Minggu, 23 September 2018 03:47 WIB
pmk

Nasional

Alasan Gempa Lombok Batal Menjadi Bencana Nasional

Redaktur: Redjo Prahananda

INDOPOS.CO.ID -  Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menegaskan, pemerintah masih bisa menanggulangi bencana gempa Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sehingga, pemerintah tidak perlu meningkatkan status, gempa di Lombok menjadi bencana nasional.  Sutopo mengungkapkan lima variabel gempa Lombok batal naik status menjadi bencana nasional.

Lima variabel itu antaralain; jumlah korban, kerugian harta benda, kerusakan prasarana dan sarana, cakupan luas wilayah terkena bencana dan dampak sosial ekonomi timbul dari bencana tersebut.

"Namun indikator itu saja tidak cukup. Poin mendasar indikator dan sulit diukur, kondisi dan fungsi pemerintah daerah apakah collaps atau tidak," kata Sutopo dalam konferensi persnya di kantor BNPB Jakarta, Selasa (21/8/2018).

Contoh status bencana nasional  tsunami Aceh tahun 2004, di mana pemerintah daerah, baik provinsi dan kabupaten atau kota termasuk unsur pusat di Aceh seperti Kodam dan Polda  sudah tidak mampu menangani bencana.

"Luluh lantak dan tidak berdaya sehingga menyerahkan ke Pemerintah Pusat. Pemerintah kemudian menyatakan sebagai bencana nasional. Resikonya semua tugas pemerintah daerah diambil alih pusat termasuk pemerintahan umum. Bukan hanya bencana saja," ujar Sutopo.

Sementara, potensi nasional masih mampu mengatasi penanganan darurat bahkan sampai rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana nanti.

Tanpa status bencana nasional penanganan bencana  sudah nasional. Pemerintah pusat terus mendampingi dan memperkuat pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten atau kota.

“Penguatan ini bantuan anggaran, pengerahan personel, bantuan logistik dan peralatan, manajerial dan tertib administrasi," papar Sutopo.

Sutopo juga mengungkapkan, akibat dampak gempa 6.9 SR di Lombok dan Sumbawa yang terjadi pada Minggu (19/8/2018).

Tercatat, 14 orang meninggal dunia  dengan rincian 6 orang meniggal di Lombok Timur 6, 1 orang di Lombok Tengah, 6 orang di Pulau Sumbawa, 1 orang di Sumbawa Barat.

Korban luka-luka tercatat sebanyak  24 orang, 151 unit rumah rusak, 6 fasilitas peribadatan rusak, dan 1 kantor rusak.

Dia menambahkan, dampak dari gempa bumi Lombok dan sekitarnya sejak hari Minggu (29/7/2018) sampai Minggu (19/8/2018) tercatat sebanyak 515 orang meninggal dunia.

Sedangkan, 7.145 orang luka, 431.416 orang mengungsi, 73.843 rumah rusak, dan 798 unit fasilitas umum dan sosial rusak. "Diperkirakan kerugian dan kerusakan mencapai Rp 7,7 triliun," ujar Sutopo.

Sedangkan data gempa susulan, tercatat 825 kali gempa susulan pascagempa 7 SR pada Minggu (5/8/2018) hingga Minggu (19/8/2018).

Khusus pascagempa 6,9SR pada Minggu malam (19/8/2018) tercatat hingga Selasa pagi (21/8/2018) ada 180 kali gempa susulan. (lov/rmol/ind)


TOPIK BERITA TERKAIT: #bnpb #gempa-lombok #gempa-bumi 

Berita Terkait

IKLAN