Kamis, 15 November 2018 07:56 WIB
pmk

Nasional

Sapi Hamil Kini Bisa Terdeteksi Sejak Dini 

Redaktur:

DETEKSI-Tri Puji Priyatno dan alat tes kehamilan sapi. Foto: Nasuha/INDOPOS

Setelah satu tahun berhasil menemukan generasi pertama Kit Deteksi Dini kehamilan Sapi, saat ini penelitian terus dilakukan untuk menciptakan generasi keduanya. Bagaimana penelitiannya?

NASUHA, BOGOR

INDOPOS.CO.ID – Kebutuhan Sapi yang tinggi saat Hari Raya Idul Adha di Indonesia, menyebabkan harga melambung tinggi. Selain itu, daging Sapi menjadi salah satu komoditas pertanian strategis, karena menjadi sumber protein hewani esensial bagi masyarakat.

Kebutuhan daging sapi nasional terus meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan perbaikan daya beli masyarakat. Pada tahun 2017, produksi daging sapi nasional hanya mampu memenuhi 72 persen atau 516.603 ton konsumsi nasional. Sisanya, dipenuhi dari impor.

Dalam upaya meningkatkan produksi daging dalam negeri, pemerintah melakukan upaya khusus percepatan peningkatan populasi sapi nasional melalui program Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB). Program ini telah dilakukan dengan optimalisasi fungsi reproduksi ternak betina di 33 provinsi. Pada periode Januari 2017 hingga Maret 2018 telah dilakukan inseminasi buatan (IB) terhadap 4.905.881 ekor. Sapi yang sudah dalam kondisi bunting sebanyak 2.186.892 ekor, dan kelahiran ternak mencapai 1.051.688 ekor.

Untuk mendukung optimalisasi fungsi reproduksi ternak betina, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), telah mengembangkan teknologi deteksi dini kebuntingan. Kit tersebut mampu mendeteksi tingkat kebuntingan kurang dari satu bulan, sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi program IB, serta membantu manajemen ternak secara ekonomis. 

Metode umum diagnosa kebuntingan sapi dilakukan pemeriksaan palpasi rektal, deteksi harmon, dan penentuan karakteristik kimia fisik.

Pemeriksaan kebuntingan sapi dengan teknik palpasi rektal, biasanya dilakukan pada 60 hari setelah IB, karena siklus berahi yang dipergunakan sebagai dasar diagnosa hasil IB adalah berkisar antara 28-35 hari. Jika pemeriksaan dilakukan lebih awal dikhawatirkan dapat menyebabkan keguguran.

Sedangkan pemeriksaan hormonal dengan memperhatikan tingkah lalu dan ada tidaknya gejala estrus, sering terjadi kesalahan. Karena gejala estrus dapat disebabkan oleh adanya corpus luteum persistent atau gangguan hormonal lainnya yang mengganggu siklus berahi hewan.

Kit deteksi kebuntingan yang dikembangkan Balitbangtan ditujukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan pada metode pemeriksaan kebuntingan sapi sebelumnya.

Kit deteksi kebuntingan sapi dibuat oleh Tri Puji Priyatno bersama tim penelitinya.

Peneliti Muda di bidang keahlian molecular plant pathology ini menggunakan antibodi untuk target protein yang terlibat dalam persinyalan  interferon dalam proses fisiologis kebuntingan.

Sinyal embrionik interferon diproduksi oleh trofoblast, disalurkan melalui cairan uterus ke arah endometrium, dan masuk ke dalam darah untuk menginduksi pembentukan protein kebuntingan yang selanjutnya tersalurkan ke dalam urin sapi.

“Produksi protein kebuntingan tertinggi terjadi pada umur 15-22 hari sejak fase awal kebuntingan, artinya positif adanya kebutingan dapat dideteksi kurang dari sebulan,” ujar Tri Puji Priyatno kepada INDOPOS, Rabu (22/8).

Kit deteksi kebuntingan ini, menurut Kepala Bidang Program dan Evaluasi pada Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian ini, dikembangkan menggunakan antibodi spesifik terhadap protein kebuntingan.

Antibodi diproduksi dari protein rekombinan kebuntingan yang telah diklon dan diekpsresikan dalam bakteri Eschericia coli. Kemudian protein rekombinan diproduksi dan dimurnikan secara mudah sebelum disuntikan pada kelinci untuk produksi antibodinya.

“ Kami mulai penelitian sejak 2017. Lalu kenapa harus kelinci? Ini sebenarnya bisa dilakukan pada hewan berdarah panas lainnya. Misalkan kuda. Kelebihan dari kelinci adalah, media ini paling banyak produksi antibodinya dan kualitasnya pun tinggi,” terang Tri.

Tri menjelaskan, pembuatan antibodi jauh lebih mudah dari proses vektor melalui bakteri, dari pada produksi melalui sapi. Karena akan lebih repot dengan membutuhkan banyak sampel yang harus diverifikasi.

