Senin, 24 September 2018 10:56 WIB
pmk

Ekonomi

Rupiah Bergejolak, Inflasi Tetap Terkendali

Redaktur:

APRESIASI USD- Susana penukaran mata uang asing di salah satu money changer di Jakarta, Selasa (8/5). Bank Indonesia (BI) sudah menaikkan suku bunga acuan untuk menyalamatkan rupiah. Namun, langkah BI tersebut belum mampu mengatrol mata uang Indonesia itu lengser dari posisi Rp 14 ribu per USD. TONI SUHARTONO/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Bank Indonesia (BI) tidak menampik fluktuasi rupiah. Depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (USD) itu bukan melulu dialami rupiah. Hampir seluruh mata uang negara berkembang (emerging market) tersandera koreksi.

Kendati mata uang garuda itu belum keluar jebakan koreksi, angka inflasi masih terkendali. ”Untuk jangka pendek fokus dua hal. Yaitu bagaimana mengendalikan inflasi harga pangan dengan menjaga posisi cadangan beras, pasokan daging ayam, telur ayam ras, dan beberapa hal lain,” tutur Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo usai mengikuti Rapat Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) di kantor Kemenko Perekonomian akhir pekan lalu.

Mantan Direktur Eksekutif IMF edisi 2007-2009 itu, dampak nilai tukar terhadap inflasi itu terkendali. Itu kalau melihat dengan tiga faktor. Pertama tingkat pelemahan rupiah secara year to date (YTD) 7 persen, lebih rendah dibanding negara lain macam India, Turki, Brazil, dan Afrika Selatan (Afsel). ”Inflasi terkendali karena tingkat Suplai lebih besar dari tingkat permintaan barang. Meski ekonomi naik masih berada di bawah kapasitas produksi nasional. Sehingga kami  tidak melihat tekanan-tekanan permintaan terhadap inflasi,” terang Perry.

Faktor ketiga lanjut jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, ekspektasi terjangkar secara baik di kisaran 3,5 persen tahun ini hingga 2019. Itu menunjukan pengaruh nilai tukar terhadap inflasi terkendali. ”Perubahan nilai tukar terkendali diangka 3,5 persen,” tegasnya.

Adapun untuk jangka menengah,  dalam pengendalian inflasi ada 4 K. Yakni keterjangkauan harga, kelancaran distribusi barang, ketersediaan pasokan serta koordinasi dan komunikasi efektif. "Fokus tentu memastikan ketersediaan pasokan melalui optimalisasi sarana produksi pertanian, infrastruktur paskapanen dan sebagainya. Kelancaran distribusi barang dan perdagangan antardaerah,” imbuhnya.

Dalam waktu dekat BI akan bersinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memperkuat neraca pembayaran. Untuk stabilisasi nilai rupiah menjadi prioritas, dari sisi kebijakan moneter tetap memastikan bagaimana stabilitas ekonomi khususnya stabilitas nilai tukar rupiah  stabil. Itu sudah dilakukan dan akan terus dilakukan untuk memastikan stabilitas ekonomi, khususnya stabilitas  nilai tukar rupiah. ”Capital inflow sudah kembali, saat menaikkan suku bunga acuan. Eksportir juga menjual dollarnya,” jelas Perry.

Dan juga sekaligus menurunkan defisit transaksi berjalan. Kedua melakukan intervensi ganda di pasar valas dan pembelian surat berharga negara (SBN) dari pasar sekunder. Berkoordinasi dengan MenteriKeuang (Menkeu), khususnya untuk pembelian SBN dari pasar sekunder. ”Kami juga memastikan Ketersediaan valas di pasar itu tersedia. Seperti mempermudah, mempercepat, dan mempermurah swap BI. Ada yang dalam rangka operasi moneter setiap hari kita lelang pukul 10.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB kita buka swap hedging. Buat pelaku usaha, eksportir dan importer. Swap rate kita tersedia cukup murah. 1 bulan 4,71. Kemudian satu tahun 4,95. Eksportir dan importir menyambut baik ketersediaan swap rate kita,” ucapnya.

Sementara itu, impor beras saat ini masih terus menjadi polemik di tengah masyarakat- menjadi salah satu opsi memperkuat cadangan beras. Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan impor beras sudah diputuskan dalam rapat. ”Pertama 500 ton, 500 ton, 1 juta ton. Itu sudah keputusan rakor 4 bulan lalu,” beber Enggar. (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #inflasi 

Berita Terkait

Bahan Makanan Penyumbang Inflasi Tertinggi

Indobisnis

Beras Dongkrak Inflasi Januari

Indobisnis

IKLAN