Kamis, 22 November 2018 01:26 WIB
pmk

Headline

Gempa Kecil Juga Sumbang Penurunan Tanah Jakarta

Redaktur:

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID –  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah melakukan pembicaraan serius dengan Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi penurunan muka tanah di Ibu Kota. Peneliti Geologi dan Pertambangan LIPI Rachmat Fajar Lubis mengatakan, penyebab penurunan muka tanah di Jakarta oleh empat faktor. Di antaranya pengambilan air tanah yang berlebihan.

Faktor lain, menurut Fajar, karena adanya proses pemadatan lapisan tanah secara alamiah. Hal ini disebabkan tanah di Jakarta relatif muda secara geopsy. Sehingga tanah di DKI terus mengalami pemadatan. 

“Pemadatan alamiah ini diperparah dengan pembangunan gedung bertingkat yang terus menerus. Beban tanah menjadi semakin berat,” ujar Rachmat Fajar Lubis kepada INDOPOS, Rabu (29/8).

Faktor lainnya, masih ujar Fajar adanya gempa-gempa kecil yang sering mengguncang Jakarta. Gempa tersebut hanya berkekuatan di bawah 1 Skala Richter (SR). Namun, karena itu telah berlangsung bertahun-tahun telah menyumbang penurunan tanah di Jakarta.

“Riset penurunan tanah selama ini baru menyentuh faktor penggunaan air tanah,” terangnya.

Fajar menegaskan, Pemprov DKI harus lebih intens melakukan penelitian penyebab penurunan tanah yang disebabkan oleh gempa, pemadatan dan beban pembangunan gedung bertingkat. Sehingga, Pemprov DKI bisa membuat kebijakan yang mendukung pencegahan penurunan muka tanah di DKI.

Data dari LIPI menyebutkan, secara terus menerus permukaan muka tanah Jakarta terus mengalami penurunan. Di wilayah Jakarta Utara, pada tahun 1990-2007 penurunan hingga 30 CM, tahun 2007-2009 hingga 4,3 CM, tahun 2009-2010 hingga 2,3 CM, tahun 2009-2011 hingga 1,4 CM, tahun 2011-2012 hingga 0,5 CM, tahun 2012-2013 hingga 1,2 CM, tahun 2013-2014 hingga 1,2 CM, tahun 2014-2015 hingga 0,9 CM dan tahun 2015-2016 penurunan muka tanah hingga 0,8 CM per tahun.

“Kalau ingin hentikan penurunan muka tanah, Pemprov DKI harus melakukan penelitian pada faktor-faktor yang lain,” katanya.

Fajar menuturkan, kebijakan larangan penggunaan air tanah oleh Pemprov DKI cukup membuahkan hasil. Di beberapa tempat permukaan air tanah di Jakarta mengalami kenaikan. Namun, permukaan tanah terus mengalami penurunan.

“Jadi saya khawatir kalau Pemprov DKI tidak melakukan penelitian pada faktor: gempa, pemadatan dan beban pembangunan gedung bertingkat, maka penurunan muka tanah terus terjadi,” ungkapnya.

Lebih jauh Fajar menyebutkan, faktor air tanah berdasarkan penelitian IPB menyumbang penurunan muka tanah hingga 30 persen. Sementara berdasarkan penelitian LIPI menyumbang hingga 50 persen.

“Kami curiga faktor pemadatan menyumbang penurunan muka tanah lebih besar di Jakarta,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Dinas (Kadis) Sumber Daya Air (SDA) DKI Teguh Hendrawan mengatakan, untuk mencegah penurunan muka tanah di Jakarta, Pemprov DKI telah mengeluarkan larangan penggunaan air tanah. Kebijakan tersebut sangat berfungsi vital sebagai sarana pengendali banjir dan ketersediaan air baku di Jakarta.

“Kami sebagai aparat menjaga, merawat dan memelihara tanah. Karena tanah merupakan aset,” ujarnya.

Ia menyebutkan, untuk menjaga air tanah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) larangan penggunaan air. Regulasi ini salah satu solusi untuk menanggulangi kemiringan tanah di Jakarta.

“Cara menyetop penurunan ini, ya dengan penyetopan pengambilan air tanah,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Utama PAM Jaya Erlan Hidayat mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Jakarta pihaknya melakukan pemasangan sambungan baru ke GOR Ciracas dan Equistrian, serta melakukan perbaikan instalasi dalam di GOR Tanjung Priok, Gelanggang Remaja Jakarta Utara dan GOR Bulungan.

“Buka tutup mampu memberikan tambahan suplai air baku bagi PAM Jaya,” ujarnya.

Selain itu melakukan koordinasi dengan pihak Perum Jasa Tirta II (PJT II) dan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) untuk sama-sama memelihara kecukupan level air baku pada Saluran Tarum Barat mengingat 81persen air baku Jakarta berasal dari Waduk Juanda yang dialiri melewati Saluran Tarum Barat.

Hal yang sama diungkapkan Dirut PAM Jaya Erlan Hidayat. Ia menjelaskan, akan meningkatkan pemanfaatan air baku di Kanal Banjir Barat melalui penerapan teknologi Moving Bed Bio Reactor (MBBR) dengan memanfaatkan mikroba untuk mengurangi amoniak terkandung dalam air baku sehingga memperbaiki kualitas untuk diolah lebih lanjut.

“Kami juga akan optimalkan suplai air dengan mengatur alokasi dan tekanan air dari Instalasi Pengolahan Air 1, pembangunan Booster Pump (pompa tekan) dan Reservoir Sunter yang berlokasi di seberang Taman BMW, Jalan Sunter Permai Raya, Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok Jakarta Utara,” katanya. (nas)

4 FAKTOR PENURUNAN TANAH JAKARTA

 

1.Pengambilan air tanah yang berlebihan

2.Proses pemadatan lapisan tanah secara alamiah, karena tanah di Jakarta relatif muda secara geopsy

3.Pembangunan gedung bertingkat yang terus menerus.

4.Gempa-gempa kecil yang sering mengguncang Jakarta.

 

LANGKAH PEMPROV

 

1.Menerbitkan Perda larangan penggunaan air.

2.Pemasangan sambungan baru ke GOR Ciracas dan Equistrian

3.Perbaikan instalasi dalam di GOR Tanjung Priok, Gelanggang Remaja Jakarta Utara dan GOR Bulungan.

4.Koordinasi dengan Perum Jasa Tirta II  dan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), untuk sama-sama memelihara kecukupan level air baku pada Saluran Tarum Barat.

5.Meningkatkan pemanfaatan air baku di Kanal Banjir Barat melalui penerapan teknologi Moving Bed Bio Reactor (MBBR).

6.Optimalisasi suplai air dengan mengatur alokasi dan tekanan air dari Instalasi Pengolahan Air 1,

7.Pembangunan Booster Pump (pompa tekan) dan Reservoir Sunter di seberang Taman BMW, Jalan Sunter Permai Raya, Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok Jakarta Utara

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #gempa-bumi 

Berita Terkait

Puan Apresiasi Pasukan Siaga Bencana NTB

Nasional

Tanah Labil, Rawan Gempa Bumi

Megapolitan

Kota Palu Terbanyak Korban Meninggal Gempa Sulteng

Headline

Pascagempa Sulteng 4 Daerah Masih Terisolasi

Headline

Yang Tersisa dari Musibah Tsunami di Sulawesi Tengah

Nasional

BNI Bangun 400 Huntara di Daerah Bencana

Nusantara

IKLAN