Kamis, 20 September 2018 03:53 WIB
pmk

Nasional

Nicke Widyawati yang Terpilih sebagai Dirut Pertamina

Redaktur:

Nicke Widyawati. Foto: istimewa

INDOPOS.CO.ID - TEKA-TEKI siapa yang akan menjabat Direktur Utama PT Pertamina, akhirnya terjawab sudah. Presiden Jokowi memutuskan menunjuk Nicke  Widyawati. Mewujudkan kemandirian energi nasional salah satu prioritas yang diembannya. 

Deri Ahiriyanto, JAKARTA

Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pada Rabu pagi (29/8) lebih ramai dari biasanya. Puluhan mobil berderet parkir di sana. Selain itu, para awak media juga berdatangan ke kantor Rini M. Soemarno. Itu terkait telah diputuskannya sosok pengganti Direktur Utama Pertamina, Elia Massa Manik, yang sempat lowong selama 4 bulan.

Presiden Joko Widodo memutuskan menunjuk Nicke  Widyawati menjadi Direktur Utama PT Pertamina. Sebelumnya, Wanita kelahiran Tasikmalaya, 25 Desember 1967 adalah Plt Dirut Pertamina.

Selama menjadi Plt, Nicke memang tidak terlalu konfrontatif. Tugas dari pemerintah untuk BBM satu harga dijalankan tanpa mengeluh Pertamina akan rugi. Sikapnya itu membuat pemerintah tidak tinggal diam. Melalui Kementerian ESDM yang dipimpin Ignasius Jonan, Pertamina akhirnya diberikan sejumlah pengelolaan blok terminasi.

Namun begitu, Nicke juga tetap membuat Pertamina menjadi perusahaan profesional. Terbukti dalam persaingan mengelola Blok Rokan Riau, dengan PT Chevron PT Chevron Pacific Indonesia, Pertamina akhirnya memenangkan lelang. Penawaran yang diajukan perusahaan BUMN tersebut lebih tinggi.

Pertamina akan mengelola blok migas terbesar di Indonesia, yang produksinya  lebih dari 200 ribu barel perhari, dan gas sekitar 24,26 MMSCFD.

Selain Nicke,  rapat pemegang saham Rabu (29/8/2018), yang ditetapkan Berdasarkan KEPUTUSAN RUPS SK 232/MBU/08/2018 tentang Pengalihan Tugas, Pemberhentian, dan Pengangkatan anggota-anggota direksi perusahaan perseroan (Persero) PT Pertamina, juga mengangkat Dharmawan Samsu (BP) sebagai Direktur Hulu dan  Koeshartanto sebagai Direktur SDM.

Usai pengangkatan tersebut, Nicke kemudian meladeni para awak media yang sudah sejak pagi menunggunya di Kantor Kementerian BUMN. Ia menegaskan, akan membawa Pertamina  ke arah kemandirian energi nasional.

"Bagaimana caranya, perlu penjabaran  ke hulu, penjabaran ke kilang bagaimana. Dan penjabatan Ke hilir bagaimana.  Namun dari keseluruhan ini, adalah sebetulnya Pertamina sebagai perusahaan BUMN yang bergerak di bidang oil and gas di negeri ini, memang harus berperan sangat dominan di dalam pemenuhan kemandirian energi nasional," ujar Nicke, Rabu (29/8).

Menurutnya, itu tantangan berat sekaligus peluang. Karena banyak yang bisa dilakukan untuk peran tersebut. "Investasi juga tantangan. Bagaimana meningkatkan produksi di hulu, kapasitas kilang, dan untuk meningkatkan kualitas dan kompetitif di hilir itu semua membutuhkan investasi," jelasnya. Lebih lanjut Nicke mengatakan, ada tiga hal yang diamanatkan oleh pemerintah. Yang pertama adalah harus mengurangi impor, implementasinya harus direalisasikan di  semester II 2018.

Pengurangan impor sebagaimana diketahui dengan membeli produksi migas yang dihasilkan Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS). "Kemudian kedua adalah memulai pembangunan kilang. Ketiga implementasi  B20. Itu sudah harus dimulai tahun ini," jelas Nicke.

