Minggu, 18 November 2018 01:18 WIB
pmk

Opini

Mewedarkan Sebaik-baik Berkurban

Redaktur: Redjo Prahananda

Oleh: Muhammad Itsbatun Najih
Alumnus UIN Yogyakarta

Pada hari Iduladha, merupakan momen sukacita. Mensyukuri nikmat dengan mengumandangkan takbir sembari melaksanakan ibadah kurban. Semua orang, lebih-lebih si papa, mestinya bisa menikmati daging kurban secara bermartabat. Cara-cara terbaik distribusi kurban terus dibenahi sebagai pembelajaran; karena itu mestinya, tidak ada lagi narasi pilu berebut daging kurban. Pada tempo silam, distribusi kurban dengan cara memanggil kaum duafa untuk kemudian antre, berbaris rapi. Namun, tak sedikit warta yang mengisahkan antrean itu berujung desakan-desakan dan lekas bubar tak terkendali.

Siasat lain, pendistribusian daging kurban melalui kupon. Secarik kertas kecil yang distempel dibagikan kepada calon penerima; senyatanya langkah ini agak memanusiawikan. Atawa, metode terbaru: para kaum papa tak perlu datang ke tempat distribusi. Daging kurban bakal langsung diantar ke tempat tinggal mereka. Kini, warta-warta pilu berebut daging kurban dan pemandangan antrean demi beroleh sekilo daging sudah teramat jarang dijumpa. Namun, diktum “teramat jarang” bukan berarti sudah tidak ada lagi. Cara-cara klasik yang boleh kita katakan kurang bermartabat masih terlanjutkan.

Harian Radar Kudus edisi 23 Agustus 2018, menurunkan headline memilukan seputar pembagian daging kurban: Antre Daging, Tiga Orang Pingsan. Tiga perempuan yang pingsan itu terjepit dan berdesakan satu sama lain. Kejadian pilu di Kecamatan Purwodadi, Grobogan, disesaki ratusan orang yang terdiri dari para tukang becak, tukang sapu, dan kaum miskin urban. Mereka telah mengantre sejak sehabis salat Iduladha dengan harapan sesegra mendapat jatah daging yang baru dibagikan pukul 10.30. Meski Panitia berdalih telah mempersiapkan secara matang, namun antusiasme berlebih masyarakat tak pelak tetap memicu insiden.

Fenomena lain yang kerap mewarnai adalah daging kurban yang tersampaikan dengan baik pada kaum papa, oleh sebagian mereka, dijual kembali —dengan harga miring. Baginya, uang lebih berguna karena dapat digunakan untuk keperluan lain. Meski terlampau jarang makan daging, bagi sebagian kaum papa, bukanlah hal mendesak yang harus dipenuhi. Pun, karena daging kurban dibagikan mentah, sebagian kaum papa merasa kerepotan karena harus menyiapkan peralatan masak dan bumbu dapur. Bagi kaum miskin perkotaan, keberpunyaan alat masak dan bumbu dapur menjadi persoalan tersendiri.

Dengan kata lain, dalam konteks distribusi daging kurban untuk kaum miskin kota, sehingga tidak ada lagi pemandangan antrean-berdesakan dan menjual kembali daging kurban, kita perlu melihat inovasi yang diwedarkan lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Melalui lini Global Qurban-ACT bersama Pemprov DKI Jakarta, pada Iduladha kali ini, keduanya menggelar Dapur Qurban Jakarta. Sebanyak 43 titik Dapur Qurban di seluruh wilayah ibukota; di mana 2.000 paket daging akan dihidangkan dan disantap bersama. Inovasi itu terletak saat daging kurban dibagikan dalam kondisi sudah masak dan siap santap. Dengan begitu, kaum miskin urban sebagai sasaran utama penerima kurban, benar-benar merasakan kebahagiaan merayakan Iduladha. Mereka pun tidak dipusingkan perkara teknis macam bumbu dapur dan alat masak.

Kolaborasi tersebut menarik disimak. Sebelumnya, sebanyak 303 ekor sapi didatangkan dari Sumbawa melalui Kapal Qurban khusus wilayah Jakarta. Kita memafhumi Sumbawa masyhur akan sapi-sapi terbaik. Setidaknya, ada pesan implisit bahwa sememangnya sapi yang hendak dikurbankan bukan merupakan sapi asal-asalan; lantaran hakikat kurban adalah totalitas sepenuh hati dalam mendermakan sebagian harta. Ada kebersamaan dan keguyuban saat kaum papa asyik-masyuk menyantap hidangan kurban. Pada momen iniah sekat primordial dan invidual akan meluntur untuk kemudian merajut erat temali persaudaraan dan kepedulian dalam narasi kehidupan khas perkotaan macam Jakarta yang kadung terstigma keras.

