Senin, 19 November 2018 04:40 WIB
pmk

Nusantara

Kisah Pak Eko, Polisi yang Viral (2)

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Jalan hidup Pak Eko, polisi yang viral karena ketangkasannya melempar benda tajam tidak mudah. Saat ini, bisa dibilang Pak Eko sudah sukses. Sudah jadi perwira dengan menyandang tiga balok di pundak. Siapa yang menyangka, sebelum viral seperti sekarang, perjuangan Pak Eko sebagai polisi diraihnya dengan peluh keringat.

Sosok polisi yang memiliki gelar dan nama lengkap Ajun Komisaris Polisi (AKP) P Eko Hari Cahyono ini memang begitu humble. Saat ditemui di Pusdik Sabhara Polri Porong Sidoarjo, Eko banyak tersenyum. Ditanya soal kisah hidupnya hingga menjadi seorang korps Bhayangkara, Eko malah tertawa lebar. ”Saya ini beruntung. Enam kali daftar bintara baru keterima,” cerita Eko.

Pikiran Eko menerawang jauh ke masa lampau. Awalnya tidak mudah untuk menggapai cita-citanya sebagai polisi. Sejak kecil, dia memang bercita-cita menjadi polisi. Impian itu tidak terlepas dari peran sang ayah yang juga berprofesi sebagai polisi. ”Ayah saya dinas terakhir di Magetan. Sekeluarga, cuma saya yang mengikuti jejak beliau,” ujar sulung dari enam bersaudara tersebut.

Sebagai anak pertama, Eko sadar bahwa dirinya menjadi salah satu tumpuan bagi adik-adiknya. Oleh sebab itu, dia selalu bekerja keras. Berusaha mewujudkan impiannya.

Namun untuk menggapai mimpinya, Eko harus menemui jalan terjal. Berulang kali seleksi digelar, Eko selalu gagal. Sembari menggantung cita-citanya, Eko tetap berjuang untuk hidup.

”Nguli sampek dadi cleaning service tau tak lakoni Mas (kuli sampai jadi cleaning service pernah saya jalani mas),” tutur polisi yang asli orang Ponorogo ini.

Eko sejatinya tidak berjodoh dengan Jawa Timur. Dia tidak pernah lolos seleksi polisi di Jawa Timur. Dia nyaris patah arang. Jika ada kemauan dan kerja keras, selama apapun hasilnya, Tuhan pasti akan memberikan jawaban. Prinsip itu terus dipegang Eko.

Hingga akhirnya, saat batasan akhir usia sebagai syarat administrasi pendaftaran polisi, Tuhan mengabulkan doa-doa Eko. Dia diterima jadi polisi pada usia 25 tahun. ”Diterimanya justru di Kalimantan. Di Banjarmasin,” kata Eko.

Tentunya rasa lega bercampur syukur dirasakan Eko. Dia bisa membanggakan keluarga, sekaligus melanjutkan profesi sang ayah. Setelah menjadi polisi, Eko ditempatkan di Pusdik Sabhara Polri Porong. ”Tahun 1990 jadi polisi, dari awal dinas sampai sekarang, ya di sini terus,” terangnya.

Rupanya tantangan dalam hidupnya itu bukan sekadar sampai pada pendaftaran bintara. Saat mendaftar sekolah perwira, Eko melaluinya dengan tidak mudah. Dia mengaku sampai empat kali mendaftar hingga akhirnya lolos.

Dia mengambil hikmah dari setiap proses yang dilalui. Kegagalan yang membuatnya terus berjuang. Tanpa gagal, Eko mungkin akan berleha-leha. Bisa jadi Eko tidak akan seperti sekarang. Garis takdir Tuhan tidak ada yang bisa menebak, termasuk Eko sendiri.

Di Pusdik Sabhara Polri itu pula, Eko bertemu dengan belahan jiwanya. Istrinya, Ipda Isro’iyah, adalah teman satu lettingnya yang kini berdinas di Mapolsek Porong.

Bisa jadi tanpa kerja kerasnya, orang tidak akan mengenal Eko. Netizen seluruh Indonesia, mungkin saja juga tidak akan mendengar jargon ”Masoook Pak Eko!”. ”Apa yang sudah saya lalui semua, membuat saya lebih bersyukur. Proses yang saya dapat gak gampang, kuncinya tidak mudah menyerah,” tegas Eko. (did/jpc/ind)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks 

Berita Terkait

IKLAN