Kamis, 20 September 2018 04:34 WIB
pmk

Nasional

Perjuangan Kru Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga demi Korban Gempa Lombok

Redaktur:

MISI KEMANUSIAAN: Kru RST Ksatria Airlangga di Pelabuhan Bangsal, Lombok. UMAR WIRAHADI/JAWA POS

INDOPOS.CO.ID - KEBERADAAN Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga sangat membantu korban gempa yang mengalami patah tulang. Namun, sebelum sampai di Lombok, harus melewati perjalanan mendebarkan di Selat Bali. 

UMAR WIRAHADI, Lombok Utara

SEORANG pria terbaring ringkih di atas tempat tidur. Tubuhnya tak bergerak. Itu efek bius yang diberikan oleh tim medis. Sebab, tak lama lagi dokter melakukan tindakan operasi kepada si pasien yang mengalami patah tulang itu.

Meski tidak sadar, tubuh pria 35 tahun tersebut tampak terayun-ayun di atas ranjang. Terombang-ambing. Bukan karena gempa bumi. Itu adalah efek gelombang air laut yang berdebur di Pelabuhan Bangsal, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Maklum, korban gempa tersebut menjalani operasi di rumah sakit sum kapal laut, RST Ksatria Airlangga.

Pada pukul 16.00 Wita, pasien yang bernama Fathurrahman tersebut akhirnya selesai menjalani operasi patah tulang pergelangan kaki kanan. Tindakan selanjutnya adalah pencucian luka.

Tim medis dan relawan memungkasi tugas dengan memasang gips di kaki kanan korban. ”Operasi sudah selesai,” ujar dr Ghuraba Adisurya, salah seorang dokter yang bertugas, Kamis (23/8) lalu.

Pasien pun langsung dipindahkan ke ruang pemulihan. Setelah sekitar 30 menit di ruang itu, warga Desa Medana, Kecamatan Tanjung, KLU, tersebut dipulangkan dengan ambulans. Tentu saja ke tempat pengungsian. Sebab, rumahnya runtuh gara-gara gempa bumi 5 Agustus lalu.

”Setiap hari seperti ini. Pasien datang dan pergi. Tidak bisa diinapkan karena ruangan terbatas,” papar Direktur RST Ksatria Airlangga dr Agus Harianto SpB.

Fathurrahman adalah satu di antara puluhan pasien patah tulang yang dioperasi di RST Ksatria Airlangga. Hingga Kamis sore lalu, sudah ada 32 pasien yang ditangani. Seluruhnya korban gempa bumi yang menderita patah tulang.

Bahkan, ada pasien yang sampai diamputasi. Sebab, luka yang diderita dikhawatirkan menyebar sebagai virus ke tubuh pasien. ”Masih amputasi jari tangan, bukan tangan atau kaki. Mudah-mudahan tidak ada. Kasihan,” ujar Agus.

Untuk sampai ke Pulau Lombok, perjuangan RST Ksatria Airlangga tidak gampang. Butuh tekad baja. Bahkan, pertaruhannya antara hidup dan mati.

Kapal kayu pinisi itu menghadapi ombak ganas saat berlayar. Terutama saat melintasi Selat Bali. Ketinggian ombak 2–3 meter. Sebelum berlabuh di Pelabuhan Bangsal, kapal pinisi yang berbobot 200 gross tonnage itu terombang-ambing di laut lepas.

”Demi misi kemanusiaan, kami sebagai kru kapal rela (menantang badai, Red),” ucap Agus.

Dokter spesialis bedah itu menceritakan, semangat pendirian rumah sakit terapung tersebut memang memberikan pelayanan kesehatan ke daerah-daerah terpencil. Terutama di Indonesia Timur.

”Apalagi, ada gempa bumi dengan jumlah korban sangat besar. Kami harus hadir,” ujarnya.

Kepergian ke Lombok itu tidak terlepas dari keputusan dr Agus Harianto SpB. Awalnya, Agus hendak berangkat ke Lombok dengan pesawat pada Selasa sore tiga pekan lalu (7/8). Dia dikirim sebagai dokter spesialis bedah oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Pria berpenampilan nyentrik itu pun sudah check in dan masuk ke ruang tunggu Bandara Internasional Juanda. Selang beberapa menit sebelum panggilan masuk pesawat, hatinya tiba-tiba gundah. Pikirannya berkecamuk. Tidak plong.

