Kamis, 22 November 2018 03:29 WIB
pmk

Total Sport

Dulu Pemain Kampus, Kini Incar Slot Olimpiade Tokyo 2020

Redaktur:

Lee So-hee/Shin Seung-chan. Foto: istimewa

INDOPOS.CO.ID - Untuk kali pertama dalam sejarah, Arab Saudi menerjunkan atlet perempuan di ajang Asian Games. Hanya tujuh orang. Meski begitu, penampilan mereka sangat menghibur.

Tidak ada rona kecewa dari raut muka Rana Abu Harbesh dan Shatha Almutairi ketika ditemui Jumat lalu (24/8). Padahal, dua pebulu tangkis Arab Saudi itu baru saja tersingkir pada babak 16 besar ganda putri Asian Games 2018. Mereka takluk dari pasangan Korea Selatan Lee So-hee/Shin Seung-chan, dua game langsung, 4-21, 7-21.

Kekalahan tersebut sangat bisa dimaklumi. Lee/Shin merupakan ganda putri peringkat ke-8 BWF. Sudah malang melintang di berbagai event besar dunia. Sementara Rana dan Shatha? ''Kami pemain amatir. Biasa main di kampus,'' jawab Rana, memperlihatkan senyum malu-malu yang manis.

Keduanya adalah mahasiswi Princess Noura bint Abdul Ramhan University, universitas khusus perempuan di Riyadh. Rana dari jurusan Farmasi, sedangkan Shatha menekuni bisnis. Tentu keduanya sangat senang bisa bermain di ajang sebesar Asian Games. Maklum, sebelum ini, keduanya bahkan belum pernah mencicipi tampil di ajang bergengsi yang diselenggarakan BWF.

''Sebelum bergabung dengan federasi, kami hanya main bulu tangkis untuk senang-senang,'' kata Rana. Pemain 22 tahun itu mengakui baru berlatih intensif bersama pelatnas selama dua bulan menjelang Asian Games berlangsung.

Pada ajang besar pertamanya kali ini, Shatha merasakan ketakutan menghadapi pemain yang sudah beredar di ajang dunia. Dia terjun di dua nomor sekaligus. Tunggal dan ganda. Penampilan di ganda putri bersama Rana adalah pertandingan keduanya di Asian Games. ''Tidak semenakutkan di pertandingan pertama di tunggal putri,'' ucap dia.

Total, ada tujuh atlet putri dari 169 atlet Arab Saudi yang berlaga di Asian Games kali ini. Selain Rana dan Shatha, ada dua wakil di atletik, 2 jujitsu dan seorang di taekwondo. Belum ada yang berhasil menyumbangkan medali, memang. Namun, aksi mereka sempat viral di media sosial. Terutama Rana dan Shatha yang bermain di ganda putri.

Permainan mereka memang ribuan level di bawah pasangan Korea. Namun, tidak ada yang mem-bully. Semua memaklumi. Banyak pula yang malah mengapresiasi. Sebab, ini benar-benar debut atlet perempuan Saudi di pesta olahraga terbesar di Asia. Artinya, pemerintah Saudi sudah memberikan kesempatan yang sama terhadap kaum hawa di sana untuk berpartisipasi dalam berbagai ajang.

Sebenarnya, keikutsertaan atlet perempuan Saudi di ajang multievent sudah dimulai enam tahun lalu. Tepatnya di Olimpiade London 2012. Waktu itu ada dua atlet yang membawa bendera negeri kaya minyak tersebut. Yakni Sarah Attar, pelari 800 meter dan judoka Wodjan Ali Seraj Abdulrahim.

Pemerintah Saudi mengangkat larangan perempuan tampil di Olimpiade pada Juni, hanya sebulan sebelum multievent tersebut digelar. Dan sampai keduanya Sarah dan Wodjan tampil pun, masih banyak kalangan konservatif yang mencibir keikutsertaan perempuan dalam ajang olahraga. Namun, tampaknya suara-suara yang tidak setuju semakin berkurang, dan atlet perempuan Saudi kembali tampil di Olimpiade Rio 2016.

Rana dan Shatha saat ini juga makin bahagia. Sebab, mereka diproyeksikan bisa tampil di Olimpiade Tokyo 2020. ''Butuh banyak perbaikan pastinya. Kami akan berjuang sekeras mungkin,'' janji Shatha. ''Federasi kami juga masih bayi. Baru tahun lalu dikukuhkan, jadi masih kesulitan mencari atlet,'' timpal Mogren Almogren, ketua federasi bulu tangkis Arab Saudi. (nap/na)


TOPIK BERITA TERKAIT: #asian-games-2018 

Berita Terkait

IKLAN