Sabtu, 17 November 2018 09:56 WIB
pmk

Nasional

Implementasi Permentan 26/2017, Ditjen PKH: Partisipasi IPS dan Importir Meningkat

Redaktur: Ali Rahman

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Fini Murfiani usai melakukan sosialisasi terhadap perubahan Permentan No 26 tahun 2017 di kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, Selasa (21/8/2018). Foto: Yudha KrastawanINDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian mengapresiasi para pelaku usaha besar dan pelaku hilir yang sudah berkomitmen untuk selalu membangun kemitraan dengan peternak, koperasi dan pelaku di hulu. 

Ini menyusul meningkatnya partisipasi dari para Industri Pengolahan Susu (IPS) dan Importir dalam implementasi Permentan 26/2017 sejak diundangkan tanggal 17 Juli 2017. 

"Tercatat sampai dengan tgl 16 Agustus 2018 telah masuk 102 proposal dari 120 perusahaan yang terdiri dari 30 Industri Pengolahan Susu (IPS) dan 90 importir, dengan total nilai investasi kemitraan sebesar Rp 751,7 miliar untuk periode tahun 2018," ucap Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Fini Murfiani melalui keterangannya kepada INDOPOS, Rabu (22/8/2018). 

Untuk melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kemitraan ini, Fini menjelaskan, ada Tim Analisis Penyediaan dan kebutuhan susu yang keanggotaannya lintas Kementerian dan Lembaga. Adapun anggotanya adalah Kemenko Perekonomian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan UMKM, Badan PUsat Statistik (BPS), Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan dari Unsur Perguruan Tinggi.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi dari Tim tersebut disimpulkan bahwa program kemitraan telah “on the track”. Kesesuaian realisasi kemitraan dengan proposal adalah 80 persen dengan jenis kemitraan yang dilakukan meliputi: penambahan populasi/pakan/sarana sebesar 41,38 persen; pemanfaatan SSDN 34,48 persen dan Permodalan 24,14 persen.

“Ini adalah prestasi dari komitmen dari pelaku usaha yang telah dilakukan yang membuktikan betapa besarnya dukungan, peran aktif dan partisipasi dari berbagai stakeholder persusuan yang sangat luar biasa dalam pengembangan persusuan nasional," ucap Fini Murfiani. 

Sebelumnya, Ditjen PKH melakukan sosialisasi mengenai perubahan Permentan No 26 tajun 2017 menjadi Permentan 33 tahun 2018 tentang Penyediaan dan Peredaran Susu Segar Dalam Negeri di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, Selasa (21/8/2018). 

Pada kesempatan tersebut, Suyatno selaku Plh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah menyampaikan, populasi sapi perah di provinsinya saat ini mencapai 138.560 ekor, dengan Kabupaten Boyolali sebagai wilayah populasi terbanyak. Menurutnya, rata-rata kepemilikan ternak per peternak antara 2-3 ekor, sehingga diharapkan pola kemitraan lebih diutamakan untuk peningkatan populasi, peningkatan produktivitas dan peningkatan kualitas. “Dengan kemitraan diharapkan ada transfer ilmu dan teknologi, sehingga kualitas susu sapi dari peternak meningkat, sehingga hasilnya dapat diserap oleh IPS,” ucapnya.

Perwakilan dari peternak Boyolali yang hadir pada acara tersebut menyampaikan bahwa mereka menginginkan agar kemitraan dengan peternak tetap ada dan pemerintah diharapkan segera menerbitkan regulasi pengganti untuk memperkuat program kemitraan tersebut.

Menurut Agus Warsito selaku Ketua Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) di Jateng, dalam program kemitraan selama ini untuk penyerapan susu sudah jalan, namun masih diperlukan adanya pendampingan dan bimbingan teknis bagi peternak untuk menghasilkan susu yang berkualitas. “Kita juga berharap ada harga acuan untuk susu dari pemerintah, sehingga peternak memperoleh harga yang wajar dan menguntungkan,” pintanya.

Perwakilan dari IPS yang hadir menyampaikan bahwa mereka tetap akan berkomitmen untuk mendukung kemitraan dengan peternak, baik melalui pembinaan dan pengembangan.

Sementara itu, Jhonny Purwoko selaku anggota Tim Peningkatan Nilai Tambah dan Daya Saing (NTDS) Peternakan menyampaikan, kunci pokok keberhasilan peternakan adalah peningkatan populasi sapi, produktivitas sapi, kualitas susu dan kemudahan berusaha. “Jika semua ini tercapai, maka akan menjadi suatu keniscayaan Indonesia akan mampu memenuhi kebutuhan industri persusuan di dalam negeri,” pungkasnya.(ydh)


TOPIK BERITA TERKAIT: #direktur-pengolahan-dan-pemasaran-hasil-peternakan #ditjen-peternakan-dan-kesehatan-hewan #kementan-ri #fini-murfiani #implementasi-permentan-262017 

Berita Terkait

IKLAN