Rabu, 21 November 2018 05:08 WIB
pmk

Internasional

Kisah Zapp dan Gifford Berkeliling Dunia Bawa Keluarga

Redaktur:

PETUALANG - Keluarga Zapp berpose di luar Kantor Kedutaan Argentina, Dublin, Irlandia. Foto: Istimewa

INDOPOS.CO.ID - CANDELARIA Zapp dan Behan Gifford adalah ibu-ibu luar biasa. Mereka paham bahwa dunia adalah kampus mahaluas yang menyajikan pengetahuan paling lengkap. Maka, lima benualah mereka menyekolahkan anak-anak mereka. Yang satu lewat jalur darat, yang lain lewat jalur laut. Setiap hari adalah pelajaran baru yang sarat makna.

Herman Zapp masih ingat betul tanggal keramat itu, 25 Januari 2000. Ya. Hari itu dia mengajak Candelaria, pujaan hati yang baru saja dirinya nikahi, berkeliling dunia. Semula, tujuan mereka adalah berbulan madu ke Alaska, Amerika Serikat (AS). Tapi, perjalanan darat dengan mobil kuno Graham Paige terlalu berkesan bagi mereka.

”Kami hanya merencanakan perjalanan enam bulan,” kata Herman dalam wawancara dengan Irish Times. Rencana berubah setelah dia kehabisan uang. Pengantin baru yang nekat bertualang berbekal uang tunai 3.000 pound sterling atau setara Rp 56,2 juta itu harus mengambil keputusan dengan cepat. Lanjut atau pulang. Dan, mereka memilih opsi pertama untuk melanjutkan perjalanan.

Agar tetap bisa bertahan, Candelaria menjual lukisan. Kebetulan, dia pandai melukis dengan cat air. Upaya itu berhasil. Pasangan muda tersebut mampu bertahan dan membiayai kebutuhan sehari-hari di negeri orang dengan berjualan lukisan karya Candelaria. Mereka pun melanjutkan petualangan.

’’Sebenarnya kehabisan uang itu adalah berkah. Kami jadi lebih percaya diri,’’ kata Herman mengenang petualangannya. Menguasai ilmu bertahan, dia dan Candelaria pun menambahkan tantangan baru dalam perjalanan mereka. Yakni, menjadi orang tua. Sempat ragu, dua tahun kemudian Candelaria melahirkan anak pertama.

Si sulung yang kini berusia 15 tahun itu bernama Pampa. Dia lahir di AS. Bersama Pampa, petualangan Herman dan Candelaria lebih menegangkan. Namun, mereka menjadi lebih beruntung. Sebab, selama perjalanan, ada saja keluarga lokal yang bersedia menampung mereka. Keluarga kecil itu tidak hanya diizinkan menginap, tapi juga diberi makan dan minum gratis.

Sejak saat itu, petualangan panjang yang bermula dari ketidaksengajaan tersebut menjadi misi pasti bagi Herman dan Candelaria. Kejutan yang mereka jumpai dalam petualangan itu menjadi pelajaran bagi mereka. Ketidakpastian adalah bagian dari kehidupan. Dan, mereka bisa menyiasatinya dengan baik.

Dua tahun setelah kelahiran Pampa, Candelaria melahirkan anaknya yang kedua. Tehue. Remaja yang kini berusia 13 tahun itu lahir saat Herman dan Candelaria pulang ke Argentina. Saat itu mereka menjenguk ibunda Candelaria yang sedang sakit.

Setelah kelahiran Tehue, perjalanan berlanjut. Mereka kembali bertualang dengan mobil kuno yang berjalan pelan itu. Tapi, mereka lantas menjadwalkan mudik ke Argentina tiga tahun sekali. Tujuannya, mereka tetap bisa meng-update kabar keluarga dan sanak saudara.

Candelaria melahirkan dua anak lagi dalam petualangan berikutnya. Paloma, 10, dan Wallaby, 9. Masing-masing lahir di Vancouver Island, Kanada, dan Australia. ’’Melahirkan di empat negara yang berbeda adalah tantangan tersendiri bagi saya,’’ ujar Candelaria.

Lantas, bagaimana dengan studi anak-anak Herman dan Candelaria? ”Saya menjadi guru mereka. Sekolah mereka adalah dunia ini,” tegas Candelaria. Dia mengatakan bahwa anak-anaknya beruntung karena bisa menimba ilmu langsung dari sumbernya tanpa dibatasi tembok dan kurikulum. Tapi, dia juga beruntung karena Argentina punya sistem pendidikan jarak jauh yang bisa menjadi rujukan.

”Kami ke pangkalan NASA untuk menyaksikan pesawat ulang-alik lepas landas. Kami pergi ke Tembok Besar di Tiongkok dan mengunjungi piramida di Mesir,” kata Candelaria. Dia menambahkan bahwa tidak semua anak seberuntung empat buah hatinya.

Saat ini keluarga Zapp berada di Prancis. Setelah 18 tahun bertualang, mereka berencana pulang ke rumah. Ke Argentina. Karena itu, sekarang mereka sibuk menggalang dana untuk pulang dengan menjual Spark Your Dream, buku karangan Herman dan Candelaria tentang petualangan keluarganya.

Mereka membutuhkan banyak uang untuk pulang karena si Graham Paige akan dinaikkan kapal menuju masa pensiunnya. Tak lagi ditumpangi. ”Menetap di suatu tempat adalah tantangan baru bagi kami semua. Selama ini kami tidak pernah melakukannya,” celetuk Herman. (sha/c7/hep/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks 

Berita Terkait

IKLAN