Sabtu, 22 September 2018 02:50 WIB
pmk

Ekonomi

Pemerintah Review 900 Komoditas Impor

Redaktur:

Gubernur BI Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita usai Rapat Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) di kantor Kemenko Perekonomian Jumat (24/8/2018). Pemerintah berkeinginan inflasi tetap bisa dijangkarkan pada 3,5 persen sepanjang 2018 sampai 2019. Pembatasan impor juga dibahas

INDOPOS.CO.ID - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat, ternyata belum bisa dimanfaatkan di sektor perdagangan dan jasa untuk mendongkrak ekspor. Buktinya, neraca perdagangan masih defisit. Berdasarkan data BPS, Neraca Perdagangan Indonesia, secara akumulasi sejak Januari sampai Juli di tahun 2018 mengalami defisit USD 3,03 miliar.

Untungnya di tengah tekanan terhadap rupiah,  inflasi tetap bisa dijaga di level yang cukup rendah. Yakni 3,5 persen. Sedangkan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar  5,50 persen. 

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani, usai Rapat Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) di kantor Kemenko Perekonomian Jumat (24/8/2018) mengatakan defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan, juga menjadi salah satu hal yang perlu ditangani. Salah satu hal yang akan dilakukan yakni melakukan pembatasan impor. 

"Langkah-langkah untuk mengendalikan impor dari  sisi konsumsi . Sehingga kita tidak akan  mempengaruhi growht terutama dari investasi dan ekspor. Karena kita tidak ingin momentum  pertumbuhan ekonomi yang sifatnya bagus dari investasi dan ekspor akan terpengaruh. Akibat langkah-langkah kita mengendalikan neraca pembayaran," ujar Sri Mulyani, Jumat (24/8/2018).

Menurutnya, untuk barang-barang impor  yang sudah diproduksi dalam negeri terutama oleh UKM  yang memiliki kapasitas Kemenkeu dengan Menteri Perdagangan akan jauh lebih mengendalikan impornya. Karena impor terhadap barang-barang yang sudah bisa diproduksi  di dalam negeri oleh industri dalam negeri, terutama para industri UKM  pihaknya  akan melakukan langkah yang sangat tegas untuk mengendalikan barang konsumsi tersebut.

"Ada sekitar 900 komoditas impor yang sedang kita review bersama Kemendag dan Kemenperin. Dan nanti kita akan lihat kemampuan dari kapasitas industri dalam negeri untuk memenuhinya," ujar Sri Mulyani. 

Ia menambahkan, 900 komoditas itu saat ini masih identifikasi. "Kalau barangnya sudah tahu. Kami sedang menghitung dampaknya, sedang kita hitung. September bisa dijalankan," pungkasnya.

 Sementara itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan pembatasan impor,  semata-mata hanya berbicara mengenaan  pengenaan tarif untuk barang-barang konsumsi dan produk jadi yang sudah  diproduksi di dalam negeri. Pihaknya juga   tetap akan memperhatikan berbagai ketentuan-ketentuan dan perjanjian yang ada.

"Selain itu juga tidak akan mengganggu investasi dan bahan baku untuk produksi. Karena pada dasarnya kita mendorong investasi di Indonesia . Tidak dalam keterkaitan itu.

Barang apa saja? Sedang disusun jenis-jenisnya. Dan kita pastikan tidak akan menimbulkan gejolak.  Kita dorong pasar ekspor di tengah kondisi global yang tidak menentu," pungkasnya. (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #melemahnya-nilai-tukar-rupiah #review-900-komoditas-impor #gubernur-bi 

Berita Terkait

Anak Petani Lolos Jadi Gubernur BI

Ekonomi

Diminta Independensi, Jokowi Pilih Perry

Nasional

IKLAN