Rabu, 21 November 2018 09:20 WIB
pmk

Kesehatan

Metode Pengobatan Paliatif, Si ”Pemberi Harapan” Penyintas Kanker

Redaktur:

TALKSHOW-Talkshow untuk para penyintas (survivors) kanker di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat (24/8). Foto: DEWI MARYANI/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Seiring dengan meningkatnya penderita kanker di dunia, sejumlah perawatan terus dilakukan. Paliatif merupakan jenis perawatan yang belum banyak dikenal masyarakat.

Paliatif berasal dari kata palliate yang berarti mengurangi keparahan tanpa menghilangkan penyebab. Atau dengan kata lain, suatu cara untuk meringankan atau mengurangi penderitaan. 

Ketua Umum YKI Prof Dr dr Aru Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP menjelaskan, perawatan paliatif sekarang sudah menjadi bagian integral dari pendekatan terapetik terhadap pasien tidak menular seperti kanker. Perawatan paliatif membantu seorang penderita kanker untuk hidup lebih nyaman.

Sehingga diharapkan bisa memiliki kualitas hidup yang lebih baik. ”Ini adalah kebutuhan manusiawi dan hak asasi bagi penderita penyakit yang sulit disembuhkan atau sudah berada pada stadium lanjut,” jelasnya dalam talkshow untuk para penyintas (survivors) kanker dengan tema ”Doctor-Patients Communication in Palliatiave Cancer Care” oleh Perhompedin bekerjasama dengan PT Ferron Par Pharmaceutical di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat (24/8).

Aru menjelaskan, pengenalan perawatan paliatif bagi pasien kanker penting untuk dikenalkan kepada tenaga kesehatan dan petugas rawat pasien. Termasuk juga keluarga pasien.

''Perawatan paliatif dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Bagi keluarga yang berhadapan langsung dengan penyakit tersebut juga baik. Karena bisa menyemangati secara fisik, psikososial, ataupun spiritual,'' paparnya.

Menurut WHO, jumlah pengidap kanker tiap tahun bertambah 7 juta orang. Dua pertiga diantaranya berada di negara-negara yang sedang berkembang.

Di Indonesia, kanker menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai. Tiap tahun diperkirakan terdapat 100 kasus baru per 100 ribu penduduk.

Itu artinya, dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia, ada 240 ribu pengidap kanker baru setiap tahunnya. Parahnya, pasien kanker di Indonesia umumnya diketahui terlambat, atau stadium akhir.

Sehingga, menurunkan tingkat harapan hidup. Pasien dengan kondisi tersebut mengalami penderitaan yang memerlukan pendekatan terintegrasi berbagai disiplin ilmu agar pasien tersebut memiliki kualitas hidup yang baik dan pada akhir hayatnya meninggal secara bermartabat.

Dokter Paliatif dr Maria A Witjaksono mengatakan, perawatan paliatif menjadi penting karena pada dasarnya tidak ada seorang pasien diizinkan untuk menderita. ”Kami berkomunikasi dan menata laksana gejala. Tata laksana gejala menjadi sangat penting, misalnya nyeri, bagaimana perawatan paliatif bertugas mengurangi nyeri ini selama pasien menunggu terapi kankernya. Perawatan paliatif pun tidak terbatas hanya untuk pasien yang sudah di stadium lanjut. Banyak yang suka takut ketika mendengar perawatan paliatif karena konotasinya sudah tidak bisa sembuh, kematian sudah di ambang pintu,'' paparnya panjang lebar. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Jadilah Pemilik Hewan yang Cerdas

Jakarta Raya

Bayi Prematur Juga Bisa Tumbuh Optimal

Internasional

Jangan Biarkan Kanker Meredupkan Mimpi

Jakarta Raya

Hampir Capai Seratus Persen

Jakarta Raya

Anak Sering Mual dan Muntah, Waspadai Ginjal

Jakarta Raya

Radang Sebabkan Gigi Cepat Ompong

Jakarta Raya

IKLAN