Rabu, 21 November 2018 01:23 WIB
pmk

Nusantara

Makna Filosofis Revitalisasi Malioboro

Redaktur: Ali Rahman

Kondisi kawasan Malioboro, nantinya akan penuh makna filosofis dari tanamannya. Foto: Ridho Hidayat/jpg

INDOPOS.CO.ID - Revitalisasi pedestrian di kawasan Malioboro Jogjakarta yang dimulai sejak Maret 2018 lalu, tak hanya secara visual lebih dipercantik. Namun dari jenis tanaman yang mulai proses penanamannya ada nilai filosofis tersendiri.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Pelestarian Warisan Budaya (DP2WB) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Yuwono Sri Suwito mengatakan, tanaman yang akan menghiasi sepanjang tepi Jalan Malioboro adalah jenis Asem dan Gaya.

Asem dari bahasa Jawa berarti Semsem, yang mempunyai arti tertarik. Sementara untuk Gayam berarti Ayom atau bisa dimaknai dengan teduh. "Asem itu asal bahasa Jawanya Semsem, artinya tertarik," katanya di Yokyakarta, Kamis (23/8/2018).

Yuwono yang juga menjabat sebagai anggota Tim Ahli Cagar Budaya DIY ini memaparkan, pemilihan jenis tanaman ini untuk melestarikan budaya Jawa. Khususnya di YogYakarta, yang mana lebih mementingkan nilai filosofis dibandingkan dari segi teknis atau fungsi.

"Jelas budaya Jawa khususnya Jogja. Jadi kalau tanaman itu tidak hanya dilihat dari sisi fungsi, teknis. Tapi yang terpenting itu dari sisi filosofis. Jadi kalau dari sisi fungsi dan teknis memenuhi syarat tapi dari sisi filosofis tidak ya tidak ditanam di situ," ujar Yuwono.

Ia mencontohkan, dulu di depan Hotel Mutiara dan depan salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Malioboro pernah ditanami jenis Sawo Kecik. "Itu salah, Sawo Kecik itu harusnya di halaman. Artinya Sarwo Becik atau Serba Baik," imbuhnya.

Kepala Seksi Penataan Bangunan dan Kawasan Pemukiman Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan ESDM Energi Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIY Arif Azazie Zain menambahkan, proses penanaman ini sudah dilakukan dan secara bertahap. "Yang sebelah selatan itu sudah," tukas Arif.

Tanaman Asem dan Gayam saat ini juga telah dipersiapkannya. Didapatkannya dari beberapa supplier dari berbagai daerah, seperti Ngawi Jawa Timur.

Untuk diketahui, pedestrian sisi barat Malioboro mulai dilakukan penataan pada 12 Maret lalu. Pengerjaan memakan waktu sampai Desember mendatang dengan nilai proyek sekitar Rp 35 miliar. (dho/jpc/ind)


TOPIK BERITA TERKAIT: #revitalisasi-malioboro #kawasan-malioboro-jogjakarta #dewan-pertimbangan-pelestarian-warisan-budaya-diy #yuwono-sri-suwito 

Berita Terkait

IKLAN