Minggu, 23 September 2018 04:06 WIB
pmk

Opini

Korban Gempa Tidak Butuh Hoaxs

Redaktur: Redjo Prahananda

Tony Rosyid                                                                                                                           Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Bumi Lombok bergoyang. Mabuk karena gempa. Ujian atau azab? Mungkin dua-duanya. Kalau azab, itu dosa siapa? Dosa seluruh rakyat Indonesia. Dosa kita semua. Pesan agamawan: yuk instrospeksi. Stop saling menyalahkan.

Ujian untuk siapa? Untuk NKRI. Gempa Lombok menguji persaudaraan anak bangsa. Sampai dimana mereka mengerti makna "bertanah air satu tanah air Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia, dan berbangsa satu bangsa Indonesia." Satu rasa.

Gempa Lombok menguji ke-NKRI-an kita. Siapa yang peduli, siapa yang tak punya nurani. Disinilah ruh NKRI dan jiwa nasionalisme dicari.

Lombok berduka. Masyarakatnya merana. 7.145 terluka. 73.843 warga kehilangan rumah. 798 fasilitas umum luluh lantah.

Rumah masih bisa diperbaiki. Pekerjaan masih bisa dicari. Tapi, 515 orang yang mati tak akan kembali. Entah berapa ribu manusia kehilangan saudaranya. Goodby dan doa yang bisa mereka titipkan sebagai bekal menghadap Tuhan. Sambil menyeka air mata yang tertumpah. Mereka berpisah untuk selama-lamanya. Seandainya itu terjadi pada keluarga anda?

Belum usai tanah kuburan korban mengering, Lombok bergoyang lagi. Guncangan gempa datang dan menghajar. Korban terus berjatuhan. Bangunan hancur. Tiga kali gempa besar dan dahsyat. Lebih dari 1000 kali gempa susulan. Waspada! Hanya itu yang bisa mereka lakukan. Sembari pasrah menyerahkan diri kepada Tuhan. Tawakkal.

Dalam keadaan duka dan panik, kabar berhamburan: Akan ada gempa lagi. Kali ini lebih besar. Disertai sunami. Kapan? Hari Minggu, tanggal 26 Agustus 2018. Esok hari. Warga Lombok tambah panik.

Dari mana kabarnya? Tak jelas! Meski tak jelas, banyak yang percaya. Lalu, viral kemana-mana. Dampaknya? Masyarakat Lombok makin ketakutan. Was-was. Banyak yang tak berani tidur di rumah. Mereka mendirikan tenda-tenda di luar rumah. Cari tempat yang agak tinggi. Hindari sunami.

Berita tak jelas, tapi dampak psikologinya dahsyat. Dalam situasi seperti ini, ada saja orang bermain-main dengan firasat tak bernalar. Jauh dari data dan ukuran ilmiah. BMKG seolah kehilangan suara.

Mempermainkan psikologi korban paling mudah. Situasi panik, nalar tak sepenuhnya berfungsi. Kesadaran tinggal separo. Semua informasi tak terverifikasi. Seperti orang sedang sakit akut, semua info tentang obat dicari. Salah benar, coba. Meski akhirnya tambah parah sakitnya. Malah bisa mati.

Kepanikan membuat orang mudah percaya. Disini peluang hoaxs masuk. Merusak kewarasan nalar. Mengacaukan radar otak. Menutup pintu kesadaran.

Apakah kabar hoaxs itu main-main, atau sengaja dimainkan? Tak jelas juga. Yang pasti, hoaxs telah memakan korban. Setidaknya, membuat jutaan warga Lombok makin ketakutan. Langkah antisipasinya? pertama, Lawan hoax. Caranya? Massifkan informasi terkait gempa. Ada peran BMKG, yang tak boleh berhenti untuk memberi informasi. Terus menerus, utuh dan akurat. Disinilah media bisa menjadi alat bantu sekaligus kontrol terhadap hoaxs.

Masyarakat mesti diarahkan untuk mencari sumber resmi dan otoritatif, yaitu BMKG. Siaran setiap hari. Pasang buzzer di medsos. Bisa menggunakan jaringan relawan gempa. TNI-Polri, BNPT, kementerian, lembaga-lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa, BAZNAS, ACT, dan puluhan yang lain. Mereka yang ada di lapangan. Langsung berhadapan dan tinggal bersama korban.

Kedua, perlu langkah hukum. Tindak tegas mereka yang nyebar hoaxs. Baik inisiator, pembuat maupun penyebar. Ini penting sebagai langkah pencegahan.

Peristiwa Lombok jadi pelajaran bersama. Pertama, bagaimana kita mengerti betapa berbangsa atau ber-NKRI itu butuh komitmen persaudaraan yang nyata. Riil dan ada buktinya. Peduli Lombok jadi ukuran kecilnya. Banyak bicara dan gak ada aksi nyata, berati hoaxs.

Kedua, derita korban di Lombok butuh aksi nyata, bukan sekedar bicara. Kita perlu apresiasi dan support mereka yang sudah bekerja di sana. Kurang sana-sini wajar. Sampaikan informasi, dan tak perlu ngebully. Tak ada yang sempurna. Karena itu, jangan berisik menyoal kekurangan mereka yang siang malam bekerja. Gubernur NTB, Dr. Zainul Majdi yang dikenal dengan panggilan Tuan Guru Bajang (TGB), 24 jam bekerja dengan seluruh jajaran dinasnya. Panglima TNI berulangkali turun dan tidur di tenda. Memandu ribuan pasukan untuk melayani kesehatan, pendidikan dan perbaikan rumah serta tempat ibadah korban. Begitu juga Kapolri. Ketua BNPB dengan seluruh anak buahnya standby sejak terjadi gempa. Dompet Dhuafa, BAZNAS, ACT, Banser, FPI dan puluhan lembaga-lembaga sosial yang lain bergerak cepat. Sampai hari ini bertahan di tenda-tenda pengungsian. Tak bisa support, apresiasi mereka. Itu jauh lebih produktif.

Ketiga, banyak bicara, biasanya banyak hoaxsnya. Sentimen agama dan isu politik rentan dinodai berita hoaxs. Mesti segera dihentikan jika tak berbasis data.

Rakyat mesti belajar bagaimana bicara dan bersikap positif maupun produktif. Ini akan membuat sempit pintu masuknya hoaxs. Hentikan Hoaxs, karena pertama, berpotensi menambah kepanikan dan katakutan bagi korban gempa. Kedua, mengganggu kerja petugas dan relawan.(*)

Jakarta, 25/8/2018


TOPIK BERITA TERKAIT: #opini #tony-rosyid 

Berita Terkait

Houston

Opini

Hukuman Baru yang Dicepatkan

Opini

Dikepung Massa, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?

Opini

Dikepung Massa, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?

Opini

Cari Resep Yang Mahal

Opini

IKLAN