“Kelinci yang sudah disuntik protein rekombinan, akan menghasilkan antibodi dalam darah. Selanjutnya, darah yang telah membentuk antibodi tersebut kita ambil dan dibekukan untuk diambil serumnya,” beber  pria yang menyelesaikan program pendidikan S1 di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto ini.

Hasil antibodi dari serum tersebut, masih ujar Tri akan melalui proses pemurnian. Yang selanjutnya menjadi antibodi untuk produksi Kit deteksi kebuntungan sapi. Antibodi Kit akan bereaksi positif dan melekat, ketika bertemu dengan protein dari sapi.

“Ini seperti kunci ketemu gembok, keduanya menyambung jadi satu,” katanya.

Tri menyebutkan, protein dari sapi bisa ditemukan pada urin sapi yang sedang dideteksi kebuntingannya. Ketika bereaksi, protein antibodi dan protein pada urin akan melekat. Dan ini tidak bereaksi dengan protein lainnya. Untuk melihat secara visual reaksi kedua protein, menurut Tri maka pada Kit diberikan pereaksi atau konjugat. Pereaksi ini merupakan enzim alkaline phosphatase yang direaksikan dengan Nitro Blue Tetrazolium (NBT).

“ Secara visual reaksinya akan memunculkan warna ungu atau kegelapan di membran Kit. Ini dipastikan sapi yang diujicoba tengah bunting,” ucapnya.

Tri mengungkapkan, kit kebuntingan ini mudah digunakan oleh para inseminator atau petugas peternakan di lapang. Dalam kit, menurut pria yang menyelesaikan program pendidikan S2 di Universiti Putra Malaysia, sudah tersedia test kit dan empat jenis pereaksi yang praktis untuk digunakan.

Penggunaan Kit deteksi dini kebuntingan sapi, lanjut Tri, prosesnya sama seperti penggunaan tespek untuk kehamilan manusia. Urine sapi cukup ditempatkan pada gelas atau tempat, kemudian cukup mencelupkan Kit dalam gelas. Maka dalam hitungan menit, apabila sapi bunting, akan muncul warna ungu atau kegelapan pada membran Kit.  

“ Untuk pendeteksiannya, para petugas di lapang cukup menggunakan 0,5 ml urin sapi yang telah diiseminasi lebih dari satu minggu. Hasil deteksi dapat terlihat dalam waktu 30-45 menit setelah reaksi dengan tingkat akuasi mencapai 90 persen,” katanya.

Ia yakin dengan tool kit deteksi dini kebuntingan sapi ini, bisa menjadi salah satu teknologi untuk mendukung program percepatan populasi sapi nasional, melalui optimalisasi reproduksi sapi betina produktif. Sehingga target swasembada daging sapi tahun 2026 dapat segera terealisasi. 

“Kita bisa produksi kit generasi I dalam jumlah 5 juta kit. Ini diperoleh dari antibodi yang sudah diproduksi sebanyak 150 ML pekat yang bisa diencerkan dalam 1000  kali. Dalam 1 kit hanya butuh 3 mikrolit. Tapi kita tidak berhenti di sini, kami terus kembangkan generasi kedua Kit deteksi dini kebuntingan sapi ini, dengan waktu reaksi deteksi yang lebih cepat,” ujar Tri.

Menurut pria yang menyelesaikan program pendidikan S3 di Universiti Kebangsaan Malaysia ini, Kit generasi dua bisa mendeteksi kebuntingan sapi dalam waktu 10-15 menit. Pada tahap penelitian lanjutan, ia menyebutkan menggunakan nano teknologi.

“ Pada Kit generasi II kita tidak menggunakan alkaline phosphatase, tapi menggunakan nano gold. Pada reaksi nano gold tidak membutuhkan reaksi enzimatis dan tidak perlu menggunakan konjugat. Hanya melekat pada antibodinya,” terangnya.

Lebih jauh Tri menerangkan, secara reaksi Kit generasi dua hanya terdiri dari unsur protein dan antibodi yang sudah dilekatkan nano gold. Anti bodi yang melekat protein dalam jumlah banyak akan mengubah warna membran Kit menjadi pink.

“Kita sudah ujicobakan. Tapi masih harus kita optimasikan kembali, ini untuk memastikan reaksinya clear dan optimasi masa simpan,” ungkap Tri.

Karena, menurut Tri masa simpan antibodi dengan nano gold pada Kit generasi kedua sangat mudah pudar. Khawatir dalam masa penyimpanan yang cukup lama akan mengurangi akurasi deteksi saat digunakan. “ Ketepatan akurasi Kit generasi II sudah di atas 90 persen. Jadi kami terus sempurnakan untuk masa simpannya,” pungkasnya. (*)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks #feature 

Berita Terkait

IKLAN