Rabu, 19 September 2018 06:32 WIB
pmk

Kesehatan

Kenali Dua Jenis Masalah Kulit pada Lansia dan Solusinya

Redaktur: Ali Rahman

Ilustrasi kulit pada usia lanjut (lansia). (sixty and me)

INDOPOS.CO.ID - Lansia atau lanjut usia menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI adalah seseorang yang telah berumur 60 tahun atau lebih. Umur yang bertambah tentunya membawa perubahan pada kulit.

Kulit yang keriput dan kendur tentu disebabkan oleh proses penuaan. Sehingga, jenis dan perawatan pada kulit bayi dengan orang dewasa maupun lansia tentu berbeda.

"Aging atau penuaan adalah proses. Lansia kulitnya berbeda. Selain penuaan karena usia, bisa juga dipengaruhi karena konsumsi obat, punya penyakit sistemik dan lainnya. Penting bagi lansia konsultasi sebelum terapi mana solusi masalah kulit yang aman," kata Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, dr. Arini Astasari Widodo, SpKK kepada wartawan baru-baru ini.

Ada dua jenis masalah kulit pada lansia yaitu kulit kering dan kulit kusam. Keduanya masih bisa diatasi dengan sejumlah terapi sesuai saran dokter kulit profesional.

1. Kulit kering

Secara statistik masalah paling banyak yang dialami lansia adalah kulit kering karena lemak pada kulitnya berkurang. Sehingga yang sering dialami oleh lansia adalah menyebabkan kulitnya sering gatal. Pusat gatal itu sendiri ada di otak.

"Lalu kulit kering membuat kulit keriput dan kendur. Ada degradasi kolagen yang menyebabkan kulit semakin tipis. Sehingga terjadi perubahan struktur wajah baik lemak dan tulang," jelas dr. Arini.

Epidermal turnover atau pembaharuan lapisan kulit berkurang pada lansia hingga 30-50 persen. Sehingga membuat kulit lansia tipis dan tampak kusam karena pengelupasan kulit mati yang tidak sempurna. Berkurangnya kolagen dan elastin yang mengakibatkan tampak keriput dan kendur. Jumlah sel fibroblas yang berkurang sehingga kulit lansia tampak rapuh dan lebih mudah terluka/memar.

2. Kulit Kusam

Pada lansia warna kulitnya berbeda karena suplai darah ke tubuh juga berbeda. Kemudian ada flek juga di area kulit. "Flek kulit ini beda-beda. Setiap flek beda-beda prognosisnya," ungkapnya.

Pembuluh darah pada kulit lansia berkurang dan jarak pembuluh darah dari permukaan kulit semakin jauh sehingga membuat kulit lansia tampak pucat. Sel Melanosit atau sel yang membentuk pigmen, berkurang 8-20 persen setiap dekade. Pigmentasi atau bercak-bercak hitam, coklat, putih pada kulit menjadi tidak merata. Lemak pada kulit, antara lain seramid, trigliserida, sterol ester yang menurun pada lansia dan menyebabkan kulit lansia kering, serta ditemuinya tumor jinak keratosis seboroik.

Solusinya

Treatment yang bisa diberikan adalah terapi nutrisi intravena. Pemberian vitamin D, C atau antioksidan. Hal itu untuk diberikan nutrisi pada kulit. Bisa juga memberikan serum, terapi oksigen, dan scrub khusus.

Terapi untuk lansia, bergantung pada masalah kulitnya dan masalah kulit yang memberatkan setiap individunya. Misalnya, ada lansia yang lebih mempermasalahkan kulitnya yang kering, ada juga yang lebih mempermasalahkan flek wajah. Lansia juga memiliki lebih banyak penyakit penyerta.

"Pada lansia konsultasi sangat penting, pasien lansia dapat menyampaikan keluhan utamanya pada dokter spesialis dan dapat dirundingkan bersama mengenai pilihan terapi yang paling nyaman untuk pasien,” tandasnya. (ika/ind/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #dokter-spesialis-kulit-dan-kelamin #dr-arini-astasari-widodo #spkk #masalah-kulit-lansia 

Berita Terkait

IKLAN