politik Said Salahuddin.

"Ada sisi yang lain yang Mahfud kurang menyadari akan dampak negatif yang mungkin muncul dari testimoninya itu. Dan itu berpotensi merugikan pasangan Jokowi-Ma'ruf,"  ucap Said, kepada INDOPOS di Jakarta,  Jumat (17/8/2018).

Menurutnya, kerugian itu bisa saja muncul dari terbelahnya pendukung pasangan itu. "Sebab, pendukung Jokowi berasal dari banyak kelompok. Ada kelompok Nahdliyin, fans Mahfud MD, dan pengikut Ahok,"  ucap Direktur lembaga Sigma Indonesia ini.

Jika para pendukung Jokowi terbelah, maka ujar Said, itu artinya ada problem soliditas diinternal kubu petahana.

"Jadi kalau untuk mengantisipasi hal itu Jokowi merasa perlu untuk menggagas forum 'islah' terbuka yang melibatkan Mahfud, Ma'ruf, Said Aqil, Muhaimin, dan Romi, misalnya, itu boleh-boleh saja, walaupun bukan suatu keharusan," ujarnya.

Lalu,  apa saja pernyataan Mahfud yang mengancam suara Jokowi-Ma'ruf nantinya?  Said mencatat ada dua pernyataan.

Pertama, soal penyebutan nama cawapres dari NU yang bebas korupsi. Mengutip pernyataan Said Aqil Siroj, pada pokoknya Mahfud berujar bahwa diantara sejumlah nama cawapres yang disodorkan oleh NU kepada Jokowi, hanya ada dua nama yang bebas korupsi yakni Said Aqil Siroj sendiri dan Mahfud MD.

"Dari pernyataan tersebut, muncul pertanyaan,  bagaimana dengan Ma'ruf Amin? Bukankah Ma'ruf juga menjadi salah satu tokoh yang namanya ikut ditawarkan oleh NU dan kini bahkan sudah resmi diusulkan sebagai cawapres Jokowi," ujar Said yang sering menjadi tim ahli dalam penyusunan sejumlah peraturan teknis Pemilu.

Walaupun Mahfud hanya mengutip Said Aqil, tetapi pernyataan itu menurut Said justru akan mengundang rasa penasaran masyarakat. "Saya menangkap mulai ada yang memperbincangkan hal tersebut," ucapnya.

Soal yang kedua adalah terkait penyebutan nama Ma'ruf Amin sebagai aktor dibalik munculnya ancaman NU kepada Jokowi.

Pernyataan yang disebut oleh Mahfud bersumber dari Muhaimin Iskandar itu pada pokoknya menyebutkan bahwa orang yang menyuruh pengurus NU agar menyampaikan ancaman NU, akan keluar meninggalkan Jokowi kalau yang diangkat bukan kader NU sebagai cawapres, ternyata adalah Ma'ruf Amin.

Sedangkan Said Aqil pada Rabu,  8 Agustus lalu sudah menegaskan bahwa Mahfud bukanlah kader NU. "Informasi (Mahfud) tersebut jelas sangat mengejutkan. Apalagi pada akhirnya Ma'ruf yang dipilih oleh Jokowi. Ini jelas menunjukan adanya politik ancam mengancam di koalisi pasangan petahana itu," tukasnya.

Oleh sebab itu, walaupun keterangan Mahfud tersebut masih memerlukan klarifikasi dari pihak-pihak terkait, tetapi karena informasinya terlanjur menjadi isu dimasyarakat, maka citra pasangan Jokowi-Ma'ruf bisa terusik.

"Namun saya percaya Mahfud sebetulnya tidak punya maksud untuk men-'downgrading' pasangan Jokowi-Ma'ruf. Tetapi pernyataan Mahfud tersebut secara tidak langsung dapat memunculkan kesan yang negatif," tandas pendiri dan mantan presidium Forum Pascasarjana Hukum Tata Negara Universitas Indoneaia (Fopas HTN UI) ini.

