Minggu, 23 September 2018 05:53 WIB
pmk

Internasional

Kisah Zapp dan Gifford Berkeliling Dunia Bawa Keluarga 2 (Habis)

Redaktur:

LANGKA - Jamie Gifford dan keluarganya tinggal di kapal dan terus berkeliling dunia tapi sesekali berlabuh dan dikunjungi kerabatnya. Foto: istimewa

INDOPOS.CO.ID - Jamie Gifford dan istrinya, Behan, menjalani kehidupan normal sampai 2002. Pada tahun itu, ibunda Jamie meninggal. Kehidupan mereka berubah. Sebelum ajal menjemput, ibunda Jamie ingin sekali menghabiskan waktunya untuk berkeliling dunia. Jamie dan Behan pun berjanji mewujudkan harapan nenek tiga putra mereka itu.

Pasangan tersebut butuh waktu sekitar lima tahun untuk menata ulang kehidupan mereka demi impian ibunda Jamie. Suami istri itu memutuskan untuk berhenti bekerja. Mereka juga tidak lagi menyekolahkan anak-anak mereka. Pada 2007 mereka akhirnya membeli perahu layar. Ya. Mereka memilih berkeliling dunia lewat jalur laut.

Tahun berikutnya, Jamie, Behan, dan tiga anak mereka bertolak dari Puget Sound, Washington, Amerika Serikat (AS). Berbekal uang tabungan dan logistik seadanya, mereka mengarungi lautan. Saat itu, menurut CNN, tiga anak Jamie dan Behan masih berusia 9, 6, dan 4 tahun. Dan, tidak ada satu pun di antara mereka yang bisa berenang!

”Itu mungkin bisa membuat kami menerima penghargaan sebagai orang tua terburuk,” kata Behan, lantas tergelak. Niall, si sulung, dan dua adik perempuannya, Mairen serta Siobhan, tidak pernah melakukan petualangan sebelumnya. Tidak di darat, apalagi di laut. Tapi, Behan nekat. Dia yakin anak-anaknya akan baik-baik saja.

Di awal petualangan, Jamie dan Behan menyatakan bahwa mereka hanya akan melaut selama setahun. Setelah itu, mereka akan kembali ke darat dan memulai hidup baru sebagai keluarga normal seperti sediakala.

Satu tahun, menurut Behan, adalah waktu yang tepat untuk berlayar sambil menebus momen kebersamaan yang hilang. ”Saya dan suami kian sibuk dengan pekerjaan kami dan anak-anak tumbuh begitu cepat,” ujar perempuan 48 tersebut. Berpetualang bersama keluarga menjadi cara Behan untuk mengeratkan hubungannya dengan suami dan anak-anak.

Saat petualangan bermula, beban terberat Behan dan Jamie adalah fakta bahwa anak-anak tidak bisa berenang. Padahal, selama berpetualang, mereka akan terus melewati laut. Sebenarnya, saat mempersiapkan perjalanan, Behan sudah mengursuskan Niall dan adik-adiknya berenang. Tapi, tiga anaknya menjalani kursus dengan setengah hati. ”Nanti saja sambil berlayar,” kata Behan akhirnya.

Behan yakin, saat menyentuh air laut yang hangat dan melihat pemandangan yang menarik, anak-anak pasti akan langsung bisa berenang. Benar saja. Dalam hitungan bulan, Niall sudah mahir berenang. ”Dia sudah langsung jadi ikan,” kelakar Behan.

Setiap kali kapal layar mereka yang bernama Totem sandar, keluarga Gifford sedapat-dapatnya membaur dengan penduduk sekitar. Pada momen itulah mereka mendapatkan banyak pengalaman berharga. Berinteraksi dengan warga pesisir dari berbagai negara membuat Niall, Mairen, dan Soibhan kaya. Kaya bahasa dan kaya budaya.

Selain pendidikan informal yang mereka terima langsung dari penduduk lokal dan alam, anak-anak keluarga Gifford tetap bersekolah. Homeschooling tentu saja. Behan dan anak-anaknya menyebut metode pendidikan formal itu sebagai boat school.

Berbeda dengan keluarga Zapp yang berpetualang nonstop, keluarga Gifford masih sesekali pulang ke rumah mereka di Washington. Tidak untuk waktu yang lama memang, tapi mereka punya kesempatan untuk menjalani kehidupan normal di darat. Saat berlayar pun, mereka selalu berlabuh jika malam tiba. Semua tidur di kapal.

Kendati kisah unik mereka wira-wiri di internet, Behan dan Jamie ternyata bukan orang tua yang ramah gawai. Mereka tidak mengizinkan anak-anak mereka bermain smartphone atau media sosial. Gawai hanya boleh dipakai untuk membaca e-book. Sehari-hari Niall dan dua adiknya lebih akrab dengan buku.

Lantas, bagaimana Behan dan Jamie membiayai petualangan bersama keluarganya? Behan menjadi penulis lepas. Bersama beberapa penulis lain, dia menelurkan buku bertajuk Voyaging with Kids. Sedangkan Jamie bekerja sebagai konsultan pelayaran. Satu dekade hidup di kapal layar menjadikan Jamie seorang pakar.

Kini keluarga Gifford sedang pulang ke rumah. Mereka ada di Washington. Tapi, Oktober mendatang mereka kembali berlayar. Kali ini tujuan mereka adalah Meksiko. Dari sana, mereka akan menjelajah negara-negara Amerika Selatan dan Pasifik Selatan.

Tapi, Niall yang kini berusia 19 tahun tidak akan ikut. Dia akan masuk college di Portland untuk belajar bahasa Prancis dan ilmu ekonomi. Hanya, dia bisa menyusul kapan pun dia mau. ”Pada dasarnya, hidup adalah karyawisata bagi kami,” tegas Behan. (sha/c10/hep/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks 

Berita Terkait

Ketika Cukai Rokok untuk BPJS Kesehatan

Nasional

Bayi Satu Mata Lahir di Mandailing Natal

Nusantara

Mengunjungi Museum Lukisan Tertua di Bali (2-Habis)

Nasional

IKLAN