Senin, 19 November 2018 04:42 WIB
pmk

Nasional

Kisah Para Penggiat Lingkungan Hidup yang Dianugerahi Kalpataru 2018

Redaktur:

KEBANGGAAN- Juwari dan I Made Madriana saat menerima Kalpataru. RIZNAL FAISAL/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - CERITA para pejuang lingkungan hidup kini seolah semakin tak populer. Padahal, keikhlasan dan pengorbanan mereka yang tanpa pamrih patut menjadi teladan. Inilah kisah inspiratif para pejuang lingkungan hidup tersebut.

RIZNAL FAISAL, Bitung, Sulut

RAUT wajah Juwari terlihat ceria. Sembari duduk santai di kursi, kakek berkulit hitam legam itu mendekap erat sebuah piala berbentuk pohon berwarna emas yang dibingkai kaca. Inilah trofi yang menjadi impian banyak penggiat lingkungan hidup. Anugerah Kalpataru.

“Ini kehormatan bagi saya. Saya bekerja ikhlas untuk menghidupi keluarga dan warga  desa yang umumnya petani,” kata Juwari kepada INDOPOS usai menerima anugerah Kalpataru 2018 yang diserahkan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution pada Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2018 di Kawasan Wisata Alam (KWA) Batu Putih, Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (10/8/2018).

Perjuangan petani yang tinggal di Dusun Nawungan, Desa Selopamioro, Kabupaten Bantul, Jawa Tengah, tak lah mudah. Sebagai petani,  pria berusia 59 tahun itu mengandalkan hidupnya dari ketersediaan air untuk lahan pertaniannya. Tapi, kondisi topografi lahan dengan kemiringan 30 derajat dan tanah berapis batu cadas menjadi momok baginya.

Saat musim kemarau panjang, air akan semakin sulit diperoleh sehingga mereka tidak dapat bertani. Masalah ini memang sudah membelit Juwari dan petani desa disana sejak lama.

“Selama ini kita hanya bergantung dari air hujan. Tak ada sumber air yang bisa mengairi sawah kami,” ujar  lelaki lima anak tersebut.

Tahun 2002, Juwari menginisiasi sebuah ide besar. Ia memanen air hujan dan menampungnya dalam embung. Awalnya, dia bersama warga desa di sana membuat sejumlah embung (kolam), yang bisa menampung 60 meter kubik – 300 meter kubik air hujan.

“Selain menampung air hujan, embung itu bisa untuk memelihara ikan,” ujar kakek satu cucu itu.

Singkat cerita, kerja keras Juwari dan petani di sana berbuah manis. Embung yang mereka buat akhirnya bisa menjadi sumber air untuk mengairi 120 hektar areal sawah milik 450 kepala keluarga. Lahan pertanian yang semula hanya bisa ditanami setahun sekali, menjadi tiga kali setahun.

Namun, Juwari dan para petani di Dusun Nawungan juga tak gegabah. Sebab, meski air sudah tak menjadi masalah, mereka harus mensiasati serangan hama tanaman. Untuk memutus rantai hama, mereka membuat pola tanam sendiri. Yaitu, satu musim menanam padi, dua musim palawija (kombinasi bawang merah, seledri, sawi, kacang tanah dan tanaman semusim lainnya).

Tak hanya itu, mereka bahkan sudah punya jalan keluar agar embung tetap berisi air bila terjadi kemarau panjang. “Kita ambil air dari sumur bor bila tidak ada hujan,” kata ketua kelompok tani Lestari Mulyo itu.

Lantaran tak hanya bisa bergantung dengan air hujan, Juwari dan warga desanya juga mencari jalan lain. Menyadari air hujan hanyalah salah satu cara agar kebutuhan air untuk kehidupan dan lahan pertanian terpenuhi, untuk menjamin ketersediaan air diperlukan langkah penyelamatan sumber mata air.

Mereka memutuskan untuk menyelamatkan  empat sumber mata air desa dan melakukan penghijauan lahan kritis seluas 35 hektar. Kegiatan penghijauan diawali dengan membuat pembibitan tanaman hutan dan buah-buahan di lahan pribadi milik Juwani.

“Upaya penghijauan ini telah meningkatkan debit air di dua kolam penampungan mata air hingga 90 persen. Saat ini tekah difungsikan kermbali sebagai sumber air minum,” kata Juwari bangga.

Kini, Juwari telah berhasil membawa ratusan warga di sana keluar dari belitan masalah. Mereka pun kini bisa memanen padi 10 ton per hektar/musim, setara Rp 4,5 juta dan bawang 18 ton per hektar/musim, setara Rp 220 juta. Hasil ini membuat warga di sana secara ekonomi bisa hidup dengan layak. Sukses inilah yang membawa Juwari menjadi pahlawan lingkungan hidup.

“Saya berharap apa yang kami lakukan di Dusun Nawungan dan Desa Selopamioro bisa menjadi inspirasi bagi petani di daerah krisis air,” ujarnya.

Cerita tak kalah inspiratif dilakukan I Made Madriana. Sekitar 2012, penduduk Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Bali, ini merasa prihatin melihat 24 ekor sapi putih milik desa dalam kondisi kurus dan tak terawat.

Sebab, jenis sapi ini merupakan hewan sakral bagi masyarakat Hindu Bali dan komunitasnya, hanya ada di Taro. Diyakini sebagai pelinggihan Dewa Siwa yang disebut Lembu Ngadini. Selama ini, sapi putih hidup liar  di hutan adat bernama “Alas Puakan” di dalam kawasan Pura Agung, Gunung Raung Taro.

Apalagi, setiap upacara  umat Hindu Bali, sapi putih merupakan sarana penting dan dipercaya mampu memberika]an energi positif terhadap berlangsungnya rangkaian upacara. Sebagai hewan suci milik dewa, seharusnya diperlakukan dengan sopan dan hormat. Tapi, sejak tahun 1970 hingga 2010, keberadaan sapi putih cukup memprihatinkan.

Sebab itu, Made lalu mengajak teman-temannya, sekitar 30 orang, membentuk perkumpulan, bernama Sekedemen, yang kemudian  menjadi Yayasan Lembu Putih Taro. “Awalnya, kami mengumpulkan dana secara swadaya untuk membangun monumen, berupa patung sapi putih. Setelah patung berdiri, kami pun menggelar rapat setiap hari Minggu di bawah patung,” ujarnya.

Dari rapat-rapat itulah muncul pencerahan. Mereka pun sepakat secara swadaya memelihara lembu desa yang dibiarkan liar agar dikandangkan. Sapi yang tadinya kurus tak terawat, belakan gan menjadi sehat. Sapi-sapi langka itu pun berkembang biak.

“Kini populasinya sudah 50 ekor,” kata lelaki 52 tahun itu.

Belakangan aksi sosial mereka mendapat bantuan dari sebuah LSM, Indonesia Power. Puncaknya, mereka mendapat anugerah Kalpataru karena telah berhasil melindungi sapi putih dari ancaman kepunahan.

“Pelestarian lembu putih kini telah berkembang menjadi wisata edukasi religius,” ujar guru sebuah SMP swasta itu.

Selain, Juwari dan Made dengan Yayasan Lembu Putih Taro-nya, ada 8 penerima anugerah yang sama dari berbagai katagori. Perjuangan mereka bisa menjadi teladan bagi penggiat lingkungan hidup di tanah air. (*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #penghargaan #boks 

Berita Terkait

IKLAN