Rabu, 26 September 2018 04:09 WIB
pmk

Nusantara

Serunya Tur ke Kawah Ijen Banyuwangi, Ribuan Pelancong Berburu Sunrise

Redaktur:

DINGIN - Rombongan Tour de Ijen di puncak Kawah Ijen menunggu terbitnya matahari. ULIL/KP

INDOPOS.CO.ID - BAU belerang semakin menyengat. Ketika tapak kaki mulai menyentuh ketinggian 2.443 mdpl. Suhu dingin 6 derajat Celcius tak menghalangi langkah kaki peserta Tour de Ijen menjemput fajar.

Peserta berkumpul di lobi hotel pukul 01.00 WIB. Tiga unit mobil off-road telah menanti. Perjalanan berlangsung selama sejam melewati Rogojampi dan Desa Kemiren sebelum tiba di kawasan Gunung Ijen. memang butuh tunggangan yang garang untuk untuk menaklukkan medan. Jalannya terjal dan berbatu.

Berhenti kami di dekat sebuah warung kayu. Di terasnya beberapa orang telah berkumpul. Mereka merupakan para rombongan mahasiswa dari Irlandia. Di situ, disewakan berbagai perlengkapan sebelum pendakian. Penutup kepala, masker, sarung tangan, maupun baju dan jaket.

Banyak peserta tur yang memutuskan menyewa "pelapis" tambahan meski telah mengenakan jaket tebal. Kawah Ijen memang ramai dipadati pengunjung pada akhir pekan. Hari-hari biasa juga banyak pengunjung, tetapi tidak sebanyak Minggu ataupun saat peak season. Dalam sehari, terhitung ada 500-1.000 orang datang berkunjung. Berbeda dengan hari biasa hanya puluhan, paling banyak 300 orang.

Berjalan kaki puluhan meter, sampailah di pintu gerbang. Ratusan orang telah berkerumun, menanti pemandu menyebut nama rombongannya. Harga tiket bagi wisatawan lokal saat weekday dipatok Rp 6 ribu dan wisatawan mancanegara Rp 100 ribu per orang. Sedangkan saat weekend per orang dikenakan harga tiket Rp 8 ribu dan Rp 150 ribu untuk turis asing.

Sekitar tiga kilometer harus ditempuh dengan jalan kaki. 1 kilometer pertama datar, satu kilo kedua menanjak dan satu kilo selanjutnya lumayan landai dengan sedikit berbukit. Kawasan Ijen terkenal dengan penambang belerangnya. Sering dalam perjalanan bertemu dengan pria yang memikul bongkahan belerang dalam karung di punggungnya. Ada pula yang mengangkut menggunakan dua keranjang rotan yang dikaitkan dengan potongan bambu di pundak.

Nah, di pertengahan jalan sebelum tiba di puncak, juga terdapat warung penjual makanan dan air minum. Hanya satu dan selalu ramai pengunjung. Mengantre menunggu makanan. Sembari menikmati lereng gunung yang asri dengan hutan pinus yang diselimuti kabut. Peserta tur juga dapat menikmati puncak Gunung Raung dan Gunung Argopuro di kejauhan.

”Kami penasaran dengan Kawah Ijen. Banyak rekan yang menyarankan kami datang kemari, tapi baru kali ini bisa datang ke sini,” ungkap Nicholas, saat bertemu di warung peristirahatan sejenak. Turis asal Belanda itu datang bersama istri dan kedua anaknya.

Perjuangan memang dibutuhkan. Mengatur ritme kaki seirama napas. Mencoba menahan dingin sekalipun telah memakai pakaian berangkap-rangkap. Maklum saja, dari semula di titik start 18 derajat Celcius ketika di atas gunung suhu terus menurun hingga sepertiganya. Meski begitu, keramaian di puncak sangat terasa. Sambil menunggu matahari terbit, pengunjung menghabiskan waktu dengan swafoto. Sebagian menggelar alas dan tidur di sana.

Suasana masih ramai. Kabut masih tebal membuat danau berwarna hijau tosca di bawah kami tak begitu terlihat. Serasa berada di atas awan. Kumpulan kabut yang mengelilingi juga bak bantalan kapas. Sedikit demi sedikit cuaca mulai berubah dan langit menjadi biru. Jarum jam menunjukkan pukul 06.25 WIB. Sang surya mulai beranjak naik. Perlahan-lahan.

Bentangan hijau berpadu langit yang menyiramkan cahaya ke dataran menjadi pemandangan menakjubkan. Gradasi warna oranye lalu hijau ke biru. Benar-benar membayar rasa capai setelah perjalanan pendakian ke Kawah Ijen selama empat jam. Desiran angin yang seolah berbisik menambah kesegaran pagi itu. 

Terletak pada dua kabupaten yaitu Bondowoso dan Banyuwangi tepatnya di wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen Bondowoso, Jawa Timur. Gunung Kawah Ijen, biasa disingkat menjadi Kawah Ijen merupakan salah satu gunung aktif. Dengan ketinggian 2.443 mdpl dan kedalaman danau 200 meter. Luas kawah mencapai 5.466 hektare. Kawah Ijen diklaim sebagai salah satu kawah terbesar di dunia.

Wageyono, pemandu lokal yang juga menemani rombongan tur mengatakan, saat yang tepat untuk berkunjung kemari ialah pada musim kemarau, yaitu sekitar Juli sampai September. Sebab bulan lain yang merupakan musim hujan, dianggap cukup rentan terhadap bahaya akibat jalanan yang licin sehingga pendaki akan mudah jatuh tergelincir.

“Menurut data 2017, wisatawan mancanegara yang datang ke Banyuwangi mencapai 98.870 orang dan wisatawan nusantara 4.832.999 orang. Lebih dari 60 persen sengaja datang demi bisa ke Kawah Ijen,” tuturnya. (lil/rsh/k18/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks #wisata-bahari 

Berita Terkait

IKLAN