Rabu, 14 November 2018 08:55 WIB
pmk

Banten Raya

Tak Ada Petugas, Perempatan Shinta Kian Semrawut

Redaktur:

PADAT- Kondisi lalu lintas di pertigaan jalan akses Tol Cilegon Timur, Banten. DONI KURNIAWAN/DOK/BANTEN RAYA/JPG

INDOPOS.CO.ID - Sejumlah pengendara menyebut kinerja Dinas Perhubungan (Dishub) dalam mengurai kesemerawutan jalan belum benar. Pasalnya, sampai sekarang kesemerawutan lalulintas di persimpangan Shinta, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang semakin parah. Bahkan, keberadaan lampu merah yang ada di lokasi tersebut tak membuat aksi kesemerawutan kendaraan berhenti.

Salah satu pengendara Kota Tangerang, Surahman Arifin menyatakan kesemerawutan simpang Shinta ini tidak pernah dituntaskan Dishub. Padahal, laporan pengendara terkait kesemerawutan dengan menggunakan aplikasi yang dibuat pemerintah daerah terus terjadi.

“Saya mungkin warga yang paling banyak melaporkannya pakai aplikasi. Tapi sampai sekarang masalah ini tidak diselesaikan. Mungkin sudah banyak pengendara yang celaka di persimpangan Shinta,” katanya pada INDOPOS, Minggu (26/8).

Tak sampai di situ, Surahman mengungkapkan, kesemerawutan simpang Shinta sudah terjadi sejak setahun terakhir. Akan tetapi, kesemerawutan simpangan tersebut tidak diantisipasi dengan menempatkan petugas Dishub dan Kepolisian. Sehingga acap kali keributan dan senggolan sampai kecelakaan dialami oleh pengendara.

Menurutnya, keberadaan lampu merah pun tak membuat pengendara yang melintas mau saling mengalah. Akan tetapi, jika ada petugas yang ditempatkan di sana maka kesemerawutan itu tidak akan terulang kembali.

Kepala Dishub Kota Tangerang, Saeful Rohman menilai terjadinya kesemerawutan kendaraan di simpang Shinta akibat kurangnya kesadaran terhadap kepatuhan lalulintas. Dan juga tak memahami rambu-rambu lalulintas yang ditempatkan. Padahal, upaya yang dilakukan pihaknya hanya untuk membuat ketertiban berlalulintas kepada pengendara di Kota Tangerang.

“Ya itulah harus ada kesadaran, kesadaran hukum terkait dengan masalah disiplin lalu lintas dari masyarakatnya. Jadi jangan kami terus yang disalahkan sama pengendara. Kami sudah berusaha menangani ini semua,” ucapnya.

Terkait tidak adanya petugas yang ikut mengatur arus kendaraan di simpang Shinta, Saeful mengaku, jika konsentrasi personilnya itu diberikan ke jalan protokol. Karena, di jalan itulah yang kerap menimbulkan kemacetan lalulintas lantaran berdekatan dengan pusat perbelanjaan. Namun demikian jajarannya akan berupaya memberikan petugas di persimpangan tersebut.

Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia, Ali Brawi menuturkan, terjadinya kesemerawutan di kota tersebut lantaran tak sinkronnya pembangunan kota dengan jumlah kendaraan. Serta belum adanya rekayasa lalulintas yang dibuatkan oleh Dishub. Dia pun menyarankan Dishub Kota Tangerang mengevaluasi persimpangan untuk dibuatkan rekayasa lalulintas. "Kerjanya lambat, harusnya cepat karena wilayahnya berkembang pesat. Harusnya ada evaluasi kinerja para staf Dishub," tuturnya.(cok)  


TOPIK BERITA TERKAIT: #dishub-tengerang 

Berita Terkait

IKLAN