Selasa, 25 September 2018 04:24 WIB
pmk

Headline

Gempa Belum Berakhir

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - GEMPA ternyata belum berakhir di Nusa Tenggara Timur (NTB). Tadi malam (19/8) sekitar pukul 21.56 WIB, gempa dengan kekuatan 7,0 skala richter (SR) meng¬guncang Lombok. Lokasi gempa 8.28 LS - 116.71 BT. Situs resmi BMKG menjelas¬kan, pusat gempa berjarak 30 km timur laut Lombok Timur, NTB, dengan kedala¬man 10 km.

Gempa susulan dengan kekuatan 5.6 SR kembali terjadi pada pukul 22.16 WIB, tadi malam. Lokasi gempa 8.35 LS - 116.53 BT dengan kedalaman 10 km. Pusat gempa 18 km barat laut Lombok Timur. Kedua gempa tidak berpotensi tsunami.

Sebelumnya gempa susulan masih dira¬sakan masyarakat Lombok dan sekitarnya. Kemarin (19/8) dua gempa susulan sempat dirasakan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa susulan yang dirasakan terjadi dua kali yakni 5,4 skala richter (SR dan 6,5 SR).

Gempa pertama dengan kekuatan 5,4 SR terjadi pada pusat gempa 25 km timur laut Lombok Timur dengan kedalaman 10 km kemarin pukul 10.06 WIB. Kemudian gempa kedua terjadi pada pukul 11.06 WIB dengan kekuatan 6,5 SR dengan episentrum 32 km timur laut Lombok Timur NTB pada kedala¬man 10 km.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Dary¬ono mengungkapkan analisis awal BMKG menunjukkan gempa bumi kedua berkekua¬tan 6,5 SR kemudian dimutakhirkan menjadi 6,3. SR

Episenter gempabumi kedua ini terle¬tak pada koordinat 8,24 LS dan 116,66 BT atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 32 km arah timur laut Kota Mata¬ram, Propinsi Nusa Tenggara Barat pada kedalaman 14 km. ”Episenternya tidak jauh dari lokasi gempa besar 7.0 lalu. Jadi kami yakin ini adalah bagian dari gempa susulan (aftershock),” katanya.

Daryono menjelaskan jika diperhatikan lokasi episenter, kedalaman hiposenter, dan mekanisme sumbernya, maka gempa tersebut merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust). ”Hasil anali¬sis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik (Thrust Fault),” jelasnya.

Hingga kemarin pukul 12.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi 797 aktivitas gempabumi susulan (aftershock). ”Di antara jumlah itu, 33 gempa bumi dirasakan,” pungkasnya

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Na¬sional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, posko BNPB telah melaku¬kan analisis dan konfirmasi dampak gempa Lombok ke BPBD. Guncangan gempa dirasakan keras selama 4-8 detik dirasakan di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Utara, Lombok Barat, dan Lom¬bok Tengah. ”Guncangan sedang selama 4-6 detik dirasakan di Kota Mataram, Kota Denpasar, Jembrana, Karangas¬em, Badung, Gianyar, Bangli, Tabanan, Klungkung, dan Buleleng,” katanya ke¬marin saat dihubungi koran ini.

Guncangan paling keras dirasakan di Lombok Timur. Masyarakat di Sembalun Lombok Timur, yang sedang bekerja di kebun dan berkendara motor di ja-lan, segera berlarian mencari tempat aman. ”Mereka meninggalkan kebun dan sepeda motornya. Berkumpul di tempat aman,” tutur Sutopo.

Menurut laporan yang diterima Sutopo, saat terjadi gempa masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah atau tenda pengungsian. ”Belum ada lapo¬ran kerusakan dan korban jiwa akibat gempa,” ungkapnya. Tidak ada laporan korban jiwa dan kerusakan. ”Masyara¬kat hanya bertambah trauma dengan gempa-gempa susulan, apalagi gempa yang dirasakan keras,” imbuhnya.