Inovasi Global Qurban-ACT bersama Pemprov DKI Jakarta macam di atas bisa menjadi tamsil untuk diadopsi bagi kota-kota lain yang terhuni kaum miskin urban. Selain bertujuan memperpendek gap komunikasi antara pemerintah dan warga, juga benar-benar bisa tepat sasaran. Tentu saja, pemerintah daerah mempunyai basis data akurat terhadap jumlah dan lokasi orang papa. Kredit poin inilah yang diharap bisa meminimalisasi ketidaktepatan dan insiden --seperti di Grobogan-- seputar pembagian daging kurban pada kultur kehidupan urban. Beranjak dari sini, terselip pertanyaan: apakah bisa berkurban dapat dijadikan sarana mengentaskan orang miskin? Sehingga para penerima daging kurban pada tahun ini, misalnya, bisa menjadi pekurban pada tahun-tahun mendatang?

Pada tempo belakangan ini, sempat ada wacana agar daging kurban —yang tentunya berjumlah banyak—sementara di sisi lain, orang papa tidak begitu mendesak untuk mengkonsumsi daging. Alhasil, bagaimana semisal daging kurban dijual untuk nanti uang hasil penjualannya dapat digunakan permodalan bagi orang-orang miskin menjadi peternak kambing, misalkan. Selintas, ide tersebut bagus. Spirit yang diunggah teramat progresif. Namun, bila ditimbang saksama, gagasan tersebut cukup memaksakan/kontraproduktif. Pertama, berkurban —berserta distribusi daging—merupakan pensyariatan khusus/tersendiri. Justru, berkurban, merupakan sekian dari ajaran agama yang menstimulus orang kaya untuk kian meneguhkan semangat berbagi. Kedua, agama juga telah membuka saluran derma dalam bentuk uang beristilah zakat, sedekah, infaq.
Daging-daging kurban tetap perlu disantap; memantangkan untuk dijual kembali. Pensyariatan berkurban menandakan pesan sarih perihal upaya kelangsungan ekosistem hewani. Kebutuhan tubuh terhadap konsumsi daging sangat diperlukan, meski juga tidak boleh berlebihan. Apalagi, masyarakat kita secara umum, masih menganggap daging merupakan konsumsi tersier, berharga mahal, serta masih mengimpor. Karena itu, imbasnya adalah, menyorongkan munculnya kawasan peternakan di banyak tempat; tidak hanya di Sumbawa. Hikmah berkurban meniadakan ego dengan merasa keberpunyaan secara absolut pada harta benda yang miliki; selain juga sebagai simbolitas memupuk kepedulian terhadap sesama; selepas Zulhijah dengan tak bosan menyisihkan sebagian harta untuk kaum papa.

Berkurban (baca: membagikan daging kurban dalam kantong plastik) dengan segala kemanfataannya itulah yang akhirnya kita bisa memafhumi bagaimana Global Qurban-ACT dalam tiap tahun, mewedarkan daging-daging kurban ke pelosok negeri bahkan hingga ke mancanegara. Daging-daging kurban dari pekurban orang Jawa, misalnya, bisa dinikmati oleh saudara sebangsa di pulau terluar-pulau terpencil. Semangat kebangsaan dan narasi persaudaraan setanah air kiranya kian terekat, membabar-menyesapkan jiwa keindonesiaan. Pun, bertajuk Indonesia Berqurban Bangsa & Dunia Menikmatinya, daging-daging kurban juga terwedarkan di Suriah dan Somalia. Setidaknya pada dua negara tersebut, kebutuhan terhadap pangan sangat besar. Pada akhirnya, rasa kemanusiaan diharap lekas terpatri di mana tak lagi memedulikan sekat geografis. Berkurban sebagai elan kemanusiaan menjadi pemantik untuk terus memedulikan kepada yang tertindas dan papa di saban tempat.

Ala kulli hal, di zaman serba modern nan digital, sudah semestinya pengelolaan berkurban menuntut dilakukan secara profesional, oleh lembaga profesional yang inovatif-kreatif. Dengan demikian, diharapkan bisa menihilkan munculnya kisah pilu yang selama ini kerap terjadi sebagaimana uraian di atas. Sehingga perayaan Iduladha bukan sekali-kali seperti seakan hari di mana si papa mengemis-meminta sebungkus daging. Melainkan sebaliknya, hari di mana mereka seharusnya termuliakan lahir dan batin. Wallahu alam (*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #opini #muhammad-itsbatun-najih 

Berita Terkait

"Jurus Mabuk" Yusril

Opini

Prabowo Istimewa di Mata K.H. Maemoen Zubair

Opini

Anies Tutup Reklamasi, Apa Mau Loe?

Netizen

Caci Maki di Forum Tertinggi

Opini

Houston

Opini

IKLAN