Rabu, 21 November 2018 09:30 WIB
pmk

Ekonomi

Mutlak Menyesuaikan Revolusi Industri 4.0

Redaktur:

Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membuka Kongres Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (24/8) lalu.

INDOPOS.CO.ID - Akademisi Nahdlatul Ulama diharap tidak sekadar berkutat pada persoalan keagamaan. Namun, juga bisa melakukan inovasi-inovasi di bidang ilmu pengetahuan. Itu penting guna menyongsong refolusi industri 4.0.

Pesan itu disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membuka Kongres Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (24/8). ”Kita harus masuk ke ruang inovasi," tutur Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan, perubahan dalam konteks revolusi industri 4.0 jauh lebih cepat daripada revolusi industri pertama. Bahkan jika dibandingkan, kecepatannya mencapai 3.000 kali lipat dari revolusi industri pertama. Oleh karena itu, supaya bangsa Indonesia tidak tertinggal, maka harus bisa menyesuaikan. ”Yang paling bisa mengantisipasi ya yang pinter-pinter. Yang ada di depan saya ini,” tukas Jokowi disambut tepuk tangan anggota ISNU.

Meski begitu, Jokowi tetap mengingatkan agar tugas sebagai penjaga moral bangsa juga tidak boleh ditinggalkan. Pasalnya, sebagaimana umumnya, perubahan juga kerap membawa dampak negatif. Media sosial misalnya, di samping kemajuan, kehadirannya juga membawa persoalan baru seperti maraknya berita bohong (hoax). ”ISNU bisa mencegah hal mudharat dari perkembangan ilmu pengetahuan,” imbuh mantan wali kota Solo itu menegaskan.

Pada kesempatan itu, Jokowi juga menyampaikan keyakinannya, dengan semakin banyaknya intelektual muda, NU bisa menjadi sumber daya manusia terdepan yang bisa membawa Indonesia maju. Dia juga menyebut ISNU sebagai kolam pengetahuan bagi negara. "Mengumpulkan ribuan nahdliyin bergelar guru besar, doktor magister, hingga sarjana dengan fokus studi bervariasi," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat ISNU Ali Masykur Musa mengatakan, Kongres akan diikuti oleh seluruh Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang se-Indonesia. Acara yang digelar di Universitas Islam Nusantara, Bandung, itu bertemakan “Pembangunan Inklusif dan Islam Nusantara Menyongsong se-Abad Indonesia sebagai Negara Kesejahteraan Pancasila”.

Dia menjelaskan, ISNU memiliki ratusan guru besar dan doktor dari berbagai latar belakang ilmu pengetahuan. Selain itu, ada juga para lulusan Magister dan Sarjana yang jumlahnya sangat banyak. "Kami dedikasikan ISNU untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia agar lebih maju, bemartabat, dan berperadaban," ujarnya.

Terkait tema yang diambil, gagasan tersebut merupakan kombinasi dari dua kunci penopang NKRI. Yakni agama yang ramah dan bersahaja, serta pembangunan yang inklusif. "Keduanya adalah syarat mutlak terwujudnya Indonesia sebagai negara kesejahteraan Pancasila," ucapnya. (far)


TOPIK BERITA TERKAIT: #revolusi-industri-40 

Berita Terkait

IKLAN