Selasa, 18 September 2018 08:47 WIB
pmk

Ekonomi

Regulasi Fintech Jangan Terlalu Ketat

Redaktur: Redjo Prahananda

INDOPOS.CO.ID - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menyarankan pemerintah memberikan kemudahan dan perlakuan khusus untuk industri fintech. Ini juga agar fintech yang terdaftar semakin banyak sehingga kegiatannya bisa terawasi lebih optimal.

"Ngurusin fintech itu kayak main layangan. Kalau kita terlalu ketat regulasinya, inovasinya nggak akan jelas. Kalau kita juga terlalu lurus, juga nanti ada efek pengawasan lemah. Jadi harus diperbaiki ke depannya," ujarnya di Jakarta, Selasa (28/8/2018).

Menurut Bhima harus ada perlakuan yang berbeda jika ingin mendukung fintech. Sebagai contoh, perlu ada relaksasi regulasi yang memudahkan penyelenggara fintech lending untuk mendapatkan nasabah baru. Misanya dengan kemudahan regulasi tanda tangan digital.

"Perlu ada juga kejelasan regulasi terkait kolaborasi antara perbankan dengan lembaga keuangan lainnya, seperti perbankan. Tidak lupa, perlu juga ada insentif perpajakan, khususnya bagi fintech yang bergerak di sektor pendanaan produktif yang bisa memberikan efek ekonomi lebih besar," pungkasnya.

Sementara itu, CEO sekaligus Co-Founder Koinworks, Benedicto Haryono pun berharap pemerintah bisa lebih memberi kemudahan bagi fintech khususnya dalam pemerolehan izin.

Aturan soal fintech lebih ringan daripada sektor perbankan dan lebih mengarah ke hal-hal fundamental. “Ini yang menurut saya bagusnya dari regulator fokus ke hal tersebut daripada menambah peraturan-peraturan baru. Fokus pada fundamental, basic, pengawasan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), Ajisatria Suleiman menambahkan, untuk memperkuat peran fintech, tidak terkecuali dalam perekonomian, diperlukan kebijakan yang mampu menekan biaya akusisi nasabah, meminimalisasi risiko penipuan, dan dapat konsumen beriktikad baik.

“Ke depannya kami berharap risiko fraud dari nasabah palsu dan risiko gagal bayar dapat diminimalisasi dengan penguatan akses identitas berbasis biometrik dan juga akses ke layanan biro kredit,” kata Aji, Selasa (28/8).

Berdasarkan kajian INDEF bersama dengan Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), perkembangan fintech di Indonesia mampu meningkatkan PDB sebesar Rp25,97 triliun baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu, konsumsi rumah tangga mampu meningkat hingga Rp8,94 triliun. (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #regulasi-fintech #fintech #bhima-yudhistira 

Berita Terkait

Kemenko Perekonomian Siap Bantu Fintech

Nasional

Fintech Lending Bantu Salurkan Kredit Usaha Mikro

Indobisnis

OJK Belum Beri Fintech Kepastian Izin Penuh

Ekonomi

Fintech Masih Kesulitan Kerjasama dengan Perbankan

Indobisnis

Proses Pinjam Uang di Fintech Lebih Mudah

Ekonomi

IKLAN