Ditanya soal "kursi panas" yang diembannya, menyusul seringnya pergantian dirut Pertamina, Nicke mengatakan, jabatan adalah kewajiban. "Saya lebih fokus kewajiban atau tugas apa  yang harus saya jalankan. Mengenai berapa lama saya kerja, itu bukan kewenangan saya. Tapi niatnya adalah menjalankan tugas dan kewajiban sebaik mungkin. Itu saja," tegasnya.

Saat ditanya apa alasanya sehingga Presiden Jokowi mempercayakannya menjadi Dirut Pertamina? Nicke mengatakan, apa yang sudah dilakukan itu penilaian pemerintah dan pemegang saham. Saat ini ia langsung fokus bekerja.

"Seperti membangun Kilang di  Balikpapan. Kemudian di Tuban. Itu target tahun ini. Yang lainnya Cilacap dan sebagainya  akan kita garap Termasuk klarifikasi ulang bagaimana kelanjutan,” kata dia.

Ditambahkan, mereka harus bicara dengan  partner di Cilacap. “Kilang di balikpapan, sudah siap. Lahan sudah, semua sudah. Itulah kunci kenapa kita bisa maju. Kita lakukan sendiri, paralel kita akan mencari partner.  Kami tidak akan menunggu sampai ada partener. Karena kita sudah ketinggalan terlalu lama. Jadi kita harus kerjakan," beber Nicke.

Saat ditanya para wartawan apakah tidak khawatir cepat didepak seperti pendahulunya? Nicke menegaskan  niatnya bekerja untuk nusa dan bangsa.

"Ketika saya memutuskan bekerja di BUMN, saya harus siap ditempatkan atau ditugaskan dimana saja. Ini tugas dari negara yang harus dijalankan dimanapun dan sebagai apapun. Karena saya memutuskan bekerja di BUMN," ujarnya.

Nicke menambahkan, adanya Pertamina adalah  menyediakan energi untuk masyarakat dengan harga terjangkau. Kemandirian energi nasional. "Dari hulu produksi harus naik Dari kilang kapasitas harus naik dari hilir menyediakan energi untuk rakyat dengan harga terjangkau dan mudah aksesnya.  Menjalankan kewajiban itu kepada masyarakat kepada nusa dan bangsa itu fokus utama kita," pungkasnya. Kiprah Nicke di BUMN memang cukup lama. Sejumlah jabatan pernah diembannya. Seperti di  PT PLN (Persero) sebagai Direktur Pengadaan Strategis 1 PLN. Lulusan Hukum Bisnis, Universitas Padjadjaran (S2) tahun 2009 dan Teknik Industri–ITB (S1) tahun 1991 juga pernah bekerja di  di PT Rekayasa Industri dan pernah menjabat sebagai Vice President Corporate Strategy Unit (CSU) (2007 2010).  Pada 2013,  ia juga  memenangkan Anugerah Perempuan Indonesia 2013 dari Kementerian BUMN. Serta dan penghargaan Women's Work of Female Grace 2013 Indonesia dari Indonesia Asia Institute.

Sementara, Deputi Menteri BUMN Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media Fajar Harry Sampurno mengatakan, untuk posisi Direktur Utama PT Pertamina, memang harus mendapatkan persetujuan Presiden. Menurutnya, ke depan ada usulan jabatan dirut Pertamina jangan sering diganti.  "Untuk yang beberapa waktu lalu, kalau kita bicara mengenai perusahaan di public company, itu biasa saja. Setiap tahun dari RUPS pergantian direksi. Pertamina kemarin kosong 4 bulan, cukup mengevaluasi. Semua pertimbangan,” jelas Fajar.

Dikatakan, calon yang diajukan ke Presiden Jokowi, selain dari dalam BUMN, juga dari luar. “Saya tidak menyebutkan siapa nama calon-calonya. Namun yang memilih untuk Dirut  itu memang kewenangan Presiden," pungkasnya.  (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #dirut-pertamina #bumn #pertamina 

Berita Terkait

Hobi Gonta-ganti Direksi BUMN

Headline

IKLAN