Sabtu, 22 September 2018 03:07 WIB
pmk

Nusantara

KLHK: Udara di Pontianak Sudah Tidak Sehat

Redaktur: Redjo Prahananda

Ilustrasi Kebakaran Lahan. KLHK menyatakan udara di Pontianak sudah tak lagi sehat. Hal ini menyusul adanya pembakalan lahan secara serempak. (dok.jawapos)

INDOPOS.CO.ID - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan udara di Kota Pontianak Kalimantan Barat sekarang sudah tidak sehat.

Berdasarkan indeks standard pencemaran udara (ISPU), KLHK mencatat nilai ISPU sudah mencapai angka 156, dari kategori baik di angka 0 sampai 51.

"Kota Pontianak pemantauan sore ini tidak sehat, artinya harusnya dibawah 50," kata Kabiro Humas KLHK Djati Witjaksono Hadi kepada JPG, Selasa (21/8/2018).

Menurut Djati, ketebalan asap di Kota Pontianak bukan berasal dari kebakaran hutan. Melainkan  pembakaran ladang oleh masyarakat desa secara serempak.

"Beberapa wilayah melakukan acara gawai pembakaran lahan, kalau kondisinya serempak beberapa kampung lumayan juga (asapnya)," ucap Djati.

Sementara itu, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Raffles menyatakan, Agustus merupakan bulan menanam bagi sebagian besar petani tradisional di Kalimantan Barat, sehingga tradisi gawai menjadi salah satu penyebab tingginya kejadian kebakaran.

"Karena masyarakat memanfaatkan cuaca kering, untuk membakar sisa-sisa pembukaan dan pembersihan ladang mereka," ucap Raffles.

Raffles juga menjelaskan, dalam mengawali menggarap lahan pertaniannya, masyarakat melakukan pembersihan lahan dengan membakar yang kemudian dilanjutkan dengan nugal. Yaitu membuat lubang untuk menanam benih.

"Pada masa pembersihan lahan dengan tradisi membakar inilah masa rawan terpantau hotspot. Penyiapan lahan dengan metode tersebut kalau tidak terencana, menyebabkan api merambat ke lahan lain lebih luas", tambah dia.

Bukan cuma itu, Raffles menyebut Agustus hingga September diprediksi sebagai puncak musim kemarau di Indonesia, di mana kondisi sejumlah wilayah di Indonesia cukup kering.

“Kondisi  ini menimbulkan kerawanan  karhutla terutama di wilayah– wilayah rawan, salah satu indikasi adalah,  peningkatan hotspot (titik panas) di Sumatera dan Kalimantan, terutama Kalimantan Barat," papar dia mengakhiri. (rdw/jpc/ind)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kebakaran-hutan #klhk 

Berita Terkait

IKLAN