Ketika ditemui wartawan, KH Said Aqil Siroj enggan berkomentar banyak soal pernyataan Mahfud MD yang mengungkapkan dirinya adalah bagian dari NU.

Said hanya menyebut bahwa pembicaraan Mahfud di program ILC hanya sekadar bercanda atau guyon semata dan tak ada yang perlu ditindaklanjuti oleh PBNU.

"Loh, katanya guyon, ya, biarin aja orang lagi guyon kok itu," kata Said kepada wartawan di kantor PBNU, Jakarta, Kamis (16/8/2018).

Saat didesak lebih jauh untuk menanggapi tuduhan Mahfud yang menyatakan bahwa Ma'ruf Amin adalah orang yang menyuruh PBNU mengancam Jokowi agar memilih cawapres dari NU, Said juga bergeming.

Selain itu, Said Aqil pun menegaskan, pihaknya tak ambil pusing dan tak akan mengambil sikap apapun untuk merespons pernyataan Mahfud tersebut.

"Enggak ada (ambil sikap). Itu cuma guyon," tutup Said.

Kiai Said pun membuka diri jika mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu mau bertemu dengannya dan pengurus PBNU untuk bersilaturahmi. "Enggak usah direncanakan kok. Enggak usah direncanakan. Ketemu hayok," ujarnya.

Sementara Sekjen PBNU Helmi Faisal saat dihubungi INDOPOS mengaku, enggan berkomentar atas masalah ini. "Maaf mas,  tanya sama yang lain saja. Saya tak mau komentar dulu,"  singkatnya.

Terpisah, Ketum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar, membantah NU mengancam Jokowi bila memilih Mahfud MD sebagai cawapres.

Ia menegaskan tak pernah ada ancaman dari pihaknya. Ia pun mengatakan hal ini bisa terjadi lantaran berita yang beredar memiliki judul yang salah.

Menurutnya, ancaman itu hanya muncul di media yang tidak sesuai antara judul dengan isi berita

"Sikap PBNU itu tidak ada yang mengancam. Isi dari pemberitaan itu hanya menyatakan kalau bukan kader NU maka tidak ikut-ikut, tapi ada yang ngasih judul mengancam. Jadi masalahnya tidak ada dan tidak perlu lagi dibahas," kata pria yang akrab disapa Cak Imin ini di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (16/8/2018).

Meski begitu,  wakil ketua MPR RI ini  menjelaskan, sebuah hal yang wajar terkait adanya jegal-menjegal dalam dinamika politik.

Contohnya, kata dia, terkait pemilihan ketua Anshor saja mengalami banyak kegaduhan. Apalagi terkait Pilpres 2019.

Di sisi lain, Cak Imin bercerita juga, bahwa dirinya lah yang paling kecewa atas politik yang terjadi pada pengumuman cawapres Jokowi.

Sebab, ia mengaku telah mempromosikan dirinya sebagai cawapres dengan cara memasang banyak iklan di berbagai wilayah.

"Saya sendiri orang yang paling kecewa sebetulnya. Kan sudah saya pasang bilboard di mana-mana, itu kan takdir. Itu usaha memang wajib dilakukan, tapi takdir di tangan Tuhan. Oleh karena itu, semuanya kita kembali bersatu. Kita syukuri Pak Jokowi-KH Ma'ruf adalah simbol nasionalis agamais, agamais nasionalis. Ini cita-cita saya," tambah dia.

Sebelumnya, Mahfud MD angkat bicara terkait dirinya terjegal menjadi calon wakil presiden dari Jokowi.

Kemudian, terkait klaim  KH Said Aqil Siroj yang menyatakan dirinya belum pernah jadi kader NU pada Rabu (8/8/2018),  Mahfud menerangkan pernyataan itu adalah keanehan. Pasalnya,  Ia lahir dan besar di tengah kultur keluarga NU. Mahfud juga mengaku pernah mondok di pesantren NU dan banyak berkegiatan di lingkungan NU.