Dampak lainnya, gempa tersebut menyebabkan longsor di beberapa ti¬tik lereng Gunung Rinjani. Sutopo menjelaskan, longsor terjadi di Bukit Pegangsingan dan Bukit Anak Dara Ke¬camatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur. Longsoran yang berupa batu-batu dari bagian atas gunung, longsor menuruni lereng sehingga menimbulkan debu di lereng Gunung Rinjani. ”Tidak ada korban jiwa karena Taman Nasional Gunung Rinjani sampai saat ini masih ditutup. Tidak ada aktivitas masyara¬kat dan wisatawan di dalam Gunung Rinjani. Namun demikian petugas SAR akan melakukan penyisiran setelah gempa,” ujar Sutopo.

Sementara itu, di Bali masyarakat dan wisatawan merasakan guncangan ringan hingga sedang. ”Sebagian segera keluar rumah dan bangunan. Tidak ada kepani¬kan. Belum ada laporan dampak gem¬pa,” kata Sutopo. Hingga saat ini BPBD bersama aparat TNI, Polri, Basarnas, Tagana, SKPD, PMI, relawan dan lainnya masih melakukan pemantauan dampak gempa. Sementara itu, beberapa kantor pemerintahan rusak akibat gempa yang terjadi beberapa waktu lalu. Dibutuhkan dana sekitar Rp 20 miliar hingga Rp 30 miliar untuk memperbaikinya terma¬suk sarana prasarana pelayanan yang ikut rusak. ”Tapi itu baru perkiraan kita, pastinya kita tunggu penilaian dari Dinas PUPR,” kata Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) NTB H Supran.

Dijelaskan, pemprov akan berusaha membiayai perbaikan. Tapi kini tim Dinas PUPR sedang turun mengecek kondisi bangunan semua kantor dinas dan badan. Baru setelah itu bisa diketa¬hui berapa kebutuhan dana perbaikan.

Di samping itu, Pemprov NTB akan meminta kepada bantuan pada Ke¬menterian Dalam Negeri (Kemendagri). Tapi sejauh ini, Supran mengaku belum mendapat informasi pusat akan mem¬bantu perbaikan, sehingga akan tetap diusulkan dalam APBD Perubahan 2018.

Meski gedung kantor tidak bisa dipakai, pelayanan pemerintah sudah berjalan. Hanya, beberapa instansi pemerintah terpaksa menggunakan tenda untuk pelayanan. Seperti Badan Kepegawaian Daerah (BKD) NTB yang membangun tenda di tengah lapangan kantor.

Para pegawai tampak sibuk dengan tumpukan berkas di tenda darurat. Salah satunya Kepala Bidang Mutasi BKD NTB Wahibullah. ”Alhamdulillah aman, mu¬dahan tidak hujan saja,” katanya.

Ia mengaku, bidangnya tidak boleh berhenti bekerja. Sebab mereka harus menuntaskan berkas kenaikan pangkat semua pegawai pemprov. Berkas itu ha¬rus segera dirkim agar cepat diproses. Batas pengirimannya paling lambat 30 Agustus mendatang. Kalau tidak dikirim pegawai terancam tidak naik pangkat. ”Makanya harus kita kejar,” katanya.

Untuk mengoptimalkan pelayanan, pihaknya sudah memesan tenda ukuran sekitar 30 meter ke Badan Kepegawaian Nasional (BKN). Tenda itu akan diman¬faatkan untuk pelaksanaan tes CPNS akhir tahun ini. Beberapa komputer yang ada di gedung diklat juga akan mereka pindahkan ke tenda nantinya. ”Sehingga seleksi CPNS tetap bisa ber¬jalan,” ujarnya.

Wahibullah menambahkan, BKD juga sedang mendata pegawai yang jadi ko¬rban. Jumlah PNS yang meninggal ter¬data baru dua orang, atas nama Sri Dari Danawati, guru SMPN 2 Kayangan, dan Mugni SMPN 1 Tanjung. Bagi korban me¬ninggal dunia saat melaksanakan tugas akan diberikan pangkat anumerta. San¬tunan bagi keluarga juga akan diberikan dari PT Taspen. ”Bagi yang luka-luka akan mendapatkan bantuan,” katanya.

