Rabu, 19 September 2018 06:10 WIB
pmk

Jakarta Raya

Pembangunan Waduk Sigura-gura Terus Dikebut

Redaktur:

INDAH- Waduk Sigura-gura di Jalan Sigura-gura, Duren Tiga, Jakarta Selatan, yang berfungsi sebagai pengendali banjir sekaligus lokasi pemancingan. Foto: Iqbal/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID – Waduk Sigura-gura di Jalan Sigura-gura, Duren Tiga, Jakarta Selatan rencananya bakal dipagari. Hal ini untuk mencegah terjadinya pendangkalan kembali waduk, dan juga longsor di sisi luar waduk. Selain itu, pemagaran juga dilakukan agar masyarakat dari luar wilayah itu yang datang untuk memancing menjadi nyaman dan tertib.

Lurah Duren Tiga, Bambang Suhada mengatakan, sebelum dipagari, di sekeliling waduk tersebut telah diturap.

 "Proses penurapan dilakukan sejak awal Agustus lalu. Sesudah itu baru akan dipasangi pagar," ujar Bambang, Senin (20/8). 

Terpantau Senin siang kemarin,  penurapan atau pembuatan dinding pada waduk tersebut kini hampir rampung. “Setiap harinya banyak pemancing yang menghabiskan waktu di sana,” katanya.

Bambang menambahkan, proses pemagaran akan dianggarkan dalam APBD Perubahan sekitar bulan Oktober mendatang.

"Untuk pemagaran masuk tahap dua yakni pada APBD perubahan. Jadi sekarang finishing turap sambil menunggu APBD perubahan sekitar bulan Oktober," jelasnya.

Waduk Sigura-gura sendiri memiliki luas kurang lebih 1.000 meter persegi. Tujuan utamanya dahulu dibangun sebagai kolam parkir air atau penampung air sebelum mengalir ke PHB Jatiluhur yang selanjutnya menuju ke Kali Cideng samping Gedung Smesco.

"Fungsi waduk ini sebenarnya untuk mencegah terjadinya banjir karena dilokasi tersebut terdapat Gardu Induk PLN dan Kantor PLN," ujar Bambang.

Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Teguh Hendarwan, dalam sejumlah kesempatan mengungkapkan bahwa pembangunan waduk di Jakarta terus dilakukan. Saat ini ada beberapa bidang lahan milik penduduk yang belum dibebaskan. Tahun ini, Dinas menganggarkan sekitar Rp 500 miliar untuk pembebasan lahan bakal waduk.

Teguh mencontohkan pembangunan Waduk Brigif di Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang sempat terhambat masalah pembebasan lahan. Menurut dia, dari 11 hektare lahan untuk waduk, Dinas perlu membebaskan lagi sekitar 6.000 meter persegi lahan penduduk. Dinas mulai membangun Waduk Brigif sejak April 2014. Saat ini, waduk itu berfungsi menampung air.

Contoh lainnya, menurut Teguh, ialah pembangunan Waduk Rawa Lindung di Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

“Untuk Rawa Lindung, itu tinggal satu bidang lahan (belum bebas), sekitar 2.000 meter persegi,” tuturnya. Waduk Rawa Lindung direncanakan diperluas hingga 14.700 meter persegi sejak Joko Widodo menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Adapun pembangunan Waduk Pondok Ranggon I, II, dan III di Cipayung, Jakarta Timur, menurut Teguh, terhambat keterbatasan alat berat. Alat keruk, misalnya, digunakan di Waduk Kampung Rambutan, Cimanggis, Pekayon, Jakarta Timur. “Tinggal kami keruk, tapi kan alatnya terbatas,” ujar dia.

Waduk Brigif, jika sudah berfungsi optimal, bisa menjadi penampungan air sehingga tak menambah debit air Kali Krukut. Sedangkan Waduk Cimanggis diperkirakan bisa menampung air dan tak menambah debit air Kali Cipinang. “Kalau seluruh waduk sudah berfungsi maksimal, bisa mengurangi debit air kali dan sungai sekitar 30-40 persen,” kata Teguh. (ibl)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #waduk-sigura-gura 

Berita Terkait

IKLAN