Rabu, 21 November 2018 09:45 WIB
pmk

Nasional

Biaya Melonjak, Mekanisasi Perkebunan Tebu Mendesak

Redaktur: Redjo Prahananda

TEKNOLOGI-Petani tengah menggunakan traktor di perkebunan tebu. Foto: ist

INDOPOS.CO.ID - Penerapan mekanisasi perkebunan tebu saat ini menjadi sangat mendesak. Ini mengingat kenaikan biaya produksi perkebunan dan mahalnya tenaga kerja di sektor pertanian dalam negeri. Bahkan kabarnya sudah ada paket teknologi dan diterapkan oleh beberapa perkebunan tebu di Indonesia.

Direktur Utama PT Serikat Sejahtera Utama (Dirut SSU) Bambang menegaskan, sudah saatnya perkebunan tebu di Indonesia menerapkan mekanisasi, dan ini juga sudah diterapkan pada sejumlah PT Perkebunan Nusantara (PTPN).

“Salah satunya pada Penataran Djengkol dan Sumber Lumbuh, milik Pabrik Gula Pesantren Baru. Dimana di perkebunan tersebut telah mengimplementasi mekanisasi mulai dari penyiapan lahan, pemeliharaan hingga pemanenan,” ungkap pakar mekanisasi pertanian tersebut.

Lebih lanjut, Bambang menguraikan salah satu mekanisasi yang digunakan untuk perkebunan tebu seperti di-on-farm (budidaya) ada plowing (pembajakan), planting, wed controlling, tinning, fertilizing, subsoiling hingga ratoon.

“Sedangkan mekanisasi untuk pascapanen terdapat teknologi seperti grabloader atau alat pengangkat hasil panen, dan dumper atau pengangkut hasil panen,” jelasnya.

Alhasil, lanjut Bambang, dengan alat pembajak light plowing dapat mengerjakan lahan seluas enamhektare (ha) hanya dalam tempo sehari. Lalu dengan alat caneplanter wholestalk dapat dilakukan pekerjaan kair, penanaman, tutup tanah dan pemupukan secara bersamaan dengan kapasitas kerja dua ha per hari. Kemudian dengan fertilizer applicator pelaksanaan pemupukan bisa menjadi lebih praktis karena alat ini dapat mengerjakan hingga enam ha per hari.

“Terbukti dengan menerapkan mekanisasi dapat menekan biaya operasional hingga empat juta per ha jika dibandingkan dengan cara manual. Bahkan dengan menggunakan mekanisasi mengurangi jumlah tenaga kerja,” ucap Bambang.

Tapi, Bambang mengingatkan untuk mencapai skala ekonomi, maka luas lahan lahan sebaiknya minimal untuk penerapan paket teknologi ini adalah seluas 10 ha dengan bersifat hamparan. Kemudian, agar lebih ekonomis lagi bisa dikombinasikan dengan penggunaan bibit unggul seperti klon Sejahtera 2 yang mampu menghasilkan bobot hingga 1.400 kwintal per ha dan klon Sejahtera 4 dengan produktivitas hasil bisa mencapai 1.500 kwintal per ha.

Firman Subagyo, anggota Komisi IV DPR RI mendukung penerapan teknologi mekanisasi pada perkebunan tebu. Menurutnya, jika masih sistem budidaya konvensional, maka biaya produksi otomatis akan menjadi tinggi karena menggunakan lebih banyak tenaga manusia. Sehingga penerapan mekanisasi adalah tuntutan yang harus segera diterapkan.

“Tapi untuk bisa menerapkan itu harus melakukan land consolidation (konsolidasi lahan). Sebab di banyak negara penerapan makanisasi diawali dari adanya kebijakan dibidang pertahanan. Sehingga terbentuk lahan pertanian secara hamparan yang bisa diolah secara mekanisasi yang pengelolaannya berlangsung secara kolektif,” ungkapnya.

Namun, Firman mengakui penerapan land consuludation ini di Indonesia terbentur masalah kultur masyarakat yang membuat batas-batas lahan seperti galangan. Padahal dengan teknologi citra landset batas-batas lahan bisa ditentukan.

Tetapi, lanjut Firman, jika sudah ada dorongan dari petani untuk mengembangkan perkebunan tebu ke arah mekanisasi ini berarti ada sebuah langkah maju. Artinya masyarakat tidak lagi fokus pada soal bibit atau pupuk. Sehingga dengan penerapan mekanisasi diharapkan bisa menekan produksi dan meningkatkan efisiensi.

“Hanya saja penyediaan sarana harus sesuai kebutuhan masyarakat. Alat diberikan untuk tebu harus dengan horsepower yang besar, tidak bisa traktor kecil. Sebaiknya bantuan tersebut harus dimiliki oleh Desa dan menjadi jadi aset Desa, bukan kelompok,” pungkas Firman. (adl/aro)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #perkebunan #pertanian #tebu #teknologi #mekanisasi 

Berita Terkait

IKLAN