Kepala BKD NTB H Fathurrahman menambahkan, hampir semua dinas menggunakan tenda karena para pega¬wai masih trauma. Mereka juga takut masuk ruangan karena retak dan rawan roboh. Diharapkan dalam waktu dekat hasil asesment kondisi bangunan sudah keluar hasilnya. ”Pelayanan tetap berja¬lan seperti biasa, terutama yang sifatnya rutin,” kata Fathurrahman.

Ditegaskannya, pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan tidak boleh berhenti. Mereka harus tetap berjalan seperti biasa. Termasuk di KLU yang diminta membangun tenda darurat di lapangan. Di tempat berbeda, Gunung Anak Krakatau dikabarkan mengalami letusan sebanyak 576 kali, Sabtu (18/8). Kendati seperti itu, aktivitas di laut dan di udara masih aman. Berdasarkan in¬formasi yang dihimpun dari Pos Penga¬manan Gunung Anak Krakatau PVMBG, tinggi letusan bervariasi dari 100 meter hingga 500 meter dari puncak kawah.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui ket¬erangan resminya menjelaskan, gunung yang terletak di perairan Selat Sunda itu hampir setiap hari mengalami letusan.

Untuk kejadian pada Sabtu akhir pekan lalu itu, letusan terjadi dengan am¬plitudo 23 hingga 44 mm, dan durasi letusan 19-255 detik. Letusan disertai lontaran abu vulkanik, pasir, lontaran batu pijar, dan suara dentuman. ”Secara visual pada malam hari teramati sinar api dan guguran lava pijar. Hembusan berlangsung 80 kali kejadian, amplitudo 5-30 mm dengan durasi 10-80 detik,” ujarnya dalam keterangan tersebut.

Dengan data itu menunjukan, ini adalah letusan yang terbanyak kedua sejak ad¬anya peningkatan aktivitas vulkanik Gu¬nung Anak Krakatau pada 18 Juni lalu. Letusan terbanyak terjadi pada 30 Juni lalu dengan letusan sebanyak 745 kali.

Status Gunung Anak Krakatau kini Waspada (level II) dengan radius zona berbahaya di dalam radius 2 km. Status ini sudah dinyatakan sejak 26 Januari lalu hingga sekarang. ”Status Waspada artinya aktivitas vulkanik di atas normal sehingga terjadinya erupsi dapat terjadi kapan saja. Tidak membahayakan selama masyarakat tidak melakukan aktivita¬snya di dalam radius 2 km,” ujarnya.

Dijelaskan, erupsi Gunung Anak Krakatau adalah hal yang biasa dan normal. Ibarat manusia, gunung ini masih dalam pertumbuhan. Gunung akan menambah tubuhnya untuk lebih tinggi, besar, dan lebih gagah dengan cara meletus. Gunung ini masih aktif meltus untuk tumbuh besar dan tinggi dengan melakukan erupsi. Tetapi energi letusannya tidak besar.

Masyarakat diimbau tetap tenang. BPBD Provinsi Banten, BPBD Provinsi Lampung, PVMBG dan BKSDA telah melakukan langkah antisipasi. Yang penting masyarakat mematuhi reko¬mendasi tidak melakukan aktivitas di dalam radius 2 km dari puncak kawah. Di luar itu aman. ”Justru sesungguhnya ini adalah peluang untuk wisata dan edukasi gunungapi. Tidak semua negara memi¬liki gunungapi. Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. 13 persen gunungapi aktif di dunia ada di Indonesia,” ujarnya.

”Tinggal bagaimana kita menyikapi dan harmoni dengan alamnya. Selalu ada berkah di balik bahaya yang mengan¬camnya selama kita mengenali dan be¬rada di tempat yang aman,” tambahnya. (ili/r7/lyn/tau/bam/JPG)


TOPIK BERITA TERKAIT: #gempa-lombok #gempa-bumi 

Berita Terkait

IKLAN