Rabu, 19 September 2018 04:12 WIB
pmk

Ekonomi

Banyak Manfaat, Tanaman Bioteknologi Naik 4,7 juta Ha

Redaktur: Redjo Prahananda

TANAMAN-Suasana seminar bertema ‘Status Global Komersialisasi Tanaman Biotek 2017’ di IPB Convention Centre, Bogor, (20/8/2018). Foto: J. Armanto/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID – Tanaman hasil bioteknologi tidak hanya dapat meningkatkan produksi di tengah-tengah terbatasnya lahan, tapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

”Tanaman bioteknologi memberikan manfaat yang cukup besar bagi lingkungan, kesehatan manusia, dan hewan, serta berkontribusi untuk perbaikan kondisi sosial ekonomi petani dan masyarakat,” kata Ketua Dewan Direksi The International Service for The Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) Paul S. Teng dalam seminar bertema ‘Status Global Komersialisasi Tanaman Biotek 2017’ yang digelar Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC) didukung ISAAA di IPB Convention Centre, Bogor, (20/8/2018).

Dia menambahkan, penggunaan tanaman bioteknologi meningkat sebesar tiga persen pada 2017 atau setara dengan 4,7 juta hektare (ha). Peningkatan ini terutama disebabkan profitabilitas yang lebih besar dan berasal dari harga komoditas yang tinggi.

”Tidak hanya itu, peningkatan penggunaan bioteknologi juga disebabkan karena meningkatnya permintaan pasar baik dari dalam atau luar negeri. Dengan begitu otomatis permintaaan benih bioteknologi pun ikut meningkat,” ujar Paul.

Dia mengatakan, berdasarkan catatan saat ini sudah ada 19 negara yang menggunakan benih bioteknologi di antaranya India, Pakistan, Brazil, Bolivia, Sudan, Meksiko, Kolombia, Vietnam, Honduras, dan Bangladesh. Inilah yang mendorong petani untuk mengadopsi bioteknologi bagi produksi pangan.

”Jadi memang beberapa tahun terakhir ini luasan areal tanaman bioteknologi di negera-negara berkembang kini mencapai 53 persen dari total keseluruhan area tanaman bioteknologi,” ucap Paul.

Graham Brookes, direktur PG Economics mengatakan, antara 1996-2016 tanaman bioteknologi telah menghasilkan keuntungan sebesar USD 186,1 miliar bagi sekitar 17 petani.

Sejauh ini banyak pelaku pertanian yang mulai beralih menggunakan tanaman bioteknologi. Ini karena tidak sedikit pelaku pertanian saat ini berjenis kelamin perempuan dan hanya memiliki lahan yang cukup kecil. ”Petani berusaha untuk mencukupi kebutuhan keluarganya di tengah keterbatasan lahan,” tandasnya.

Di sisi lain, lanjut Graham, penggunaan bioteknologi bisa menjawab kerawanan pangan global yang kini telah menjadi masalah besar bagi negara-negara berkembang. ”Kita perlu waspada, ada sekitar 108 juta orang yang hidup di negara-negara yang terkena dampak krisis pangan, dan berisiko mengalami kerawanan pangan,” ujarnya.

”Kami telah melihat selama lebih dari 20 tahun ini bagaimana dengan mengadopsi bioteknologi di negara-negara berkembang telah berkontribusi terhadap hasil yang lebih tinggi, produksi yang lebih aman, dan peningkatan pendapatan bagi petani, sehingga menurunkan angka kemiskinan, kelaparan, dan kekurangan gizi,” pungkasnya. (adl/aro)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #pertanian #bioteknologi 

Berita Terkait

IKLAN