Rabu, 26 September 2018 08:10 WIB
pmk

Nusantara

Asap Ganggu Penerbangan

Redaktur:

POLUSI - Asap menyelimuti Bandara Syamsudin Noor terlihat, akibat maraknya kebakaran lahan. SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN

INDOPOS.CO.ID - Dalam beberapa bulan terakhir, kebakaran lahan marak terjadi di Kota Banjarbaru, Kalimtantan Selatan (Kalsel). Hal itu membuat udara akhir-akhir ini menjadi tak enak, karena kabut asap yang mulai mengganggu.

Seperti halnya Minggu (26/8) pagi, kabut asap lumayan pekat di kawasan Liang Anggang, Landasan Ulin dan Guntung Manggis. Termasuk di seputaran Bandara Syamsudin Noor. Kondisi tersebut membuat jarak pandang menjadi terbatas. Sehingga, dikhawatirkan mengganggu aktivitas penerbangan.

Area Manager Lion Air Kalsel Agung Purnama mengatakan, meski ketebalan kabut belum menghambat penerbangan. Namun, sudah sedikit mengganggu jarak pandang pilot. "Karena terganggu asap, pilot beberapa kali mengonfirmasi jarak pandang setiap kali ingin mendarat maupun terbang," katanya.

Dia menambahkan, sejauh ini kabut asap masih dalam kategori aman untuk aktivitas pesawat. Sehingga, operasional bandara masih lancar. "Mudah-mudahan saja kabut tidak semakin pekat, supaya penerbangan tidak mengalami kendala," harapnya.

Hal senada diungkapkan Manager Operasional Bandara Syamsudin Noor, Ruly Artha. Dia menyampaikan bahwa aktivitas penerbangan sejauh ini masih lancar. Hanya saja, pihaknya harus lebih intens berkoordinasi dengan BMKG untuk memastikan kondisi cuaca. "Kepastian jarak pandang juga saat ini harus diperhatikan. Apakah dapat digunakan untuk kegiatan take off dan landing, atau tidak," paparnya.

Jika jarak pandang dianggap tak memungkinkan untuk aktivitas penerbangan, maka pihaknya akan berkoordinasi dengan petugas pemandu pesawat udara untuk mengambil langkah  contingency plan. "Dari situ diputuskan apakah harus mencari bandara alternatif yang dapat digunakan untuk proses landing atau tidak," ucapnya.

Lalu apakah kabut mengganggu proyek pengembangan bandara? Pimpro Bandara Syamsudin Noor Ketut Aryana menuturkan, sampai saat ini asap tidak menghambat pekerjaan. "Paling yang jadi hambatan, masalah antre solar yang cukup lama di SPBI untuk dump truk pengangkut tanah. Sehingga menyebabkan ritase menurun, yang harusnya bisa empat rit jadi dua sampai tiga rit saja," ujarnya.

Dia menyampaikan, saat ini progres proyek proyek paket II; pembangunan gedung penunjang dan apron sudah mencapai 41,5 persen. Sementara paket I; pembangunan terminal bandara progresnya sekitar 0,6 persen. "Sekarang yang paket II, sedang pelaksanaan pekerjaan saluran, dinding pond, jalan lingkungan, area parkir dan finishing gedung-gedung. Sedangkan paket I, masih land clearing dan perataan tanah untuk akses pemancangan pondasi," paparnya.

Meski belum selesai setengahnya, pria yang akrab disapa Ketut ini optimis bandara baru bisa beroperasi pada 2019. "Paket I target selesai pada Oktober 2019, sementara paket II Mei 2019," ucapnya.

Jika proyek pengembangan selesai, daya tampung Bandara Syamsudin Noor bakal bertambah hingga lima kali lipat. Yaitu dari 1,5 juta penumpang menjadi 7 juta penumpang. "Sementara apron yang sebelumnya hanya bisa menampung 8 pesawat, nanti bisa sampai 16 pesawat," pungkasnya. (ris/ay/ran/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kebakaran-hutan #kebakaran 

Berita Terkait

Api Membara di Gunung Wilis

Nusantara

Kantin Trans Mart Cilandak KKO Terbakar

Jakarta Raya

35 Tewas gara-gara Penasaran

Internasional

Penyebab Kebakaran Museum Kuno Brasil Terungkap

Internasional

Museum Kuno Hangus Terbakar

Internasional

IKLAN