Rabu, 19 September 2018 08:38 WIB
pmk

Headline

Awas, Dolar Bisa Tembus Rp 15 Ribu Awal 2019

Redaktur:

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika sejak tiga hari ini terus melemah. Kurs tengah rupiah dikutip dari Jakarta interbank spot dollar rate (JISDOR) pada Kamis (30/8/2018) berada di level 14.655. Diperkirakan dolar bakal tembus Rp 15 ribu rupiah pada awal 2019 mendatang. Hal itu karena tekanan global dari kenaikan Fed rate meningkat, perang dagang AS China, dan ketidakpastian harga minyak mentah.

Namun begitu menurut Direktur Riset  Center of Reform on Economy (CORE) Indonesia Pieter Abdullah, pelemahan rupiah masih wajar. "Semua negara juga melemah nilai tukarnya terhadap dollar. Jadi pelemahan rupiah saat ini masih dalam taraf yang wajar," ujar Pieter, Kamis (30/8).

Menurutnya  melemahnya  rupiah masih sama penyebabnya. Yakni sumber tekanannya adalah ketidakpastian global. Perang dagang AS-China.  Juga ada krisis di Turki dan saat ini di Argentina.

"Selain itu The Fed pada bulan September ini  juga  akan menaikan suku bunga. Itu tentu juga akan mempengaruhi rupiah," jelas Pieter. 

Kondisi itu menurutnya, bisa ‘memaksa’ Bank Indonesia untuk kembali menaikan suku bunga acuan.  Padahal belum lama ini juga BI sudah melakukannya. Rapat Dewan Gubernur  BI pada 14-15 Agustus 2018 memutuskan untuk menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen,

"BI saat itu harusnya  tidak perlu menaikan suku bunga acuan, saat Lira Turki terpuruk. Sebab masih ada kemungkinan The Fed akan menaikan suku bunganya," jelas Pieter.

Dalam kondisi  ketidakpastian menurutnya, dapat menimbulkan spekulasi. Membuat mereka yang punya dolar akan menahan dolarnya. Yang butuh dolar akan segera membeli dolar. 

"Bahkan yang tidak butuh akan membeli. Supaya itu tidak terjadi, kuncinya adalah meyakinkan pasar.

Sejauh ini, itu sudah dilakukan oleh pemerintah dan BI. Yakin saja apa yang sudah dilakukan," jelas Pieter.

Pihaknya kata dia, juga mengapresiasi langkah yang telah dilakukan pemerintah. Termasuk yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini. Yakni  mewajibkan pemakaian  B20 mulai 1 September 2018. Dapat menghemat devisa negara.

"Jadi upaya meyakinkan pasar itu yang harus ditunjukan pemerintah. Tidak panik. Menjelaskan ke masyarakat soal rupiah dan sebagainya.  Memang agak membosankan. Sebab itu lagi, itu lagi. Tapi memang harus dilakukan," beber Pieter.

BI juga harus menjelaskan, intervensi yang dilakukannya di pasar valuta asing dan SBN itu efektif.  "Tidak harus rupiah menguat. Bahwasanya rupiah tertahan di 14.600

Kalau tidak dilakukan, pelemahannya semakin dalam. Jadi  yang sekarang dilakukan adalah menahan. Pengusaha tidak mau juga rupiah langsung menguat. Tapi terukur," jelas Pieter.

Misalnya kalau  kalau mendekati posisi  Rp15 ribu, namun terukur. Sehingga pengusaha juga bisa antisipasi

"Kalau naik turunnya tajam, justru itu malah tidak baik. Jadi pelemahan rupiah saat ini sekali lagi menurut saya masih dalam tahap yang wajar," beber Pieter.

Menurutnya, apa yang terjadi di negara emerging market itu beda-beda. Kondisi Indonesia dibandingkan negara lain cukup baik. "Saat ini ada kiris di Turki dan Argentina. Pemerintah harus lebih yakin. BI penuh keyakinan. Semua kondisi semua diatasi. Krisis yang terjadi di Turki dan Argentina tidak akan menjalar ke sini. Fundamental ekonomi kita kuat," jelasnya.

Termasuk melakukan intervensi di pasar valas yang dilakukan BI. Walaupun itu menguras cadangan devisa, BI tetap harus menjelaskan.

"Cadangan devisa itu seperti tabungan kita. Kalau perlu dipakai. Nanti ditabung lagi. Jadi tidak masalah kalau dipakai," pungkasnya.

Untuk diketahui  pada Januari 2018, Cadev tercatat USD 131,98 miliar

Namun pada akhir Juli 2018 sebesar USD 118,3 miliar. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menegaskan,  cadev dalam posisi aman.  Setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Kami tegaskan cadangan devisa yang dimiliki  BI masih lebih dari cukup. Membiayai impor, utang dan memitigasi kemungkinan lainnya," jelasnya belum lama ini.

Sementara itu Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef)  Bhima Yudhistira mengatakan terus melemahnya rupiah bukan tidak  mungkin menembus 15 ribu di awal 2019.

"Hal itu karena tekanan global dari kenaikan Fed rate meningkat, perang dagang AS China, dan ketidakpastian harga minyak mentah," ujarnya Kamis (30/8).

Selain itu lanjut Bhima, dari sisi domestik konsumsi rumah tangga melambat, defisit transaksi berjalan dan defisit perdagangan naik.

Permintaan dolar untuk pembiayaan bunga dan cicilan pokok utang swasta dan pemerintah juga memberatkan rupiah. Dampaknya kalau rupiah terus merosot akan membuat daya beli masyarakat anjlok. Karena biaya impor pangan naik dan kenaikan harga jualnya dibebankan ke masyarakat.

"Bagi industri manufaktur biaya produksi dan beban utang luar negeri semakin menjerat. Potensi gagal bayar utang swasta bisa memperparah stabilitas sektor keuangan," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah mengatakan, tekanan terhadap Rupiah  dipicu oleh revisi data PDB AS triwulan II. Yakni dari 4,1 persen menjadi 4,2 persen.  Kemudian langkah Public Bank of China (PBoC) memperlemah mata uang Yuan di tengah negoisasi sengketa dagang AS dan China yang belum tercapai, serta melemahnya mata uang Argentina Peso dan Lira Turkey. 

"Hari ini Bank Indonesia berada di pasar untuk memastikan pelemahan Rupiah tidak cepat dan tajam. Bank Indonesia juga masuk ke pasar SBN melakukan stabilisasi," jelasnya Kamis (30/8/2018). (dai)

PERGERAKAN DOLAR TERHADAP RUPIAH

Kamis (30/8) :  Rp 14.655

Rabu (29/8) : Rp 14.663

Selasa (28/8) : Rp14.614 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #harga-dolar 

Berita Terkait

Saving Rendah karena Ada Kebocoran

Headline

Jokowi Harus Jujur soal Kegagalan Ekonomi

Headline

Rupiah Mulai Menguat, Butuh Kritik Mahasiswa

Headline

Senjata Pamungkas Jokowi-Ma’ruf

Headline

IKLAN