Rabu, 14 November 2018 01:45 WIB
pmk

Indotainment

Film Jejak Cinta Potret Kanker Serviks dan Seribu Kelenteng

Redaktur:

Tampil Lagi - Prisia Nasution menunjukan aksinya dalam film bertemakan kesehatan besutan tangan dingin Tarmizi Abka. Foto : Trazz Production dan Scene for Indopos

INDOPOS.CO.ID – Film bertemakan kesehatan dengan memadukan kearifan lokal daerah di suguhkan Trazz Production dan Scene. Melalui tangan dingin, Tarmizi Abka, film ini rencananya akan tayang secara nasional di layar bioskop mulai 6 September 2018.

”Film Jejak Cinta membawa pesan bagi para wanita yang terkena kanker serviks untuk menyikapi penyakit tersebut secara positif,” ujarnya kepada Indopos belum lama ini.

Dibintangi oleh Baim Wong, Prisia Nasution, Mathias Muchus, Della Perez, dan Zora Vidayatia, film ini menceritakan tentang Maryana seorang Desainer Batik yang sengaja pulang ke tanah kelahirannya Singkawang untuk membuat desain batik terbarunya yang akan diikutkan dalam ajang Festival Batik di Berlin.

Maryana yang dibintangi oleh Prisia Nasution ini setiap hari sangat khawatir dirinya terkena kanker serviks. Hal itu karena almarhumah ibunya meninggal karena kanker serviks stadium 4.

"Tokoh yang bernama Maryana Itu memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Namun dia tidak berani membuka amplop hasil pemeriksaan dokter tersebut, karena khawatir hasilnya adalah dia positif terkena kanker serviks," ujar Tarmizi.Abka.

Di sisi lain, ia dan suaminya yang bernama Hasan, yang diperankan oleh Baim Wong, ingin sekali mempunyai anak. “Namun bagaimana mereka bisa punya anak, kalau seandainya ternyata sang istri terdeteksi kena kanker serviks?” tuturnya.

Cerita bertambah rumit, ketika suatu hari, Hasan mendapat telepon dari Sarah, diperankan oleh Della Perez. Selama ini, Hasan dekat dengan ayahnya Della yang bernama Hendrawan (diperankan oleh Mathias Mucus).

“Keluarga orang tua Della tengah mengalami musibah. Ayahnya Della dipenjara karena terlibat sebuah kasus. Ia meminta Hasan menolong Della. Hasan bersedia menolong tapi ia bingung, karena ia sudah beristri, sedangkan ia punya hutan budi kepada ayahnya Della,” paparnya.

Bagaimanakah akhir film ini? Apa keputusan yang akhirnya diambil oleh Hasan? “Pesan tentang penyakit kanker serviks menjadi sangat menarik dalam film ini, karena dikemas dalam problematika keluarga,” kata Tarmizi Abka, sutradara yang telah menelurkan film “Kalam-Kalam Langit” itu.

Produser Eksekutif film Jejak Cinta Hasan Karman menambahkan, selain tentang kanker serviks, film Jejak Cinta juga membawa pesan kebangsaan dari ranah Singkawang yang dijuluki Negeri 1.000 Kelenteng.

"Singkawang di Kalimantan Barat ini masyarakatnya merupakan perpaduan etnis yang kekayaan budayanya menjadi daya tarik tersendiri. Selain mengangkat sisi romantika, Film Jejak Cinta mengangkat Batik khas Singkawang yaitu Batik Tidayu yakni Tionghoa, Dayak dan Melayu," ucapnya.

Melalui film ini, kami ingin mengusung pesan kebangsaan, yakni persatuan bangsa kita yang multietnis. Semoga dengan menonton film ini, masyarakat Indonesia makin kuat persatuannya dan saling menghargai satu sama lain," paparnya.

Hasan menambahkan, film ini sekaligus menggambarkan persatuan Tidayu yang sangat baik di Singkawang. Diharapkan, film ini bisa menginspirasi masyarakat Indonesia di wilayah mana pun berada untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Di samping itu, di film ini juga mengangkat budaya Cap Go Meh, untuk mendorong  pawisata Kalimantan Barat. Film ‘Jejak Cinta’ mengambil lokasi syuting seluruhnya di Singkawang. (ash)


TOPIK BERITA TERKAIT: #film 

Berita Terkait

Drama dengan tema Azab Warnai Program ANTV

Indotainment

Lima Film Dokumenter Jadi Inspirasi

Indotainment

Akting di Film Horor, Ayu Disupport Depe dan Zaskia

Indotainment

IKLAN