Seketika itu juga dia memutuskan untuk keluar dari bandara. Dia langsung menuju Pelabuhan Kalimas, Surabaya. Tempat kapal pinisi RST Ksatria Airlangga yang setara dengan rumah sakit tipe C disandarkan.

Dia langsung menghubungi kapten kapal Mudatsir. Hari itu juga Agus dan kapten menghubungi Syahbandar Tanjung Perak, Surabaya. Meminta izin untuk berlayar ke Pulau Lombok.

Berdasar hasil pemeriksaan, pihak syahbandar menyatakan bahwa kapal itu layak layar. Kondisi kapal secara keseluruhan bagus. Kondisi mesin hingga radio komunikasi juga baik.

Hanya, izin pelayaran tidak sampai ke Lombok. Cuma sampai Pelabuhan Probolinggo. ”Padahal, tujuan kami adalah Lombok,” tutur Mudatsir, sang kapten.

Pihak Syahbandar Tanjung Perak tetap pada keputusannya. Itu tidak terlepas dari kondisi cuaca yang buruk. Gelombang di Selat Bali dan sekitarnya setinggi 2–3 meter.

Akhirnya, ada sedikit keringanan. Yakni, izin berlayar sampai Lombok harus diurus di Pelabuhan Probolinggo. Jadi, bergantung Pelabuhan Probolinggo, mengizinkan atau tidak.

Izin berlayar dari Tanjung Perak keluar Rabu (8/8). Karena gelombang laut sangat tinggi, kru memutuskan untuk menunda pelayaran. Mereka pun berangkat Kamis (9/8) pukul 05.30. Pelayaran di Laut Jawa berjalan lancar. Hari itu juga, pukul 12.30 WIB, kapal bersandar di Pelabuhan Probolinggo.

Di pelabuhan kecil tersebut, mereka kembali mengurus izin untuk pelayaran ke Lombok. Mereka pun diizinkan untuk kembali berlayar.

Sebetulnya, menurut Mudatsir, pihaknya ingin berlayar hari itu juga. Namun, gelombang laut sangat membahayakan untuk kapal kayu seperti RST Ksatria Airlangga. Baru Jumat (10/8) pukul 02.00 kapal kembali berlayar. Nakhoda sengaja berangkat pagi-pagi agar bisa mendarat di Pelabuhan Bangsal, Lombok, secepatnya.

Yang paling mendebarkan, mereka rasakan saat melintasi Selat Bali. Gelombang tinggi. Persis seperti yang disampaikan Syahbandar Tanjung Perak.

Badan kapal yang memiliki panjang 27 meter dan lebar 7,2 meter itu terombang-ambing di tengah laut. Bahkan, berkali-kali percikan ombak sampai masuk ke ruang nakhoda. Dek kapal basah oleh air laut.

”Saya periksa bagian dek, air juga masuk,” tutur Agus.

Saking tingginya gelombang, Agus dan kru waspada. Siap-siap jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Namun, RST Ksatria Airlangga akhirnya bisa terus melaju. Dan, tiba di Pelabuhan Bangsal pada Sabtu (11/8) pukul 07.00.

Seluruh kru kapal pun bisa bernapas lega. Namun, mereka kaget. Papan nama dengan tulisan ”RS Terapung Ksatria Airlangga” yang menempel di lambung kapal pecah.

”Ini baru kami sadari saat nyandar di sini (Pelabuhan Bangsal, Red). Kami berkesimpulan ombaknya memang tinggi,” tutur Agus yang pernah bertugas di pulau-pulau kecil Maluku selama 10 tahun.

Ternyata perjuangan itu tidak sia-sia. Sejak kapal medis tersebut berlabuh di Pelabuhan Bangsal, para pasien korban gempa terus berdatangan. Silih berganti. Kehadiran rumah sakit terapung sangat berarti bagi para korban gempa bumi. ”Kami berani karena keyakinan. Kehadiran kapal ini memang sangat dibutuhkan saudara-saudara kita,” kata dokter yang murah senyum itu. (*/c11/ttg/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #gempa-lombok #gempa-bumi 

Berita Terkait

Dewa Rama ‘Gurmeet Choudhary’ Salurkan Bantuan ke NTB

Indotainment

Dewa Rama ‘Gurmeet Choudhary’ Salurkan Bantuan ke NTB

Indotainment

Bantuan Presiden Belum Bisa Cair

Nusantara

IKLAN