Selasa, 13 November 2018 05:43 WIB
pmk

Nasional

Usai Diperiksa KPK, Sukiman: Toyota Camry dan Apartemen Bukan Milik Saya

Redaktur:

Sukiman, Anggota DPR RI, Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) usai periksa KPK sebagai saksi terkait kasus suap usulan dana perimbangan daerah pada RAPBN Perubahan Tahun Anggaran 2018, Jakarta, Selasa (21/8/2018). Foto: Akbar/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selesai memeriksa Sukiman, Anggota DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) tekait kasus suap usulan dana perimbangan daerah pada RAPBN Perubahan Tahun Anggaran 2018. Sukiman diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Amin Santono. KPK menduga keterlibatannya dalam kasus ini mengemuka setelah KPK menggeledah rumah dinas dan apartemen yang ditempati staf ahlinya. Dari kedua tempat itu, KPK menyita dokumen dan mobil Toyota Camry.

Setelah di periksa, ia menururkan kepada wartawan jika pemeriksaannya kali ini hanya mengklarifikasi soal Amin Santono. ”Saya hanya klarifikasi terkait dengan soal Amin Santono, kalau penggeledahan apartemen saya tidak tahu soalnya apartemen bukan milik saya,” ujar Sukiman kepada wartawan usai diperiksa KPK, Jakarta, Selasa (21/8/2018).

Saat penggeledahan yang dilakukan KPK, penyidik menyita sebuah Toyota Camry, saat ditanya perihal penyitaan tersebut, Sukiman menampik kepemilikan kendaraan tersebut. ”Engga, bukan punya saya, saya mengklarifikasi soal Amin Santono dan pembahansan anggaran,” tandasnya

Dalam kasus ini, KPK baru menetapkan empat orang tersangka. Mereka adalah teman sejawat Sukiman di Komisi Keuangan, Amin Santono, dan mantan pejabat Kementerian Keuangan Yaya Purnomo sebagai penerima suap. Dua orang lagi adalah kontraktor yakni Ahmad Ghiast dan Eka Kamaluddin sebagai pemberi hadiah.

Terkuaknya kasus ini bermula dari operasi tangkap tangan yang digelar KPK terhadap Amin di kawasan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada 4 Mei 2018. Dalam operasi itu, KPK menyita Rp 400 juta dan bukti transfer Rp 100 juta, serta dokumen proposal penganggaran dana perimbangan daerah. Setelah menangkap Amin, KPK kemudian menangkap Yaya, serta Ahmad dan Eka di lokasi berbeda.

KPK menyangka total uang Rp 500 juta yang diterima Amin adalah komitmen fee dari 7 persen imbalan yang dijanjikan dalam dua proyek di Kabupaten Sumedang bernilai Rp 25 miliar. (cr-1)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kpk #pan 

Berita Terkait

IKLAN