Minggu, 23 September 2018 08:44 WIB
pmk

Opini

Bukan Roti yang Saya Inginkan, Tapi Keadilan

Redaktur:

Neno Warisman membuat catatan atas insiden penolakan dirinya di Pekanbaru. Menggunakan telepon selulernya, ia menjelaskan kronologis apa yang ia hadapi di tanah Melayu itu. Tak sedikit kesalahan ketik. Untuk kenyamanan membaca, redaksi mengedit kata yang salah ketik. Berikut catatannya yang banyak disebar di Whatsapp grup (WaG);

Saya dijemput sahabat-sahabat relawan jam 24.00-an malam, setiba di Bandara Suta. Dan teman-teman mengerti betapa laparnya saya. Mereka mengajak saya makan di restoran padang jalan Juanda dan setelah makan, saya pulang.

Saya masih terus memikirkan persekusi ini.

Luar biasa polisi.

Gak bisa mengatasi, tidak lebih dari 40an saja orang  dan remaja-remaja yang berteriak, naik pagar gerbang dan berjoget joget, bakar bakar, lempar mineral ke kaca depan mobil  Mercy milik dr Diana Tabrani yang menjemput saya.

Padahal jumlah aparat berates-ratus banyaknya dan dari beberapa satuan yang berbeda.  Anehnya, ketika pun yg aksi di depan gerbang itu sudah capek dan pulang, saya tetap dikurung bahkan dengan police line (dijaga, tapi gak boleh diberi makanan) sampai jam 9 malam saat pesawat akhir pulang, dan ternyata pesawat ditahan karena perintahnya adalah saya harus diterbangkan pulang ke Jakarta.

Terbukti dari boarding pass kepulangan yang diberikan, ternyata sudah disiapkan sejak kami datang. Artinya yang seharusnya rahasia, nama penumpang dan seterusnya, tidak berjalan.

Bertahan di dalam mobil selama nyaris 7 jam, hingga pukul 21.00 an  malam begitu banyak yg terjadi. Tekanan, ancaman tersamar, maupun pemaksaan-pemaksaan dan terselip ada juga permohonan dan pendekatan yang manusiawi dari sedikit diantara aparat yg memaksa saya untuk kembali ke bandara.

Ditemani oleh sang pemilik mobil yang rusak pastinya oleh hujan batu yang dilemparkan oleh siapa entah (darimana batu cukup  besar besar  itu di bandara?). Dr diana tabrani dan pak Luqman, saya tetap memilih bertahan.

Dua orang dari tim kerja sempat diseret ke polres dan seorang lain saya lihat sendiri dikejar 10 orang dan dikeroyok dan saya hanya dengar seruan Allahu akbar nya berulang-ulang sampai punggungnya menempel di kaca mobil.

Lalu ia dibawa

Dan terjadilah hal yang berikut lepas pkl 9 dimana seharusnya pesawat terakhir diberangkatkan. Kabinda datang dengan kasar menggebrak mobil dan berteriak teriak memaksa buka pintu dan menarik paksa satu per satu semua dari mobil. Kecuali saya yg tetap bertahan dan minta pada para polwan berpakaian bebas untuk tdk memperlakukan saya dengan buruk.

Polwan hanya memaksa saya keluar namun tdk kasar. Bahkan beberapa diantara mereka membawa roti dan ingin saya menerimanya. Tapi saya tolak karena bukan roti yg saya inginkan melainkan kebenaran, keadilan, hukum yang tidak digunakan semena-mena.

Beberapa orang meminta saya keluar karena hujan batu yang membuat saya kuatir mobil ibu dr Diana Tabrani akan rusak berat. Saya tidak suka kekerasan itu, saya tegas katakan dan tidak perlu paksa saya beberapa kali pada mereka.

Lalu kami dikelabui. Dibawa oleh mobil yang katanya akan mengantar saya ke hotel, namun kenyataannya mereka bawa saya ke pesawat dan sekali lagi kabinda melakukan kekerasan pada para lelaki dan bahkan seorang presesidium diseret seret paksa oleh 5 orang  melalui naik tangga sampai  ke garbarata.

Di atas garbarata para yang memaksa dengan kasar sampai terseret seret itu minta maaf pada doktor Balda karena kata mereka kami hanya jalankan tugas. Doktor Balda memaafkan.

 

Di bawah, Saya masih berusaha hubungi teman teman seperjalanan yg saya khawatir akan keberadaan mereka. Ketika Pak Kabinda bersikap kasar sekali lagi pada laki laki di mobil saya,  minta dengan tegas agar Pak Kabinda untuk berlaku sopan.

Saya shalat 2 rakaat di dalam mobil. Lalu setelah selesai saya minta mereka semua yg ada di sana berkumpul membuat lingkaran dan saya pimpinkan doa.

Kulillahumma Malikal Mulki tu’til mulka mantasyaa. Wa tanziul mulka mimantasyaa. Wa tuizzu man tasyaa wa tudzillu man tasyaa biyadikal khoir

Innak ala kulli syaiin qodiir..

Pak Kabinda yang menggebrak gebrak mobil, berteriak, menarik dan mengatakan tidak sabar menghela kami seperti  penjahat saja itu pun , saya doakan.

Semoga Allah menyelamatkan beliiau yang telah sangat buruk memperlakukan kami.

Tiba di jkt pkl 12 malam saya dijemput oleh sahabat 2 relawan yg membawakan lontong isi dan saya senang bisa makan  dan minum setelah 7 jam di dalam mobil tanpa sesuatu pun.

Di perjalanan pulang saya kembali mengingat rangkaian kejadian persekusi yg saya alami, sambil mengingat kata kata dr Diana Tabrani,

“Kami mbak Neno,  Orang Melayu, dan orang Melayu itu amat sangat memuliakan tamu. Mbak Neno tamu saya, tamu kami semua, saya malu di tanah Melayu terjadi hal seperti ini”

Sungguh hati beliau sangat mulia seperti alm ayah beliau dr Tabrani yang dikenang dan dihormati.

Terakhir saya tanya, Bagaimnakah kerusakan mobil ini.. Dr Diana Tabrani dan suaminya Pak Luqman, sepakat , mereka katakan itu bukan urusan yang besar. Allahu akbar!

Terakhir saya masih membaca  di wag bahwa teman teman seperjalanan dari Jakarta yang juga tersandera tadi , setelah saya akhirnya naik pesawat, termasuk di dalamnya mas Sang Alang sang pencipta lagu ganti presiden, mengalami penyerangan dan pengejaran oleh preman-preman dan sampai saat saya tulis dini hari ini, saya masih mengkhawatirkan mereka.

Semoga Mereka selamat. (*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #opini #neno-warisman 

Berita Terkait

Houston

Opini

Hukuman Baru yang Dicepatkan

Opini

Dikepung Massa, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?

Opini

Cari Resep Yang Mahal

Opini

Warga Kampung Bayam Minta Perhatian Pemprov DKI

Jakarta Raya

IKLAN