Mahfud bahkan pernah menjadi Rektor Universitas Islam Kadiri, Kediri, yang berafiliasi ke NU, aktif di Wahid Institute yang juga afiliasinya NU. Mahfud pernah menjadi pengurus di GP Ansor di era Nusron Wahid, SK-nya ditandatangani KH Said Aqil Siroj.

"Saya juga sampai hari ini pengurus ISNU, yang melantik Pak Aqil Siroj. Pak Aqil sering sebut saya kader NU, dulu waktu ramai kasus kardus Duren," kata Mahfud MD di acara  ILC, Selasa (14/8/2018) malam.

Wasekjen PPP Ahmad Baidowi mengaku tidak melihat ada ancaman dari Ketua MUI Ma'ruf Amin kepada Presiden Joko Widodo agar kader NU dipilih menjadi calon wakil presiden.

Dia menilai tudingan Mahfud MD yang menyebut Ma'ruf menyatakan NU tidak bertanggung jawab apabila bukan kader yang menjadi cawapres Jokowi hanya muncul dari elit PBNU,  yakni disampaikan oleh Ketua PBNU Robikin Emhas pada Kamis,  (9/8/2018).

Sedangkan Mahfud saat di acara ILC menerangkan adanya ancaman berasal dari Ma'ruf tersebut karena didapatinya dari Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

"Ya kami tidak melihat sebuah ancaman begitu karena kalau ancaman itu kan mengancam Presiden berbahaya juga. Tetapi melihat organisasi NU ada orang-orangnya di dalamnya, ada elit-elitnya dan elit-elitnya kebetulan pelaku politik gitu," kata  pria yang akrab disapa Awiek ini kepada wartawan di Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Oleh karena itu, Awiek mengatakan, ancaman tersebut bukan sikap resmi dari PBNU. Lagipula tidak ada surat resmi dari PBNU ke Jokowi yang menyatakan akan lepas tangan andai kader NU tak menjadi cawapres Jokowi.

"Saya nyambung juga tadi disampaikan terkait dengan sikap tersebut kalau sikap PBNU itu resmi kalau itu kan informal. Jadi tidak menjadi sebuah catatan sebenarnya bisa dianggap ya namanya politik ya begitu," tegasnya.

Awiek menganggap ucapan Robikin itu hanya bagian dari gimmick politik.

Hal serupa juga dilakukan oleh Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang menyatakan Jokowi sulit menang jika tidak menggandengnya sebagai cawapres.

"Ya itu sekali lagi itu kan gimmick politik. Sama dengan dengan Cak imin bilang kalau tidak menggandeng saya tidak akan, sulit untuk terpilih," ungkapnya.

Pendapat lainnya diutarakan oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.  Dirinya membantah pernyataan Mahfud MD bahwa pernah mengumumkan nama Mahfud yang bakal mendampingi Jokowi di Pilpres 2019.

"Tidak pernah (mengumumkan) karena itu ranah Presiden Jokowi," kata Hasto di Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Hasto mengatakan, Jokowi memang meminta sejumlah orang bersiap. Hal itu dianggap perlu sebab perlu banyak opsi sebelum menentukan pemimpin negara.

"Kemudian ada plus minus setiap calon itu sejak awal disadari tapi ini satu kesatuan, Presidennya Pak Jokowi dan wakil presiden membantu tugas," ucapnya.

Oleh sebab itu, ia turut membantah tudingan Mahfud mengenai permintaan Ma'ruf Amin kepada Nadhlatul Ulama mengenai ancaman kepada Jokowi.

"Enggak ada ancam mengancam, apalagi lihat sosok Kiai Maruf itu pengayom. Beliau selama satu tahun bersama Pak Mahfud MD di BPIP," imbuhnya menambahkan. (dil)


TOPIK BERITA TERKAIT: #mahfud-md #menuju-istana-presiden #jokowi #pilpres-2019 

Berita Terkait

IKLAN