Selasa, 13 November 2018 07:58 WIB
pmk

Nusantara

Mengeluh Sepi, Pedagang Pasar Turi Minta Pemkot Maksimalkan Fungsi Pasar

Redaktur: Redjo Prahananda

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Pedagang Pasar Turi, Surabaya, Jawa Timur mengeluh lantaran tempat usaha yang mereka tempati sekarang semakin sepi dari pengunjung. Ini terjadi pasca keberadaan  gedung baru yang akan mereka tempati di pasar tersebut. 

Salah seorang pedagang, Kho Ping alias Djaniadi berpendapat, keberadaan gedung baru itu harusnya seiring dengan upaya pemerintah memaksimalkan fungsi Pasar Turi. 

“Sampai sekarang kami belum mendapatkan sertifikat. Juga infonya izin operasional dari Pemkot Surabaya belum keluar,” kata pedagang lama, Kho Ping panggilan akrab Djaniadi melalui keterangan tertulis, Rabu (22/8/2018). 

Untuk itu ia pun menagih komitmen dan keberpihakan Pemkot Surabaya kepada Pasar Turi sebagai pusat aktivitas perekonomian. 

Apalagi, keberadaan gedung baru tersebut juga belum dilanjutkan dengan pembongkaran Tempat Penampungan Sementara (TPS) meski tersedia stan permanen di gedung Pasar Turi. 

“Ini kan sudah selesai serah terima. Kami juga sudah lunasi semua administrasinya. Yang kami minta kami diperhatikan, pasar ini kembali ramai dan perekonomian hidup,” ungkapnya.

Menurut Kho Ping, sebagai pedagang pada dasarnya ia tak mau ikut campur dalam konflik antara Pemkot Surabaya dan pengembang Pasar Turi atau pihak lain yang terlibat. Yang diinginkannya ialah perhatian dari pemerintah dan pengelola pasar agar pedagang bisa berjualan dengan tenang, nyaman, dan diminati banyak pengunjung. 

“Masalah itu (konflik) bukan urusan kami, itu urusan beliau-beliau itulah, silakan selesaikan secepatnya agar kami tidak terombang-ambing begini,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia meminta semua pihak mengendalikan ego masing-masing serta lebih mengedepankan semangat untuk menghidupkan pasar. “Kalau betul sayang sama rakyat, tolong buktikan pikirkan kami. Jangan menang-menangan urusan hukum. Dan tolong Pemkot turun tangan, kasihani kami,” pintanya. 

Hal yang sama juga disampaikan Mas’ud. Pedagang lama itu juga merasa pengunjung relatif sepi sejak pasar itu dibuka tiga tahun lalu. Bahkan pengunjung stan tampak lebih sepi daripada pengunjung di tempat penampungan sementara. Ia pun tidak mengerti harus berbuat apa agar pengunjung kembali ramai.

“Sebenarnya banyak yang sudah punya stan tapi tak mau jualan. Makanya banyak tutup ini, kosong. Malah ada yang jualan di luar, tidak mau ke sini,” keluhnya.

Kondisi Pasar Turi yang konon menjadi pusat grosir paling besar di kawasan Indonesia Timur itu kini banyak berubah, terutama dari segi antusiasme pengunjung. Para pedagang seperti tidak lagi punya kesamaan kepentingan. Terbukti, pedagang yang tak mau beranjak dari TPS ke bangunan baru masih ada sekitar 200 pedagang.

“Kami ingin seperti dulu, walaupun bersaing tapi tetap bersatu. Sedih rasanya, ikut diseret-seret kepentingan segelintir orang,” tandas Mas’ud.

Informasi diperoleh, total jumlah stan di Pasar Turi Baru yang sudah selesai dibangun sebanyak 6.400 unit. Pembangunannya sendiri sudah rampung sejak tahun 2014. Dari jumlah itu, sebanyak 4.500 unit kios telah terjual ke pedagang antara lain: 3.600 unit ke pedagang lama dan 900 unit pedagang baru. Serah terima kios pun berlangsung sejak Desember 2014 sampai awal 2015.(ydh)


TOPIK BERITA TERKAIT: #pasar-turi #pedagang-pasar-turi-mengeluh-sepi 

Berita Terkait

IKLAN