Jumat, 21 September 2018 12:07 WIB
pmk

Headline

Jakarta Bakal Cepat Tenggelam

Redaktur:

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID – Peringatan bahwa Jakarta akan tenggelam, bukan isapan jempol belaka. Bahkan, bisa lebih cepat dari perkiraan. Kali ini peringatan itu kembali disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI, Bambang Brodjonegoro. Hal itu didapat dari data penurunan muka tanah Ibu Kota dari permukaan laut. Penyebab utamanya adalah kegiatan warga yang membuat sumur bor, karena ketidakmampuan PDAM menyediakan air bersih untuk warna.

"Kita harusnya merasa bersalah ketika ada berita di media sosial 'Jakarta adalah kota yang paling cepat tenggelam', dan itu true (benar) dan bisa jadi kenyataan. Karena muka tanah di Jakarta turun enam sentimeter per tahun," ujarnya di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, Selasa (28/8/2018).

Bambang memandang, ancaman tenggelamnya Jakarta merupakan hal serius jika melihat dari kasus banjir di Muara Baru.  Ia menilai, pada musim puncak banjir, tanggul yang didesain untuk mencegah rob di sana justru tak bisa membendung air.

"Si tanggul ini kan dibangun di atas tanah. Jadi muka tanahnya turun terus. Itu terjadi di Muara Baru. Ini serius. Ini menunjukkan kita kurang peduli pada lingkungan," paparnya.

Dari kejadian ini, Bambang berharap ekonomi pada politik periode baru tahun 2022 sampai 2024 dapat memasuki ekonomi yang hijau dan tak ingin harapannya hanya menjadi wacana. "Kami ingin menjamin bahwa energi dan ekonomi kita akan sustainable dari sisi lingkungan," tutur dia.

Peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas mengatakan, ancaman Jakarta tenggelam dalam 30 tahun ke depan tidak bisa diabaikan. Penggunaan air tanah yang begitu masif menjadi penyebab utama penurunan muka tanah yang tidak hanya akan terjadi di Jakarta Utara saja, melainkan ke seluruh wilayah DKI Jakarta.

Dia menghitung, adanya penurunan tanah setinggi 25 sentimeter setiap tahun, khususnya di wilayah-wilayah 'basah' seperti Jakarta Utara. Sementara, penurunan untuk wilayah Jakarta Barat adalah 15 sentimeter, Jakarta Timur dengan 10 sentimeter, Jakarta Pusat dengan dua sentimeter dan Jakarta Selatan dengan satu sentimeter.

"Ini adalah salah satu penurunan tanah terbesar di dunia. Kita bayangkan dalam 10 tahun penurunannya mencapai 2,5 meter," urainya saat dihubungi INDOPOS, Selasa (28/8/2018).

Heri juga menuturkan, persoalannya kembali pada kemampuan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang hanya mampu memenuhi 40 persen kebutuhan air bersih, yang juga dikonsumsi warga DKI. Sementara, sisa 60 persennya harus dipenuhi sendiri oleh warga dengan memompa air dari bumi yang lebih dalam.

Heri menemukan, saat ini tak sedikit warga yang memompa air tanah dalam karena air yang terdapat pada permukaan dangkal sudah tidak dapat dikonsumsi akibat tercemar. Bahkan perilaku ini bukan hanya terjadi oleh rumah tangga saja, melainkan juga pengelola gedung-gedung bertingkat.

Menurut data Amrta Institute, persentase penggunaan air tanah untuk memenuhi kebutuhan air di Jakarta relatif tidak berkurang selama 15 tahun. Dari tahun 2000 hingga 2015, disebutkan bahwa sebanyak 63-65 persen dari total kebutuhan air di Jakarta diambil dari bawah tanah. Angka tersebut didapat dari total air PAM yang dijual ke masyarakat (M3) dikurangi total kebutuhan air di Jakarta.

Padahal dari tahun ke tahun pendapatan pajak air tanah di Jakarta relatif stagnan dan tidak mengalami peningkatan. Direktur Amrta Institute Nila Ardhiani pernah mengungkapkan, kondisi itu mengindikasikan banyaknya penggunaan air tanah ilegal di Jakarta baik oleh industri maupun rumah tangga.  (aen)

ANCAMAN SERIUS UNTUK JAKARTA

Penurunan tanah di Wilayah:
Jakarta Utara : 25 cm setiap tahun

Jakarta Barat : 15 cm pertahun

Jakarta Timur : 10 cm pertahun

Jakarta Pusat : 2 cm pertahun

Jakarta Selatan : 1 cm pertahun

Penyebab Utama Penurunan Tanah:

60 Persen Warga Jakarta Bikin Sumur Bor ilegal

PDAM hanya mampu penuhi 40 persen kebutuhan air warga


TOPIK BERITA TERKAIT: #sumur-bor-ilegal 

Berita Terkait

IKLAN