Selasa, 25 September 2018 02:28 WIB
pmk

Nusantara

Pangdam Tanjungpura Akan Tindak Tegas Setiap Pelaku Pembakar Hutan di Kalbar

Redaktur: Redjo Prahananda

INDOPOS.CO.ID - Bencana kabut asap di Kalimantan Barat yang kian parah membuat banyak sekolah di sana diliburkan. Masyarakat diharapkan mengurangi aktifitas luar demi kesehatan.

Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Achmad Supriyadi meminta kepada oknum masyarakat yang punya rencana membakar agar segera mengurungkan niatnya. Kodam XII/Tpr saat ini sudah melaksanakan patroli dengan jumlah kekuatan 2 SSK di wilayah Kabupaten Kubu Raya dan Kota Pontianak sekitarnya. Anggotanya yang berpatroli akan melakukan penangkapan dan melakukan tindakan tegas, apabila ada orang yang membakar. “Kami kemarin menemukan jirigen jadi ini memang dibakar,” papar Pangdam dalam pernyataannya yang diterima Jawa Pos Grup, Selasa (21/8/2018).

Tindakan tegas untuk dilumpuhkan apabila ada perlawanan dan itu membahayakan anggota yang bertugas di kawasan Karhutla.

“Mengapa dilumpuhkan bukan berarti asal ditembak, dilumpuhkan itu selama masih bisa diringkus itu ya kita ringkus. Tapi kalau bisa jangan ada perlawanan, kalau tidak ada perlawanan secara administrasi kita serahkan kepolisian,” jelasnya.

Pagdam memaparkan, bencana ini berdampak pada kesehatan. Termasuk juga hubungan internasional Kalbar dengan negeri jiran. Sebab Sarawak, Malaysia pun telah kena imbasnya.

“Karena kabut asap ini sudah mencapai lintas negara dan saat ini juga sudah ada warning dari Malaysia bahwa kabut asap sudah masuk ke Kuching (Sarawak),” paparnya.

Tak hanya mengganggu aspek ekonomi, tapi aspek pendidikan. Pemprov Kalbar melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan surat edaran tentang diliburkannya proses belajar dan mengajar yang di mulai tanggal 20-23 Agustus 2018.

Dikatakan Pangdam, pihaknya telah melakukan langkah-langkah taktis dan strategis untuk meredam permasalahan kabut asap di Kalbar. Langkah taktis diantaranya dengan menghentikan pembakaran dan dengan dibentuknya Satgas Darat untuk menggelar pasukan di titik-titik kebakaran sepanjang Kalbar dan Kalteng yang menjadi tanggung jawab wilayah teritorial Kodam XII/Tpr.

Sedangkan untuk langkah strategis Pangdam memaparkan, saat ini sudah mengoptimalkan empat unit water boombing yang ada di Lanud Supadio. Selain itu juga menurunkan unit Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan tujuan untuk membuat dan memodifikasi cuaca menjadi hujan. Pangdam berharap kedepan ada solusi yang berkonsep terpadu agar masalah asap bersumber karhutla dapat dieliminir. Terpenting dihentikan, karena dampaknya sudah sangat luar biasa.

“Saya akan melakukan apapun baik tindakan di lapangan dengan tegas, karena saya lebih mementingan generasi-generasi kedepan kemudian saya juga akan ikut memfasilitasi, ikut berpikir mencari solusi dengan konsep terpadu kedepan,” pungkas Pangdam.

Sementara itu, Kepala Manggala Agni Daops Pontianak Sahat Irwan Manik menuturkan, karhutla di Kalbar setiap tahun selalu menjadi masalah yang terulang. Terlebih ketika musim kemarau tiba. Ini lantaran prilaku masyarakat belum dibina dengan baik.

“Semua pelaku pembakaran lahan tersebut diduga dari masyarakat. Intinya pengolahan lahan yang dilakukan masih dengan cara lama yakni dengan cara membakar,” terangnya kepada Rakyat Kalbar.

Menurut Sahat, untuk menanggulangi kasus karhutla di Kalbar mesti menggunakan sudut pandang lain. Jangan hanya terpaku pada pemadaman. Karena dengan begitu hanya menyelesaikan masalah sementara.

Untuk itu, Sahat lebih memfokuskan program pencegahan dan pengaktifan kelompok-kelompok kecil di tingkat desa. Kedepan dia berharap instansi terkait membuat program-program yang mendukung upaya pencegahan karhutla.

“Harapan kami ada pendampingan dalam ilmu pertanian masyarakat. Supaya mereka tidak membakar, tercipta solusi. Kita harus tingkatkan sinergitas antara masyarakat, pemerintah, dan pemilik usaha,” harapnya.

Penanganan masalah karhutla tidak lah mudah. Kalbar wilayahnya sangat luas, sehingga sulit menjangkaunya. Ditambah lagi sumber daya manusia yang dimiliki masih kurang.

Sejak Maret sampai sekarang, pihaknya telah memberlakukan Patroli Terpadu. Tim Manggala Agni diterjunkan untuk memantau 60 desa di Kalbar. Namun di lapangan belum berjalan efektif. “Karena jumlah personel kita hanya 60 orang tersebar di empat kabupaten di Kalbar,” sebutnya.

Dijelaskan Sahat, ada dua fase karhutla, yakni akhir Januari sampai dengan awal Februari. “Kemudian Juli sampai dengan September,” ucapnya.

Biaya yang harus dikeluarkan setiap sekali melakukan pemadaman karhutla berkisar tiga sampai sembilan juta rupiah.

“Untuk internal kita cukup, namun, biasanya di lapangan ada pengeluaran yang tak terduga, terutama biasanya kami dibantu oleh masyarakat peduli api,” tuntas Sahat. (ambro/jpg/ind)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kebakaran-hutan 

Berita Terkait

IKLAN