Selasa, 25 September 2018 06:30 WIB
pmk

Indobisnis

Bahan Baku 90 Persen Impor, Upayakan Kontrak dalam Rupiah

Redaktur:

Direktur Utama PT Kimia Farma Honesti Basyir.

INDOPOS.CO.ID - Pelemahan nilai tukar rupiah dan juga defisi neraca perdagangan, membuat pemerintah akan mereview 900 komoditas impor. Adapun tools yang digunakan adalah PPh 22 impor yang dalam hal ini bisa terkena tarif 2,5-7,5 persen.

Salah satu perusahaan yang bahan bakunya menggunakan impor adalah PT Kimia Farma. Bahkan perusahaan BUMN tersebut bahan baku yang digunakan 90 persen adalah impor. Beruntung ditengah gejolak rupiah, perusahaan sudah menyiapkan strategi untuk mengatasinya.

"Kita strategi kita memang sudah kita lakukan, dari beberapa tahun lalu. Jadi memang, terutama untuk bahan baku. Itu kontraknya kita bikin lakukan jangka panjang. Kemudian kita usahakan itu kontraknya dalam bentuk rupiah. Jadi memang dalam kondisi valas seperti ini saya pikir kita masih dalam kondisi aman. Dan kita melakukan semacam tes sampai level berapa valas itu bisa mengganggu kesehatan perusahaan," ujar Direktur Utama PT Kimia Farma Honesti Basyir, ditemui usai acara "Kimia Farma Mengajar" di SDN Negeri Kebon Kelapa 02 Gambir, Jakarta, Senin (27/8/2018).

Lebih lanjut ia mengatakan, pelemahan rupiah yang mendekati level Rp 14.600 per US dollar, masih belum berpengaruh. Padahal lebih dari 90 persen masih impor kita. Hal itu menurutnya karena strategi yang dilakukan. Kontrak jangka panjang dan kontrak dalam rupiah.

"Selain itu kita juga berusaha mengurangi impor dengan memproduksi bahan baku dari dalam negeri. Pabrik yang di Cikarang, Bekasi sudah mulai beroperasi," jelas Honesti.

Adapun terkait kebjikan BI, swap hedging, pihaknya kata dia tidak menggunakan hedging dalam pengertian konsep hedging insurance. Tapi lebih kepada natural hedging. "Artinya Kita lihat kebutuhan valas kapan, kemudian kita mengadakan sendiri. Kemudian itu tadi, semua kontrak valas kita lakukan dalam bentuk rupiah," pungkasnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo Jumat lalu (24/8/2018) menegaskan stabilisasi nilai rupiah menjadi prioritas BI.

"Dari sisi kebijakan moneter BI prioritasnya tetap memastikan bagaimana stabilitas ekonomi khususnya stabilitas nilai tukar rupiah stabil," ujar Perry.

Menurutnya hal itu sudah dilakukan dan akan terus dilakukan BI untuk memastikan stabilitas ekonomi, khususnya stabilitas nilai tukar rupiah. Seperti menaikan suku bunga acuan, dengan pertimbangan untuk memastikan bahwa pasar keuangan Indonesia itu daya tariknya tetap kuat.

"Capital inflow sudah kembali, saat kita menaikan suku bunga acuan. Eksportir juga menjual dollarnya," jelas Perry. Kebijakan yang dilakukan juga sekaligus menurunkan defisit transaksi berjalan. Kedua melakukan intervensi ganda di pasar valas dan pembelian SBN dari pasar sekunder. Dengan berkoordinasi dengan Menkeu, khususnya untuk pembelian SBN dari pasar sekunder.

"Kami juga memastikan Ketersediaan valas di pasar itu tersedia. Seperti mempermudah, mempercepat dan mempermurah swap BI. Ada yang dalam rangka operasi moneter Setiap hari kita lelang jam 10 sampai 14. Siang kita buka swap hedging. Buat pelaku usaha, eksportir dan importir

Swap rate kita tersedia cukup murah. 1 bulan 4,71. Kemudian satu tahun 4,95. Eksportir dan importir menyambut baik ketersediaan swap rate kita," pungkasnya. (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #pt-kimia-farma #honesti-basyir 

Berita Terkait

IKLAN