Rabu, 14 November 2018 10:54 WIB
pmk

Banten Raya

Napi Cukongi Sindikat Narkoba

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Badan Narkotika Nasional (BNN) dan BNN Provinsi Banten membongkar sindikat pengedar narkotika di Tangerang yang dikendalikan (dicukongi) Napi Rutan Salemba.  Dalam penangkapan itu, disita sejumlah paket besar sabu, ribuan pil ekstasi serta seorang pengedar. Omset penjualan jaringan ini ditaksir mencapai Rp120 miliar lebih.

Deputi Pemberantasan Narkoba BNN, Irjen Pol Arman Depari mengatakan kasus peredaran narkoba kelas kakap ini bermula saat pihaknya bersama BNNP Banten menerima informasi adanya pengiriman paket ekstasi dan sabu dari wilayah Dumai, Riau ke Kota Tangerang. Dari informasi tersebut kemudian jajarannya bergerak dan membongkar paket pengiriman narkotika golongan satu ini di Indo Cargo Expres, Jalan Garuda Baru, Kecamatan Ceper, Kota Tangerang, Senin (27/8) lalu.

“Saat penangkapan itu salah satu pelaku bernama Mulyadi berhasil kami amankan. Paket narkoba tersebut diterima Mulyadi dari salah satu napi di Rutan Salemba berinisial AN. Mulyadi bertugas menjemput dan mengirimkan kembali paket tersebut ke sejumlah bandara yang memesan. Sindikat AN dan Mulyadi ini sudah berjalan dua atau tiga bulan terakhir. Modus operandinya menggunakan jasa pengiriman barang untuk pengiriman antar pulau,” kata Arman kepada INDOPOS, Rabu (29/8).

Arman menjelaskan, timnya berhasil menyita barang bukti sejumlah paket narkoba yang akan diedarkan Mulyadi di Kota Tangerang berupa tujuh plastik biru berisi paket sabu seberat 7 kilogram dan 13 bungkus plastik berisi 65.000 butir pil ekstasi. Paket narkoba yang diterima Mulyadi itu hendak disimpan di AN yang berdomisili di Jalan Anggaran Nomor 52, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang. “Paket ini nilainya diperkirakan ini mencapai puluhan miliar. Mau diedarkan ke beberapa daerah dan paket besar ini akan dipecah lagi oleh Mulyadi atas instruksi AN,” paparnya.

Atas perbuatannya, Mulyadi dijerat pasal 114 ayat (2), pasal 112 ayat (2) dan Pasal 132 ayat (1), Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika. Sales bir di Kota Tangerang ini terancam hukuman mati. BNN dan BNNP Banten masih melakukan penyelidikan kasus tersebut dengan berkoordinasi dengan Rutan Salemba.

Diakui Arman belakangan ini kasus penyelundupan narkotika di tanah air meningkat karena terjadinya hiruk pikuk politik di Indonesia dan tempat penyimpanan dan transaksi barang haram ini selalu dari Kota Tangerang yang telah ditetapkan sebagai zona merah narkotika. “Diharapkan semua instansi tetap berkomitmen untuk memberantas narkoba. Belakangan ini cukup banyak peningkatan peredaran narkoba dengan berbagai modus operandi,” imbuhnya.

Pengamat Kepolisian, Bambang Widodo Umar menyatakan menjamurnya pabrik narkoba di Kota Tangerang disebabkan daerah ini berbatasan dengan jalur laut dan udara. Selain itu, mobilitas masyarakat ke Jakarta membuat pendirian pabrik itu makin mudah.

“Secara geografis memang kondisi Tangerang ini sangat strategis untuk dibangun pabrik. Persoalannya kebanyakan warga juga kerja di Jakarta, jadi tidak terlalu memperhatikan lingkungan. Sisi utara berbatasan dengan laut dan dibagian barat terdapat bandara internasional. Jadi memang ini yang menjadi penentu para pelaku membangun pabrik itu, karena pilihan jalur transportasi juga,” tuturnya.

Bambang menyarankan, Mabes Polri dan BNN menambah jumlah personil mereka di dua daerah itu. Sebab, kata dia, untuk memberantas narkoba jaringan antar pulau dan luar negeri serta lapas membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dengan begitu, maka pemberantasan dan perang terhadap barang haram di tengah masyarakat akan mencapai hasil yang memuaskan.

Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah menyatakan, sangat mengapresiasikan kinerja BNN dan BNNP Banten dalam membongkar kasus peredaran narkotika di wilayahnya tersebut. Pemkot Tangerang telah bekerja sama dengan kepolisian dan lembaga penegak hukum lain dalam memberantas peredaran barang haram ini.

“Kami dukung usaha pihak kepolisian untuk terus mengungkap kasus narkoba. Inikan telah menjadi komitmen kami dalam memberantas narkoba. Namun itu semua tak cukup karena memang perlu keterlibatan semua pihak, terutama pihak kepolisian dan BNN karena yang berhak untuk menangani persoalan ini kan mereka,” ucapnya.

Ditambahkan Arief, Pemkot Tangerang berharap dengan terungkapnya beberapa kasus narkoba tersebut dapat meminimalisir peredaran narkoba di wilayahnya. Dirinya juga mengajak seluruh masyarakat untuk terlibat dalam pemberantasan narkoba. Karena tanpa masyarakat maka pemberantasan peredaran sabu di kota ini tidak akan mencapai hasil maksimal.(cok)

Kasus Narkoba di Tangerang

-    Polres Bandara Soekarno-Hatta menggerebek pabrik pil PCC di Kavling DPR RT006/002, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang beromset Rp9,2 miliar. 

-    Polres Metro Jakarta Barat menggerebek pabrik sabu Clandestine di Perumahan Metland, Jalan Katliya Elok II, Nomor 12B, Kecamatan Cipondoh. Polisi menyita 1 kilogram sabu, 3.200 butir pil Neo Napacine warna pink, 5.000 butir tablet Neo Napacine warna putih, dan beberapa alat pembuat sabu.  

-    Polrestro Tangerang juga mengerebek sebuah rumah di Jalan Prambanan, Kecamatan Cibodas. Empat pengedar ditangkap dan disita 15 paket ganja kering seberat 15 kilogram dan 99 gram sabu.

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #narkoba 

Berita Terkait

IKLAN